LELAP DALAM HENING

ada gerimis yang terberai malam ini…
dapat kucium aromanya  di tengah rebahmu…
kesedihan apa yang kaurasa aku tak tahu,
entah tiba-tiba turut menusuk hingga ke relungku
aku tak tahu apa yang terjadi padamu saat ini..
ada sedih yang tersirat di setiap desah nafasmu..
ada rasa sakit yang coba kau tahan..
ada kegelisahan yang coba kau sembunyikan..

sejenak aku ingin memelukmu…
ingin menghiburmu...
perlahan mulai kubelai rambutmu yang tergerai…
kugenggam jarimu… dan..,

ah… sudahlah…
aku tak peduli dengan apa yang terjadi…
aku hanya ingin mempercayaimu..
bersandarlah padaku saja,
genggamlah jemariku saja…
anjakkan kehangatan mengiringi senyapmu..
biarlah walau sekejap aku ingin kau lelap dalam heningmu...
nyenyaklah di tidurmu..
hanyutlah dalam mimpimu...
karena aku masih di sisimu..

Yogyakarta,  14 oktober 2016

Baca Selengkapnya...

Sssttt…

kita terjebak dalam kebekuan…
kesunyian yang menyimpan seribu tanya
lalu kita hanya memaki waktu
sedang kebisuan tak mampu memburu waktu

lagi dan lagi kau hadir di sini
menemani senyap yang terasa semakin pekat
entahlah, kita jalani saja..
nikmati keheningannya

dan tiba-tiba kau memecah sunyi
suaramu terasa berat..
dan lagi, kau menanyakan kesediaanku…
ah, aku mungkin membisu hati…
mulut terkunci…

karena kau takut itu tak pasti..
maaf, bila diamku ini menyakiti..
entahlah, kulihat matamu berkaca-kaca
dan aku merasa diburu
karena itu diamku sendiri kerap menghantui
aku sendiri tak mampu walausekedar bersandiwara..
untuk memungkiri perasaan ini
tapi apalah daya,
situasai seperti memakiku untuk menahan diri..

sssttt… diamkan saja

Jogjakarta, 12 Oktober 2016

Baca Selengkapnya...

Dan Lagi

Berisik kucing menyeruak diiringi rerintik hujan yang menyahdu seibarat orkestra yang menyemai malam. Di sudut kamar dengan udara pengap akibat bersekutu dengan asap rokok yang mengitari seisi ruangan, seorang lelaki tengah bermenung. Terbayang dengan jelas di pelupuk matanya seorang wanita yang baru saja dikenalnya. Awalnya hanya pertemuan singkat yang hanya cukup untuk sekedar berbasa-basi. Tak ada kesan istimewa dalam pertemuan dan juga ajang perkenalan itu. Namun cerita pun berturut, waktu pun memaksa mereka untuk selalu bersama. Entah apa, sesuatu selalu ada yang mengharuskan mereka selalu berjumpa.

Pikiran-Pikiran tak jelas mulai berkecamuk di kepalanya, gadis yang dikenalnya melalui seorang teman  itu terus membayang di kepalanya. Apakah akibat kejombloannya yang sudah menahun?  Ataukah  wanita itu memang begitu memesonanya? Bisa juga karena syahwat belaka! Atau juga karena memang tak ada suatu hal apapun di pikirannya sehingga hanya wajah gadis itu yang berkelebat di kepalanya? Entahlah. Apa sebab, ia terpesona bahkan dalam kesendiriannya hingga pikirannya melanglang buana entah kemana, dan mendadak mati akal saat mereka jumpa.

Seiring waktu perasaan itu pun terus mengganggunya. Ada rasa curiga, cemburu, marah, namun iya hanya diam, tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia terjebak dalam labirin yang bahkan ia tak tahu di mana pintu masuknya apalagi pintu keluarnya, tiba-tiba sudah berada di belantara membeluntas yang membuatnya terasa semakin jauh. Ya, ia merasa terjebak dalam pikirannya sendiri.

***
Aku dipermainkan olehmu. Apakah dirimu mengerti dan memahami perasanku.atau kau sengaja memanaskan suasana hatiku? Bahkan hanya dalam sekelebatan waktu kau bilang ingin jadi kekasihku, tiba-tiba seorang pemuda yang jauh lebih muda hadir mengusik keasyikanku. kupaksakan sendiri, cukuplah bagiku dengan melelapkan diri. Tapi itu tak cukup,  mendadak aku mual. Bukan! Bahkan aku tak yakin jika karena nasi goreng yang kau buatkan untuk sarapanku itu yang menyebabkan masalah di perutku. Kegelisahan yang membucah, mengharuskanku melakukan ritual di kamar mandi.  Aku mual karena melihat polahmu bersama pemuda itu,  maaf. Ah, Seonggok cerita dan seupil cinta.Aku ingin memaki sunyi yang menyelinap di relungku. Aku ingin ingin berteriak hingga serak hinggamendahaga pilu. Aku ingin pergi dari situasi yang menjebakku ini. Tapi siapa aku? Bukankah aku tak memberi kepastian padamu?

Ah, bisa jadi dirimu sendiri terjebak dalam situasi yang tak menguntungkan ini. Dan lagi,  kau datang menghampiri, menggodaku seperti biasa, perasaan gugup pun menyambangi. Aku lagi-lagi kehilangan akalku. Benarkah aku jatuh hati? Ya, aku sendiri terjebak dalam pikiranku, gelisah yang memaksaku untuk menahan diri, tak mengungkapkan perasaanku. Padahal aku meyakini perasaanku lebih besar dari perasaan yang kau miliki, dan sialnya yang lebih besar itulah yang paling lemah.

Haruskah kukatakan ‘ya, oke, baiklah’? Bukankah aku pun memiliki rasa yang sama? Bukankah ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’? Bila kuturuti seperti itu apa jadinya aku ini. Atau aku pura-pura tak tahu sandiwara apa yang sedang terjadi ini.

Apa yang  harus kulakukan?

ada getar yang begitu menggebu saat kau hadir mengusikku
mungkin kau tak tahu…
mendadak  otakku seperti membeku, dada bergemuruh menggelora,
lidahpun serasa kelu dan mati rasa
saat kaubilang ingin jadi pacarku,ah…

aku sendiri tak tahu apa yang harusnya terjadi
polahku, kuharap kau menyadarinya 
gelisah,  hanya memaki sunyi

kuyakinkan ‘kupun jatuh hati
atau itu sekedar  imaji hingga aku bertanya...
apakah aku hanya pelarian kegelisahan  hatinya…
apakah aku hanya pelampiasan dendam amarah  gejolak jiwanya…
ataukah memang begitu adanya
kau mengatakan jatuh cinta
sedang aku sendiri sadar bahwa aku pun menaruh suka

maaf, aku masih awam soal cinta

***

Hari pun bersambut pagi. Tapi lelaki itu tak juga menjemput mimpi, ditahannya kantuk yang menyerang berkali-kali. Ia memendam rasa, berharap ada cerita indah dari lantai mati, senyum gadis yang menggoda hati. Ulah nakal embun yang coba mengangkangi pagi, menyelinap lewat ventilasi, menyisakan gelisah yang semakin menjadi-jadi.  Dibiarkannya semilir angin yang membawa dingin sisa hujan semalam menyambangi. Lelaki itu hanya mendekap gerimis dalam kegalauan.

Kotagede, 11 Oktober 2016

*untukmu, yang sudah dengan senang hati mau memboncengi domba
Baca Selengkapnya...

APA YANG HARUS KULAKUKAN?*

ada getar yang begitu menggebu saat kau hadir mengusikku
mungkin kau tak tahu…
mendadak  otakku seperti membeku, dada bergemuruh menggelora,
lidah pun serasa kelu dan mati rasa
saat kau bilang ingin jadi pacarku,ah…

aku sendiri tak tahu apa yang harusnya terjadi
polahku, kuharap kau menyadarinya
gelisah,  hanya memaki sunyi

kuyakinkan... ‘kupun jatuh hati
atau itu sekedar  imaji hingga aku bertanya
apakah aku hanya pelarian kegelisahan  hatinya
apakah aku hanya pelampiasan dendam amarah  gejolak jiwanya…
ataukah memang begitu adanya
kau mengatakan jatuh cinta
sedang aku sendiri sadar bahwa aku pun menaruh suka

maaf, aku masih awam soal cinta

G’bol , 7 oktober 2016

*untukmu, yang dengan senang hati mau memboncengi domba


Baca Selengkapnya...

Lagu : Tikus Berpesta

kemiskinan dipelihara
diskriminasi rakyat jelata
sesuap nasi demi perutnya
semakin hari makin sengsara

   korupsi merajalela
   kongkalingkong di mana-mana
   korupsi makin menggila
   tikus-tikus berpesta-pora

   korupsi merajalela
   nyanyian sumbang di pintu istana
   dana siluman bergentayangan
   mengangkangi moral penguasa

yang kaya semakin rakus
yang miskin bertambah kurus
ketimpangan semakin nyata
sejahtera hanya cerita

   korupsi merajalela
   rakyat kecil dirampas haknya
   korupsi makin menggila
   sang jelata hilang nafkahnya

   korupsi di mana-mana
   para binatang berpesta-pora
   jangan tutup mata telinga
   rakyat murka kau kan binasa

Baca Selengkapnya...

Lagu : REZIM BONEKA

Tanah dirampas
upah dipangkas
pendidikan dan kerja
tinggallah cita-cita

jutaan rakyat
hidup sengsara
hidup sejahtera
tak kunjung nyata

ini ulah siapa
ulah rezim boneka
ini kerja siapa
kerja rezim boneka

rezim boneka
adalah sumber derita
rezim boneka
hanya ciptakan sengsara

rezim boneka
musuh kita semua
rezim boneka
kita lawan bersama

sok nasionalis
antek imperialis
di waktu krisis
semakin fasis

manis berjanji
tak ada bukti
terus membodohi
tiada henti

ini ulah siapa
ulah rezim boneka
ini kerja siapa
kerja rezim boneka

rezim boneka
adalah sumber derita
rezim boneka
hanya ciptakan sengsara

rezim boneka
musuh kita semua
rezim boneka
kita lawan bersama
Baca Selengkapnya...

Membual Basi

Mengapa kita masih saja
Berceloteh membual basi
Tentang demokrasi
Tentang eloknya negeri

Dengan bangga bercerita
Negeri ini kaya-raya
Tanah ini tanah surge
Rakyat hidup sejahtera

Ho.. ho.. hoo…
Ho.. ho.. hoo…

Kudengar jerit di sana
Jerit luka sang jelata
Di sela gemulai tawa
Meriah pesta penguasa
Masihkah membual saja
Melihat segala penindasan
marilah kita bangkit melawan
lontarkan suara perlawanan

Cipt: Wins
Baca Selengkapnya...

Perut Buncit

Hei, perut buncit
Menghisap darah rakyat
Berdalih mengentaskan kemiskinan
Rakyat celaka karena ulahnya


Hei, orang pintar
Di sana-sini kau berkoar
Tapi ternyata kelakuanmu makar
Kebijakanmu tak pernah benar
Rakyat pun semakin lapar

Reff:
Hooo.. matamu hijau berkilau-kilau
Bila melihat dana segar terhampar
Hooo.. matamu buta semakin gulita
Bila melihat derita sang jelata

Cipt:  Dipay, Wins, Ajee, Wans
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah