Copet Itu.......

Kudapati tubuhku terbaring lemah di pembaringan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Putih... ruangan itu putih semua, benda-benda yang ada di situ pun tampak terang, dominan warna putih di ruangan itu. Aku bingung sendiri, dimana aku? Kucoba bangkitkan tubuhku, terasa sakit di seluruh tubuhku, kuraba wajahku, ada benjolan di dahi dan bibir, ada balutan perban di pelipis sebelah kiriku. Aku hanya meringis menahan sakit. Kuperhatikan lagi seluruh keadaan seluruh tubuhku, lebam di sana - sini. Kembali kuedarkan pandanganku, kuraba semua kantong celanaku. Hilang...!! dompetku, HP ku, tasku!!? Apa yang terjadi...?

***

Sekali lagi kuperiksa dompetku begitu sampai di Stasiun Senen. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat teman-temanku selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, Jakarta adalah kota besar yang memiliki banyak macam tingkah polah manusia, dari yang baik sampai yang jahat, dari yang tinggal di apartemen sampai yang tinggal di kolong jembatan, dari orang yang bisa mengaku waras sampai orang yang mengaku gila.ya, kebaikan sangat tipis jaraknya dengan kejahatan. Andi salah satu temanku yang pernah ke Jakarta pernah kecopetan di dalam bus.

”Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet” kata Andi beberapa waktu lalu, meskipun kemudian hari di ketahuinya si pencopet tidak lain adalah orang yang satu kampung dengannya.

Kulanjutkan langkahku.Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di ibukota negara Indonesia ini. Aku berjalan di Pasar Senen. Kuanggukkan kepalaku pada seorang pedagang asongan yang tampaknya sedang ngaso.

“ Monggo mas..” kataku. Pedagang itu hanya menoleh kemudian melanjutkan pekerjaannya. “Ah.., inikan Jakarta! Nggak pake’ “monggo” mestinya” aku bicara dalam hati. Aku tersenyum sendiri. Kulanjutkan langkahku. Sebelum akhirnya kulihat bus arah Ciputat.

Di dalam bus itu aku tak mau lengah, meskipun cape’ yang kurasa saat ini. Tak ingin aku kecopetan seperti yang dialami Andi. Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.

“Adik mau kemana?” Tanya ibu itu.

“Ciputat, bu. UIN” sahutku.

Ibu itu tersenyum. Mungkin ibu itu menertawakan logatku yang Jawa banget
Kuperhatikan ibu itu. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.
Lagi-lagi pesan Andi terngiang di telingaku.

“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan Andi menjelang keberangkatanku.

“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Apalagi kamu cewek, takut kalau kamu kena hipnotis nanti,” lanjut Andi lagi.

Aku maklum dengan kecemasan Andi yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi ke Jakarta. Kalau pergi paling hanya di sekitaran Jogja. Maklum, aku hanya tahu Jogja meskipun sekarang kota itu sudah banyak mengalami perubahan, namun bagiku tetap berhati nyaman. Tapi kali ini aku terpaksa ke Jakarta, Aku dapat kesempatan mengikuti kuis di salah satu stasiun televisi swasta dan harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing. “Iya, tidak usah khawatir,” sahutku pada Andi singkat.

***

Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.

“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.

“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang”. Kutolak halus tawaran Ibu itu. Aku ingat pesan Andi agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.

“Astaghfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.

Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi.

Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.

“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.

Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.

Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.

Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.

Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.

Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia. Tapi bukankah banyak penjahat sekarang berpakaian rapi?

“Mau ke ciputat, Mbak?” tanyanya sopan.

“Iya, Mas,” sahutku ringan.

“Mas mau ke ciputat juga?” Aku balik bertanya.
Laki-laki itu mengangguk.

“Saya mau menjenguk saudara saya di Ciputat,” katanya.

Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.
Bus berhenti.

Kuraba saku celanaku, hapeku masih ada. Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.

“Kenapa, Mbak?”.

“Oh…eh… anu..., Tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya laki-laki itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang selalu memeriksa tas.

“Anu-mu emangnya kenapa?” Laki-laki itu bertanya sambi tersenyum ke arahku. Aku jadi serba salah. Kupingku agak panas mendengar pertanyaannya. Mungkin wajahku saat itu bersemu merah, karena malu.

“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.

“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya,” lanjut laki-laki itu lagi.

Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet, ungkapku dalam hati.

***

Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di ciputat. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 09:00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.

Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di UIN. Aku tak ingin siska terlalu lama menunggu kedatanganku di UIN Jakarta. Siskalah satu-satunya temanku waktu SMA yang melanjutkan kuliah dijakarta. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.

“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.

“Terima kasih, Dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.

Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran Andi tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.

Bus sudah memasuki Pondok Indah. Bus kembali berhenti. Beberapa penumpang naik. Tak lama bus itu jalan lagi.Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.

Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal lebak bulus. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Ibu ibu hamil itu pun handak turun pula tampaknya. Aku segera mengisi bangku kosong yang ditinggalkan ibu itu. Namun ibu itu tak juga turun meskipun sudah di depan pintu. Ia tampak nya kebingungan, kuperhatikan gerak geriknya, tiba-tiba tanpa kuduga sebelumnya ibu itu menudingku.

“Copet... “ Teriaknya mengejutkanku.
Penumpang yang lain sontak melihat kearahku, merekapun beraksi
Aku tak bisa mengelak ketika sebuah pukulan melayang di tengkukku.

“Periksa tasnya..”, Teriak ibu itu

“nggak nyangka, cantik-cantik maling...”Teriak yang lain sembari memberikan pukulan dan tendangan kearah tubuhku.

“Lihat kantongnya” Teriak sang sopir dari depan.

“Aku bukan copet... bukan...” Aku membela diri sambil menghindari pukulan yang bertubi-tubi dari penumpang yang lain. Namun cengkraman seorang pemuda di tanganku semakin membuatku tak berdaya. Tas di tangan ku pun hilang entah kemana.

“Buk” Sebuah tendangan keras mendarat tepat di ulu hati. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan. Jambakan, pukulan tendangan tak bisa kuhindari, tak ada yang mau menolongku. Hanya kebencian dari wajah mereka begitu melihatku. Penglihatanku menjadi kunang-kunang. Satu pukulan lagi mendarat di bibirku, darahpun keluar. Aku tersungkur, penglihatanku berkunang-kunang dan kemudian tak ingat apa-apa lagi.

Yogyakarta, '09

2 komentar:

Irwan Bajang mengatakan...

wiiihh...tragis betul nasip manusi di negara kita ini..
cerpen yang dahsyat, kawan..
makasih kunjungannya...salam salam

wins... mengatakan...

emang tragis bung..., thanks komennya

Poskan Komentar

 

Copyright © sastra bocah lali omah