Aku Harus Pergi




Sejak aku kembali ke sini..
Hanya rasa sakit yang menyambangi..
Ya, entahlah.. Hingga kini rasa sakit itu tak juga berkurang..

Ya Rabb.. Kenapa anugerah cinta yang kau berikan.. Hanya memberi rasa sakit.. Yang tak kunjung hilang..

Ah, luka yang kudapati.. Hanya semakin membuat hati ini kian merana...
Kenapa kau tak bisa bicara.. Ya, jujur apa adanya.. Bahkan setelah tak lagi bersama pun kau masih mengingkari..
Hmm.. Ya, basa basi..

Waktu yang kulalui terasa begitu berat...
Bahkan kau pun seperti tak sudi lagi menemui.. Aku tau, kau ada waktu untuk bertemu.. Tapi.. Ah, mungkin rindumu sudah benar-benar basi..
Sungguh, Sakit.. Yang Bertubi-tubi..

Mungkin yang terakhir kali..
Aku ingin bertemu denganmu.. Menatap wajahmu...
Mungkin akan menjadi penawar rindu dan dan luka di hatiku..
Tapi, kau mungkin berat hati..
Kau menghindari..

Ah, sudahlah..
Kita mungkin tak perlu bertemu lagi.. Biarkan kucari sendiri penawar rasa sakitku ini..
Biarkan aku pergi.. Agar tak membebani..
Sudah seharusnya aku pergi..
Mungkin laut akan benar-benar bisa setidaknya mengurangi rasa sakitku..
..
Ah, aku tak begitu berharap kau kembali padaku.. Cukup sekali aku meminta itu.. Toh kau sudah ada pengganti..
Dan waktu sudah menjawab segala dugaku..
Ketidakjujuranmulah yang benar-benar membuatku terluka..

Aku hanya berharap buatmu..
Dia benar-benar yang terakhir kali.. Setialah dengan pilihanmu.. Tak perlu kau berlari lagi..  jujurlah pada nurani sendiri... bersiaplah dengan segala apa yang mungkin terjadi.. Jangan menghindar lagi.. Dan aku sadar kau pernah berkata seperti itu padaku.. Aku yang terakhir.. Tapi.. Kau ingkari.. Ya, dan kali ini harus kau tepati..

Ya, kau harus bahagia dan setia dengannya..harus..

Dan sudah seharusnya aku tak meratapi diri..
Karenanya...
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Cerita indah darimu takkanlah pernah basi...
Biarlah terukir namamu di hati..
Walau aku tau..
Aku harus pergi sebelum kau benar-benar permisi..

Yogyakarta, 19 Agustus 2017
Baca Selengkapnya...

APALAH AKU INI

ah, ada apa aku ini.
mungkin tak ada harapan lagi..
pupus sudah segala yang dimimpi..
sudah selayaknya kuikhlaskan saja dia pergi..
tapi sialnya di dini hari yang kian menyepi ini..
lamunanku tentangnya tak juga menepi :


bisa saja dia sudah ada calon penggantiku..
ya, lebih menjanjikan..
lebih berjuang tuk dekat dengannya.. 
dan ya, tentu aku kalah..
dan sepertinya harus mengalah..
apalah yang nak diharap lagi..

otak picikku pun berseliweran akan hal yang tak pasti:
aku mungkin hanya jadi kekasihnya di masa lalu saat dia merasa sepi..
saat tak ada orang yang peduli..
tapi kini, mungkin dia sudah merasa menang.. juga, selesai sudah segala urusan..

masih dengan kepicikanku:
kini, banyak orang yang menantinya 'tuk mendapatkan perhatiannya..
lalu gayung pun bersambut diapun membalas perhatian mereka,
entah bisa saja dia mengatakan sebagai sopan-santun belaka..
lalu dia akan merasa bangga karena orang-orang itu berlomba untuk mendapatkan hatinya.
ya, dan peranku mungkin hanya sebagai piguran.. hahaha tak terlalu istimewa;
jadi untuk apa mempertahankanku..
dan ceritapun berturut, jalan kian terbuka karena keputusanku.. ‘selesai’
dia sudah jadi bukan siapa-siapa lagi bagiku..
dan aku, aku sudah jadi masa lalu..
karena 'cinta' mungkin adalah sepenggal kata basi baginya..

apalah aku ini..
kenapa tak bisa lari dari segala kenang tentangnya
ya, di saat waktu yang berlalu..
walau susah payah kujawab dengan lakuku..

saat aku berusaha meyakinkannya:
biarpun berjauhan, kita akan baik-baik saja.
tapi bukankah dia sendiri pernah berkata;
ldr adalah hubungan yg tak masuk akal..
lalu saat jarak bersebarang lautan memisahkan..
pernah dia minta perpisahan..
aku ketakutan, dan kuabaikan saja..
tak kurespon maunya.. 
lalu aku kembali, karena keinginannya :
bila aku tak segera kembali, terlalu banyak orang yang menggodanya..
ya, didorong karena keinginannya yang ingin berpisah walau kuabaikan..
juga karena ancaman dari para penggoda.. akupun kembali..

tapi saat aku kembali, semua terasa berubah..
aku memang cinta.. tapi hambar yang ada..
karena yang kurasa hanya curiga yang membuat luka..
dan sialnya situasi seakan mendukung untuk perpisahan..
hingga kuputuskan : selesai saja.

ah, apalah aku ini,
mungkin hanya segelas air penawar dahaganya..
biarpun aku sudah menemani di saat dia kesepian..
saat dia dalam kesendirian..
saat tiada yang peduli..
bahkan dia berkata:
'orang yang di masa kecilku dulu selalu membelaku,
sekarang sudah kecewa padaku dan tak lagi mau percaya aku'
dan aku meyakinkan diri untuk peduli padanya..
untuk mempercayainya,untuk setia menemani..
juga urusannya.. ya, menerima apa adanya..

dan kini keadaan sudah berubah.. :
sangat masuk akal bila orang perlahan mulai memercayainya..
dan untuk apalagi bila bersamaku dia hanya akan merasa terkekang..
walau aku sendiri tak yakin sudah mengekangnya..
toh, dihadapanku pun dia bisa berbuat semaunya..
ya... dia harus bebas, keputusanku sudah memberi jalan terbuka baginya..
walau aku tau, aku akan tetap menaruh rasa cemburu..
hingga kuyakinkan diri dan sudah sepantasnya untuk tak lagi memata-matai, 
lagi pula hanya akan membuatku lebih sakit hati..

dan aku salah menerka :
kukira waktu akan menyelesaikan semuanya..
kukira dia akan memahaminya..
dan semua akan baik-baik saja seperti sedia kala..
tapi ternyata waktu hanya memberiku siksa..
tapi ya sudahlah, kuharap ini akan memberinya rasa merdeka..

apalah aku ini,
ya, itu semua itu mungkin cara picikku mengungkap kecewa..
harus kuakui aku pun merasa tersakiti dengan pikiran-pikiranku yang dangkal seperti itu..
sebegitu burukkah dia...
atau memang begitu seperti yang orang-orang katakan tentangnya..

TIDAK,  aku tak mau menganggapnya seperti itu..
itu menyakitinya, bahkan memukulnya dalam canda pun aku tak mau..
biarpun dengan setangkai bunga.

dia sudah mengajarkanku ‘cinta’ yang takkan terlupa,
karena cinta yang gila seperti ini baru kurasakan dengannya.
alangkah naifnya bila cinta yang begitu indah rusak hanya karena pikiran dangkal itu.
aku mungkin tak tahu cinta sejati seperti apa bentuknya..
kujalin cinta dengannya dari waktu-waktu berlalu..
dan tetap mencintai dia adalah caraku melanglang buanakan hatiku..
dia harus bangga.. walau tak lagi bersama dia tetap dicinta..

sekarang tinggal aku sendiri..
ya, aku harus lari dari ketidakwarasan ini..
aku merasa disudutkan sang waktu..
walau aku sudah berlari dari zona nyamanku..
tapi sang waktu tak mampu memahami.. 
mungkin aku akan lebih terpuruk lagi..
karena aku sadar, tak mudah bagiku untuk jatuh cinta lagi..
ya, karena salahku..
dia pun tak lagi percaya dengan laki-laki..
hmm, layak untuk dinanti.

apalah aku ini,
kenapa aku menulis semua ini..
dia bukan siapa-siapa lagi..
dan ah.. tetap saja, sulit bagiku memaki..


9 agustus 2017
Baca Selengkapnya...

Jengah

Seorang lelaki gondrong. Kurus. Dibalik penampilannya yang urakan nan garang, tersembunyi hati melankolis gadis perawan, hidup pula.  Lelaki itu jatuh cinta pada seorang wanita yang lebih berliku akan kehidupan, berbuah dan matang dengan urusan cinta.  Mereka berjumpa di persimpangan kota besar. Hiruk pikuk dunia telah menyeret mereka pada kegetiran hidup. Alunan percintaan mereka mulai bersama terik matahari dan ganasnya aspal kota. Sepanjang jalanan kota telah merasakan alunan genjreng Gitarnya. Senar putusnya sudah tercecer di berbagai tempat sampah, jika ia sempat membuang ke tempat sampah. terkadang senar putusnya, ia hanyutkan, sebagaimana menghanyutkan kenangan yang sunyi.

Perjalanan rasa mereka lalui, seperti aliran darah dalam urat nadi. Cinta mereka telah menjadi suplai energi. Hari-hari penuh lagu kemesraan. Kemesraan ini tidak boleh berlalu. Harom. Begitulah jargon mereka. Pada sebuah epos kemesraan, mereka seperti menemukan titik nadzir, mereka harus menghadap pada sebuah kenyataan bahwa mereka harus berpayung hukum. Nilai-nilai kemesraan tak sanggup lagi membuat mereka terus bersama, kecuali dalam keadaan diam-diam. Kota besar tetaplah kota besar. Namun ada tata nilai kemanusiaan yang telah disepakati. Berdakwah secara diam-diam boleh saja. Tapi, membina rumah tangga tanpa payung hukum, takkan mudah. Benturan-benturan mulai terjadi. Dari segala arah. Ahhh menjadi males. Pejaka gondrong itu menemui ibunya di pulaunya sendiri. Semacam pulang kampung. Si wanita menyuruhnya untuk segera menemuinya. Karena bunga-bunga rindu yang terus rendam, nyaris saja membusuk, jika dibiarkan berlarut, ia akan membusuk di ranjang kesepian.

Atas desakan rindu yang bergelayut dalam darahnya. Gitaris gondrong yang telah menabur lagu-lagu di sepanjang trotoar kota pun kembali menemui wanita itu. tapi sayang, angin yang hinggap di rambut pejaka gondrong itu terlalu berat, angin itu membuat tubuhnya linglung, bersemayam angin yang membeku. Ia seperti tak mampu untuk sekedar berjalan lebih jauh lagi. Ia pun bertahan di kamarnya seorang diri. Saat Si wanita menyuruh datang ke rumahnya, pejaka gondrong itu tak sanggup untuk menemuinya.

“Kau memang datang. Tapi bunga-bunga rindu telah basi. Akibat angin yang kau bawa, akibat gelombang pasang lautmu. Lihatlah bunga-bunga rindu itu membusuk. Aku akan merasakan bagaimana pahitnya aroma bunga rindu yang membusuk, akan menjadi racun dalam hidupmu.”

Pejaka gondrong itu belingsatan. Ia teracuni aroma bunga rindu yang membusuk. Rambut gondrongnya seperti terkena air agi. Tak dapat disisirnya. Wajahnya tirus. Hari berlalu dengan sunyi. Malam ia lalui dengan penuh penderitaan. Gitarnya tak mampu membunyikan harapan-harapan dalam hatinya. Senar-senar gitarnya putus. Ia sendiri tak tahu bagaimana agar lagu-lagunya meninabobokan dirinya. Pejaka gondrong itu tersiksa. Hidup pun kian jengah. Tak tahu menambatkan hati yang teracuni pada siapa. Racun-racun rindu itu terus menelusup dalam darah-darahnya. Semuanya berdarah. Hitam. Pekat. Gelap.


MTA.  Malam Jum’at. 2017 
Baca Selengkapnya...

Maaf Cinta


maaf,
adalah kata yang pertama akan kuungkapkan di hadapmu
salahku, ya.. semua salahku.. tak peka dengan sikapmu..
tak menggugu apa katamu.. tak peduli dengan keadaanku, juga kamu..
salahku.. dengan terburu hingga kita berakhir seperti itu..

aku cemburu..
aku lelah..
aku berduka..
aku kecewa..
aku sakit..
aku terluka..
kenapa tak kukatakan saja padamu..
tapi justru semua berlalu begitu saja
hanya terpendam hingga jadi keraguan dan ketakutan yang mencekam..

aku begitu terpukul oleh sikapku sendiri..
hanya memaki diri sendiri..
egoku, terlalu memaksakan diri..
seakan semua sudah tak berarti..

bila akhir dari cinta kita seperti ini..
aku pun pasrah, apalah dayaku..
karena tak bisa jadi pendampingmu seperti yang kau ingini..
dan aku akan berusaha untuk sadar diri..
walau aku tahu beratnya hari akan selalu mengiringi..
entah apa penawar rasa sakit ini..
karena sepertinya kau pun tak lagi peduli..
entah mungkin ketidak-pedulianmu kau jadikan obat penawarmu..
karena kau pun lebih tersiksa.. karena salahku..

kusadari rasa cinta ini begitu menggebu..
terlalu kuat tertanam dan mengakar di lubuk hati..
entahlah jika ditakdirkan menyatu kembali..
lalu bersama-sama menyelami mimpi-mimpi..
menikah... kita mungkin bisa merencanakan dengan siapa saja..
tapi tak dapat kita rencanakan cinta kita untuk siapa..
dan alangkah indahnya jika kita menikah dengan yang dicinta..

dan kaulah cinta itu
hanya kau yang ada di kepala..
dan bayangmu selalu menjelma, terlalu menawan untuk kuabaikan..
aku pun tak bisa memungkiri, bahkan aku tak bisa lari darinya..
di hatiku namamu terukir rapi tanpa bisa aku mengusiknya..

banyak cerita yang ngin kuungkapkan..
banyak kalimat yang terencanakan..
tapi aku tak tahu, entah bagaimana sikapku bila kita bertemu..
mungkin seperti dulu.. menjadi gagu.. lalu otakpun kaku..

Yogyakarta, 6 Agustus 2017
Baca Selengkapnya...

Cinta Sang Kupu

aku telah gagal memahami cinta yang kau ajarkan padaku
karena egoku, kegagalan ini aku hanya menyalahkanmu
ya, dengan lika-liku lakumu kau tak mampu,
jikapun mampu.. akulah yang dungu

mungkin aku tak memahami sikapmu
jika itu benar adalah cara menghukumku
atas segala tingkah polahku yang membuatmu jemu..
yang kurasa semua terlalu menyakitkanku..
dan tentu polahku lebih menyakitkanmu

tanpa bicara kita tak memahami apa yang kita rasa
hingga terdera luka yang kian menganga
tatapanmu menyudutkanku di kala kita jumpa
kebisuanku meluluhlantakkan gejolak di dada
aku kesulitan bicara karena hukuman itu begitu menyiksa
hanya prasangka yang menjelma..
dan pelukan yang kau berikan ke orang lain seakan menjawab segala duga;
hingga aku salah menerka: tiada lagi di hatimu rasa cinta..
dan terjadilah petaka.. yang lebih menyiksa

bukan emosi yang sesaat..
berminggu aku begitu tersiksa..
berontak hatiku karena kita tak lagi bisa bicara..
kupikir kau pun harus merasakan bagaimana tersiksanya..
lalu dengan keakuanku; kita sebaiknya selesai saja
dan, oh kaupun mengamininya..
ya, yang pada akhirnya kurasa kesakitan ini semakin dan lebih menyiksa..
karena aku masih cinta.. karena kau masih cinta..
entahlah kupikir jika ada penawarnya aku bertanya..

yank, masih kuingat kau berkata:
apapun yang terjadi aku akan mempertahankanmu
yank, masih kukenang air matamu meluluhkanku
yank, masih kudekap janjimu membaja-kanku dari sang kupu
yank, masih membayang mimpiku selepas jadian kita..
dan kita berharap jadi nyata..

tak hanya sekali kau pernah minta kita selesai, kuabaikan saja..
tapi saat aku minta, benar-benar petaka yang melanda..

tapi, semua sudah terjadi
kupikir semua akan baik-baik saja, tapi tidak..
entah jika kau ingat pernah berkata.

air mataku hanya bisa memaki ketololanku
dan tentu kau sudah jemu mendengar kata maaf dariku..
tetap saja..
maaf.. aku gagal memahami cintamu..
aku sudah mengecewakanmu, menyakitimu..
kupikir aku sudah jadi sang baja, tapi ternyata masihlah kupu..

maaf, mungkin besok akan kuminta kau melatihku lagi,
menjadikanku kupu-kupu baja..
agar kau bisa menolakku..
agar kau bisa lebih jumawa,
karena aku tak ingin kau lebih terluka..
sebagai balasan atas ketololanku..
sebagai caraku menghaturkan permohonan maaf..
agar lega di dada, walau aku yakin takkan semudah itu..
ya, seperti kebalikan dejavu saat kita jadian dulu..

yank, seandainyapun kita tak berjodoh kini atau di kemudian hari,
tak perlulah kau memaki koar-koar sana sini,
walau aku tahu.. tak mudah bagimu memaafkanku.
bukan untuk kebaikanku.. tapi untukmu.
karena aku tak sanggup melihatmu lebih terluka lagi.
biarlah sang pecundang ini menempa diri.

jauh di lubuk hatiku tertanam cinta dan kasih sayangmu juga
penghantar maafku.

Yogyakarta, 4 Agustus 2017









Baca Selengkapnya...

LELAP DALAM HENING

ada gerimis yang terberai malam ini…
dapat kucium aromanya  di tengah rebahmu…
kesedihan apa yang kaurasa aku tak tahu,
entah tiba-tiba turut menusuk hingga ke relungku
aku tak tahu apa yang terjadi padamu saat ini..
ada sedih yang tersirat di setiap desah nafasmu..
ada rasa sakit yang coba kau tahan..
ada kegelisahan yang coba kau sembunyikan..

sejenak aku ingin memelukmu…
ingin menghiburmu...
perlahan mulai kubelai rambutmu yang tergerai…
kugenggam jarimu… dan..,

ah… sudahlah…
aku tak peduli dengan apa yang terjadi…
aku hanya ingin mempercayaimu..
bersandarlah padaku saja,
genggamlah jemariku saja…
anjakkan kehangatan mengiringi senyapmu..
biarlah walau sekejap aku ingin kau lelap dalam heningmu...
nyenyaklah di tidurmu..
hanyutlah dalam mimpimu...
karena aku masih di sisimu..

Yogyakarta,  14 oktober 2016

Baca Selengkapnya...

Sssttt…

kita terjebak dalam kebekuan…
kesunyian yang menyimpan seribu tanya
lalu kita hanya memaki waktu
sedang kebisuan tak mampu memburu waktu

lagi dan lagi kau hadir di sini
menemani senyap yang terasa semakin pekat
entahlah, kita jalani saja..
nikmati keheningannya

dan tiba-tiba kau memecah sunyi
suaramu terasa berat..
dan lagi, kau menanyakan kesediaanku…
ah, aku mungkin membisu hati…
mulut terkunci…

karena kau takut itu tak pasti..
maaf, bila diamku ini menyakiti..
entahlah, kulihat matamu berkaca-kaca
dan aku merasa diburu
karena itu diamku sendiri kerap menghantui
aku sendiri tak mampu walausekedar bersandiwara..
untuk memungkiri perasaan ini
tapi apalah daya,
situasai seperti memakiku untuk menahan diri..

sssttt… diamkan saja

Jogjakarta, 12 Oktober 2016

Baca Selengkapnya...

Dan Lagi

Berisik kucing menyeruak diiringi rerintik hujan yang menyahdu seibarat orkestra yang menyemai malam. Di sudut kamar dengan udara pengap akibat bersekutu dengan asap rokok yang mengitari seisi ruangan, seorang lelaki tengah bermenung. Terbayang dengan jelas di pelupuk matanya seorang wanita yang baru saja dikenalnya. Awalnya hanya pertemuan singkat yang hanya cukup untuk sekedar berbasa-basi. Tak ada kesan istimewa dalam pertemuan dan juga ajang perkenalan itu. Namun cerita pun berturut, waktu pun memaksa mereka untuk selalu bersama. Entah apa, sesuatu selalu ada yang mengharuskan mereka selalu berjumpa.

Pikiran-Pikiran tak jelas mulai berkecamuk di kepalanya, gadis yang dikenalnya melalui seorang teman  itu terus membayang di kepalanya. Apakah akibat kejombloannya yang sudah menahun?  Ataukah  wanita itu memang begitu memesonanya? Bisa juga karena syahwat belaka! Atau juga karena memang tak ada suatu hal apapun di pikirannya sehingga hanya wajah gadis itu yang berkelebat di kepalanya? Entahlah. Apa sebab, ia terpesona bahkan dalam kesendiriannya hingga pikirannya melanglang buana entah kemana, dan mendadak mati akal saat mereka jumpa.

Seiring waktu perasaan itu pun terus mengganggunya. Ada rasa curiga, cemburu, marah, namun iya hanya diam, tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia terjebak dalam labirin yang bahkan ia tak tahu di mana pintu masuknya apalagi pintu keluarnya, tiba-tiba sudah berada di belantara membeluntas yang membuatnya terasa semakin jauh. Ya, ia merasa terjebak dalam pikirannya sendiri.

***
Aku dipermainkan olehmu. Apakah dirimu mengerti dan memahami perasanku.atau kau sengaja memanaskan suasana hatiku? Bahkan hanya dalam sekelebatan waktu kau bilang ingin jadi kekasihku, tiba-tiba seorang pemuda yang jauh lebih muda hadir mengusik keasyikanku. kupaksakan sendiri, cukuplah bagiku dengan melelapkan diri. Tapi itu tak cukup,  mendadak aku mual. Bukan! Bahkan aku tak yakin jika karena nasi goreng yang kau buatkan untuk sarapanku itu yang menyebabkan masalah di perutku. Kegelisahan yang membucah, mengharuskanku melakukan ritual di kamar mandi.  Aku mual karena melihat polahmu bersama pemuda itu,  maaf. Ah, Seonggok cerita dan seupil cinta.Aku ingin memaki sunyi yang menyelinap di relungku. Aku ingin ingin berteriak hingga serak hinggamendahaga pilu. Aku ingin pergi dari situasi yang menjebakku ini. Tapi siapa aku? Bukankah aku tak memberi kepastian padamu?

Ah, bisa jadi dirimu sendiri terjebak dalam situasi yang tak menguntungkan ini. Dan lagi,  kau datang menghampiri, menggodaku seperti biasa, perasaan gugup pun menyambangi. Aku lagi-lagi kehilangan akalku. Benarkah aku jatuh hati? Ya, aku sendiri terjebak dalam pikiranku, gelisah yang memaksaku untuk menahan diri, tak mengungkapkan perasaanku. Padahal aku meyakini perasaanku lebih besar dari perasaan yang kau miliki, dan sialnya yang lebih besar itulah yang paling lemah.

Haruskah kukatakan ‘ya, oke, baiklah’? Bukankah aku pun memiliki rasa yang sama? Bukankah ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’? Bila kuturuti seperti itu apa jadinya aku ini. Atau aku pura-pura tak tahu sandiwara apa yang sedang terjadi ini.

Apa yang  harus kulakukan?

ada getar yang begitu menggebu saat kau hadir mengusikku
mungkin kau tak tahu…
mendadak  otakku seperti membeku, dada bergemuruh menggelora,
lidahpun serasa kelu dan mati rasa
saat kaubilang ingin jadi pacarku,ah…

aku sendiri tak tahu apa yang harusnya terjadi
polahku, kuharap kau menyadarinya 
gelisah,  hanya memaki sunyi

kuyakinkan ‘kupun jatuh hati
atau itu sekedar  imaji hingga aku bertanya...
apakah aku hanya pelarian kegelisahan  hatinya…
apakah aku hanya pelampiasan dendam amarah  gejolak jiwanya…
ataukah memang begitu adanya
kau mengatakan jatuh cinta
sedang aku sendiri sadar bahwa aku pun menaruh suka

maaf, aku masih awam soal cinta

***

Hari pun bersambut pagi. Tapi lelaki itu tak juga menjemput mimpi, ditahannya kantuk yang menyerang berkali-kali. Ia memendam rasa, berharap ada cerita indah dari lantai mati, senyum gadis yang menggoda hati. Ulah nakal embun yang coba mengangkangi pagi, menyelinap lewat ventilasi, menyisakan gelisah yang semakin menjadi-jadi.  Dibiarkannya semilir angin yang membawa dingin sisa hujan semalam menyambangi. Lelaki itu hanya mendekap gerimis dalam kegalauan.

Kotagede, 11 Oktober 2016

*untukmu, yang sudah dengan senang hati mau memboncengi domba
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah