Membual Basi

Mengapa kita masih saja
Berceloteh membual basi
Tentang demokrasi
Tentang eloknya negeri

Dengan bangga bercerita
Negeri ini kaya-raya
Tanah ini tanah surge
Rakyat hidup sejahtera

Ho.. ho.. hoo…
Ho.. ho.. hoo…

Kudengar jerit di sana
Jerit luka sang jelata
Di sela gemulai tawa
Meriah pesta penguasa
Masihkah membual saja
Melihat segala penindasan
marilah kita bangkit melawan
lontarkan suara perlawanan

Cipt: Wins
Baca Selengkapnya...

Perut Buncit

Hei, perut buncit
Menghisap darah rakyat
Berdalih mengentaskan kemiskinan
Rakyat celaka karena ulahnya


Hei, orang pintar
Di sana-sini kau berkoar
Tapi ternyata kelakuanmu makar
Kebijakanmu tak pernah benar
Rakyat pun semakin lapar

Reff:
Hooo.. matamu hijau berkilau-kilau
Bila melihat dana segar terhampar
Hooo.. matamu buta semakin gulita
Bila melihat derita sang jelata

Cipt:  Dipay, Wins, Ajee, Wans
Baca Selengkapnya...

Hancurkan

Korupsi merajalela
Kebobrokan di mana-mana
Jangan tutup mata dan telinga
Rakyat murka kau kan binasa

Rakyat merana dibuatnya
Kebijakan ‘tuk kepentinganmu semata
Sedang rakyat kau jejali dengan cerita
Tentang indahnya negeri yang juga kaya

Reff:
Hancurkan jangan sisakan
Penguasa tak berprikemanusiaan
Dan esok kan kita dapatkan
Dunia baru tanpa penindasan

Cipt: Wins, Ajee
Baca Selengkapnya...

Jurang Ketimpangan

Jerit derita terdengar di sini
Di negeri tercinta ini
Hamparan duka terlihat di sini
Di tanah bumi pertiwi

Pengusaha semakin merajalela
merampas tanah rakyat jelata
Penguasa tergelak dibuai kemewahan
Rakyat merangkak di jurang ketimpangan


Ini terjadi di di sini
Di negeri yang lestari
Ini terjadi di negeri ini
Yang katanya demokrasi

Kekayaannya habis dimonopoli
Kemiskinan semakin menjadi-jadi
Haruskah ini terus terjadi
Terjajah di negeri sendiri

kawan ayo satukan diri
Penindasan harus diakhiri

Bersatu, bangkit dan melawan
Hapuskan segala penindasan
Berjuang adalah keharusan
Perubahan itu keniscayaan

Cipt: Wins
Baca Selengkapnya...

Di Persimpangan Jalan

'ini gimana bro, lurus atau belok kiri?' tanya temanku yang kebetulan seperjalanan.
'emangnya kenapa'? aku balik tanya.
'kalau ke kiri jalan terus, kalau lurus lampu merah' ujarnya menjelaskan.
sementara tak jauh dari kami terlihat seorang bocah tengah berteriak-teriak beradu dengan bisingnya kendaraan, entah apa yang disenandungkannya. aku pun tak segera menimpali ucapan temanku tadi.
'jadi, gimana, kiri, kanan, lurus.. atau ada tawaran lain, mungkin jalan alternatif gitu?' lanjut temanku tadi.
'ah, yang kusadari bukankah saat ini kita sedang berjalan kaki,' ujarku.
Baca Selengkapnya...

Cemas

Aku merasa ketakutan
Aku sedang kalut dalam ketakutan
Jika dalam perjalanan ia masih mengikutiku...
aku tak akan memegang tangannya

Andaipun berani, bisa saja ketakutan berjalan seiringan..
Tapi ia harus bersiap-siap, langkahku bisa saja jadi semakin terburu
Bahkan aku akan terus berlari dan berlari..
semakin cepat meninggalkannya..
hingga bayangnya pun tak terlihat

Tapi, angin kerap berisik melenakan derap langkahku
Dalam bisik, aku takut tak mampu meninggalkannya..
Baca Selengkapnya...

Serdadu Angin

Setelah berhasil mengalahkan kantuk yang sempat mengangkangiku..
serdadu angin balik menyerangku...
begitu terpimpin dan terorganisir..
mereka sudah berkuasa atas tubuhku.

Segera, kupanggil orang pintar untuk mengusir angin itu dari tubuhku.
diberinya aku semangkuk 'kolak angin'
tapi serdadu angin itu malah terpingkal-pingkal melihat tingkah kami.
aku pun tak habis pikir.. kuundang 'si duet maut' koin ajaib & ramuan cap punggung...
Seperti yang sudah kuduga,, perang besar pun terjadi.
begitu hebat memang..
sangat menggetarkan dada dan punggungku.

Dan... hahahahaha..
serdadu angin pun berkelebat pergi..
namun ia menyimpan dendam yg begitu panas dan membara..
punggungku dapat merasakannya.

Peperangan itu pun berakhir..
hanya menyisakan punggungku yang masih merah kehitam-hitaman..
sebagai tanda betapa dahsyatnya peperangan itu.
ah, koin...
Baca Selengkapnya...

Menjemput Kabut

Lamban kulangkahkan kaki menjemput kabut. Mataku larut akan pemandangan di sela embun yang merayap bersekutu  dengan hembusan pagi, ada rumput-rumput yang harus disiangi, ada cabai yang ranum menggoda harus dipetik, ada tanaman jagung  yang siap panen juga,  dan bulir-bulir embun di dedaunan tembakau semakin menyejukkan mata.  Sementara aroma daun bawang menambah sempurnanya pagiku saat itu. Senyumku pun bicara, petani memang luar biasa.

Langkahku terhenti sejenak, mataku tertuju pada seorang nenek yang tengah memetik cabai tak jauh dari tempatku berdiri.  Takzim, aku pun menyapanya, si nenek hanya mengangguk.  Aku bertanya-tanya, dari mana munculnya nenek itu? Padahal tadi aku tak melihatnya, tiba-tiba muncul dari kabut. Ah, pertanyaan enggak bermutu.

Kulangkahkan lagi kaki. Mata pun kembali menjelajah ke hamparan hijau yang masih berselimut kabut di hadapanku. Udara segar nan sejuk masih mengiringi langkahku. Entah apa yang berkelebat di kepala, terngiang pertanyaan seorang kawan saat sang senja menyambut kehadiran kami kemarin sore di desa itu, TANAH INI MILIK SIAPA CUY?

17/11/2013

Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah