Sepenggal Cinta Sederhana

Bumi pun bergelayutan dalam sunyi..
tapi masih ku nikmati heningnya dalam jaga yang menyepi..
masih kucumbui cinta yang tak bertepi..
malam pun merangkak hingga ke peraduannya yang sepi..
masih juga aku berceloteh tentang cinta hingga dini hari

Mungkinkah hidupku yang terasa hampa..
dapat mengembalikan segala yang pernah terlupa?
Tapi masih saja rapalanku tentang cinta serupa lantunan do’a..
karenanya jualah cinta tak mengenal siang dan malam, tidur atau jaga..


Saat kau masih terpesona dalam jaga dan mimpimu..
sempurnakanlah pejammu itu..
akan kau dapati tanganku terulur di balik selimut malammu..
sekalipun itu di mimpi burukmu...
aku akan hadir di situ menepis keraguanmu..
karena kaulah cinta itu..
dan cinta pun mampu merapikan segalanya dari dosa juga sepi yang membisu

Bila malam menyempurnakan kesucianmu...
segalanya terasa paripurna..
maka, anjakkanlah keanggunanmu..
dan kau akan menjumpaiku dengan seonggok kisah basi..
sepenggal cinta sederhana sepanjang malam dan pagi harimu

Yogyakarta, 1 November 2011
Baca Selengkapnya...

Maaf, Kau Harus Pergi

Kawan...
pongah, kau menantang menerjang...
bak pejuang yang terus berteriak lantang...
seakan serak memilu takkan penah bertandang...
kau lumat habis kisah yang kau ukir, hingga asa itu menghilang...

aku tahu kejenuhan kerap menghampiri...
kegalauan kadang kala terselip dalam sepi...
pada akhirnya, kau nikmati lagu kegelisahan hati...

kau kini sendiri...
terkulai lemas tak bernyanyi...
bahkan sang penyanyi pun tak sudi menghampiri...

maaf, bukan aku tak peduli...
yang kurasa aku telah kehilanganmu, sahabat yang sangat kukagumi...
sekali lagi maaf, aku tak pernah berharap kau kembali lagi...
tak mungkin bagiku berteman dengan orang suci...
atau berceloteh ria dengan manusia yang sangat berbakat jadi nabi...

Yogyakarta, 26 Oktober 2011
Baca Selengkapnya...

Auramu Makin Pudar

Dulu…bersamamu kunikmati pesonamu
Melintasi hempasan angin yang beriring menerpa ragu
namun kini..yang kurasa semua menjadi tiada, terhapus di benakku

Ribuan makna yang mengendap dalam segala waktu
Hinggap dalam nyanyian rindu yang menggebu
Tapi semua bagai angin lalu..
Tak lagi bisa kuraba, kurasa,  semua yang kujamah terasa kosong..

Ragu aku mengharapmu…, hingga asa yang tertumpah menemui tetes penghabisannya…..
Entah…tiba-tiba aku enggan mengumbar rindu..
Tiba-tiba aku ingin berhenti mencintaimu…
Mungkinkah karena sikapmu yang makin lama tak lagi membiusku
Perlahan menghilang di balik dusta

Auramu semakin memudar karena sikapmu sendiri....
Meski kurasa tatap matamu yang semakin sendu kerap menghampiri
Tapi tetap tak mampu menguatkan keyakinanku sendiri
Dalam diammu yang bisu, semakin membuatku sepi
Ah, Aku lebih baik pergi.....

Maaf, aku bukan pemuja rahasiamu..
Apalagi berniat memata-mataimu..
Namun.., ah itu masa lalu...
Yang kurasa rindu itu...Terhempas begitu saja..

Yogyakarta, 21 Juli 2011
Baca Selengkapnya...

Puisi Ramadhan

RamadhanMU

Rabbku…,
Aku bersyukur Kau masih mengizinkanku hadir di RamadhanMu…
kini aku berhasrat ada di dekapannya  yang tak kusampaikan di waktu lalu..
Walau sejenak, ingin  kunikmati setiap tetes embunMu  di tengah dahagaku..
Dan kubalut tubuhku dengan harmoni cintaMu..
Hingga yakin  kutemukan Ramadhanku..

Tapi, aku masih bertanya-tanya…
Mungkinkah Ramadhanku bisa   mengartikan cintaku..?
Saat di lain waktu aku tak dapat meluangkan rasa cintaku…
Saat di lain tampat aku hanya berceloteh ria dengan nyanyianku..
Memaki, mencaci.., hingga terlontak keangkuhan dalam jiwaku…
Dan  nyanyian-nyanyian yang menjemukan masih bersemayam di relungku…
Seakan mengumbar  rindu tapi yang kurasa tabu…

Ramadhan yang  kueja lewat penaku..
Menghadirkan diriku dalam kosong hampa tanpa ruang..
Hingga syair-syair berkeliaran timbul tenggelam melalui celah gemulai langkah jemariku,
Merona, tak sadar aku telah kasmaran dalam cintaMu

Rabbku,
Aku tak ingin mengumbar ragu di sini…
Ingin kujamah keanggunan RamadhanMu..
Entah, mungkin kehadiranku dalam RamadhanMu  tak sekedar kisah..
Sesaat saja Kau pasti menjemputku hingga ronaku itu meredup..
Lelap..

Yogyakarta, 10 Juli 2011
Baca Selengkapnya...

Diary Qur'an

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Hampir tiga jam aku hanya bisa  berbengong diri tak bisa memikirkan apa yang mesti ku tulis. Mataku sebenarnya sudah terkantuk-kantuk hingga hendak ku rebahkan diriku melayani keinginan mata. Tapi enggan rasanya jika harus kuturuti, juga akibat fikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otak silih berganti dan berubah-ubah tak tentu. bayangan-bayangan yang menjemukan bermunculan dalam benakku tiba-tiba muncul perut, ada kepala, ada  jalan raya.. kampung halaman sampai seisinya, ada pelajaran kuliah, e...ada tugas...
Entah bagaimana aku harus menuliskan langkah perjalananku dalam mengenal Al-Qur’an.  Daripada bengong mending ku tulis saja... apapun jadinya, tapi bukan ala-kadarnya.
Ada rasa sedikit malu  bila harus ku tuliskan pengalamanku bagaimana si Wiwin kecil mengenal Al-Qur’an. Berat rasanya bila harus ku ceritakan. Tapi ini penting! selain sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an, namun juga bisa ku jadikan sebagai caraku untuk mengingat masa lalu yang nantinya bisa di jadikan sebagai pijakan untuk ... yah, apa saja...!
Semilir angin masuk lewat ventilasi menyapu tubuhku, udara dingin menyelusup dalam pori-pori. Ku benarkan posisi selimut untuk menutupi kakiku dan memberikan kehangatan di situ. Di tengah tidurku yang ku rasa tak nyenyak, sayup-sayup ku dengar suara azan subuh dari masjid. Suara itu begitu berat terdengar sampai di penghujungnya.
Ku dengar suara gemericik air dari kamar mandi. Pasti ibu pikirku. Aku tetap tak memicingkan mata, aku masih berusaha melanjutkan mimpi. Namun tak juga aku tertidur. Aku pun beranjak dari tidurku dan keluar dari kamar. Kusaksikan ibuku ada di ruang tamu.
“Bu, mau pipis...” rengekku sambil tetap berdiri mematung di pinggir pintu kamarku.
Ibu tetap diam dan tampak khusyuk dalam sholatnya. Aku masih menunggu ibuku selesai dengan ibadahnya.  Dan perasaan takut yang ku rasakan bila harus ke kamar mandi sendiri. Yah... masih bocah. Maklumlah.
Tak berapa lama ibuku sudah menyelesaikan ibadahnya. Diantarnya aku ke kamar mandi.
“Udah....tidur lagi sana” kata ibu setelah aku menyelesaikan pipisku.
Aku pun beranjak kembali ke tempat tidurku. Sedangkan ibu tak langsung melepaskan mukena yang dikenakannya.
Dari kamarku Kudengar suara ibu melantunkan sesuatu (entah apa... yang kemudian hari ku ketahui itulah yang dinamakan alqur’an, kitab suci umat Islam). Lantunan itu begitu mendayu-dayu dan memang sungguh menggodaku. Namun aku tetap tak beranjak dari tidurku. Akupun kembali tertidur diiringi suara ibu yang mendayu-dayu lirih membaca Al -Qur’an.
Hampir setiap hari ku saksikan dan kudengar ibu melantunkan Al-Qur’an. Ya...  suara itu keluar dari mulut ibuku hampir setiap pagi selepas sholat subuh. memori itu selalu terlintas di benakku. Saat itu umurku baru sekitar tiga tahun lebih. Aku belum mengenal apa itu Al-Qur'an. Jangankan mengerti maksudnya, membacanya saja aku masih belum bisa.
Hingga aku masuk SD baru aku kenal dengan tulisan Al-Qur’an.  Orang pertama yang mengenalkan ku dengan Al-Qur’an adalah ibuku. ibu mengajariku untuk membacanya. Biasanya selepas mghrib ibu mengajariku membaca alqur’an dengan cara menghafalkan huruf hijaiyah. Alif.... ba... ta...dst.
Hari-hari kujalani dengan apa adanya. Tak ada hal yang istimewa bagiku, aku tumbuh besar pun layaknya anak kebanyakan. Saban sore ibu selalu mengajakku  belajar mengaji  namun aku sering mengalami kebosanan karena aku tak mengerti maksud dari apa yang ku baca, apa artinya. Dan lebih memilih nonton TV (TV tetangga tentunya..).
Sore itu seperti biasa selepas maghrib aku kembali mengaji. Dan ibu satu satunya guru sedangkan aku satu-satunya murid. “Ini adalah pedoman hidup kita” kata ibu sembari tangannya memegang alquran yang sudah lapuk itu. Tetap saja aku tak mengerti maksudnya. Dan akupun tak berniat bertanya lebih lanjut apalagi  untuk menyanggahnya. Rasa 'ingin tahu'  itu terus ku pendam dan hanya bertanya-tanya dalam hati. Jangankan  mengaji dan membaca pun aku belum lancar.
Umurku terus bertambah hingga aku naik ke kelas tiga SD. Membaca aku sudah mulai lancar tapi mengaji aku masih belepotan. Hingga ada pengumuman akan dibuka Taman Bacaan Al- Qur’an (TBA...sejenis TPA) Sija Carana (inilah caranya). Aku pun bermaksud daftar di TBA tersebut. Ku utarakan maksudku tersebut pada ibu. Dengan senang hati ibu pun mendaftarkan aku.
Di TBA tersebut aku mulai belajar mengaji dimulai dari nol, maklum rata-rata muridnya belum bisa baca Al-Qur’an jadi pemerataan. Ada sekitar dua puluh santri, dan aku bangga menjadi salah satu santri angkatan pertama di TBA tersebut. Kami pun dibagikan buku IQRO’ I. Kemudian para santri dibagi 5 kelompok dengan guru damping satu. Dengan bekal pelajaran yang ku dapatkan dari ibu tentu aku tak banyak mengalami kesusahan.
Banyak pengalaman menarik yang ku alami ketika berada di TBA tersebut. Ada satu cerita yang berkaitan dengan seorang guru. anggap saja namanya pak Arifin. Seperti biasa selepas mengaji sebelum pulang ada ceramah atau cerita dari seorang guru. Kebetulan hari itu giliran pak Arifin (entah hari apa, tanggal berapa aku lupa).
“Ada yang tahu apa arti surat Al-Fatihah nggak?” tanya pak Arifin pada para santri. Namun santri-santri hanya diam.
Kemudian pak Arifin melanjutkan ceramahnya. Diambilnya satu Al-Qur’an tanpa terjemah dan mulai menerjemahkannya per ayat surat Al-Fatihah tersebut. Akupun terkagum-kagum dengannya, padahal dia tidak memakai Al-Qur’an terjemah.
Namun sontak kekagumanku buyar... dan terlintas bayanganku tentang tingkah-polah pak Arifin dalam kesehariannya.
“Bukankah pak arifin seorang penjudi?” Tanyaku namun hanya dalam hati. Ya, banyak sekali macam perjudian yang ada di desaku, dari anak-anak kecil sam pai kakek-kakek juga ada. Bahkan ada seorang haji yang memang suka judi. Judi seakan sudah menjadi budaya di desaku.
 “Kalau mau saya bisa kok menerjemahkan semua isi Al-Qur’an ini” kata pak Arifin sambil kemudian menhidupkan rokok. “Sombong” terbersit di otakku mendengar perkataan itu. Tiba-tiba terngiang perkataan ibuku: Al-Qul’an adalah pedoman hidup.
“Pak, apa maksudnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup?” tanyaku ditengah  pembicaraan Pak Arifin.
Tampak dia terdiam beberapa saat sambil menoleh ke arahku, dihisapnya rokok dalam-dalam, sedang matanya tajam menatapku. Ku tarik napas dalam-dalam sambil berharap pak Arifin tak mendampratku karena memotong pembicaraannya. Ah, semuga ucapan ibuku dapat ku jadikan pegangan dalam perjalanan hidupku kelak amin, doaku dalam hati. Huhhhh.
Yogyakarta, 10 april 2010
Catatan: ini adalah tugas 
Mata Kuliah                : Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu        : Drs. H.M Syakir Ali
Disusun Oleh              : Wiwin Solikhin


Baca Selengkapnya...

Hidangkan Aku Kopi

saat gitarku tak mampu lagi mengiringi sayatan gemulainya nyanyianmu....
di masa  detik yang terketik untuk syairku terdengar picisan oleh senandungmu....
selagi  tubuhku tergeletak dalam layu dan sosok gersang ...sedang mataku terkulai dalam lagu dan kata usang....
hingga mulutku bungkam tak mampu lagi bersuara....
hidangkan aku kopi, sebagai penambah sempurnanya gatal tenggorokan yang serak mendahaga pilu...
benyanyilah semaumu..,
tapi jangan lupa..  hidangkanlah kopi itu... sementara aku beli rokok dulu

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Baca Selengkapnya...

Perbatasan

Di sana aku menjumpamu...
Di sana juga aku pernah melepasmu..,
Saat jiwa-jiwa yang bisu berbisik di telinga kiriku,
tak urung aku pun meninggalkanmu

Di perbatasan antara jaga dan mimpi...
Suara mendayumu mengajakku berlari-lari dalam bayangan masa lalu..
Masa aku masih memujimu..., saat murkamu serasa lecutan cambuk di otakku..
Hingga ke masa aku memakimu..., saat candamu masih tak menyadarkan kefanaanku..
Ya, antara puji dan maki..

Di waktu yang masih jauh dari petang ini, aku ingin selalu bersamamu..
Ingin kucumbu setiap jengkal keanggunanmu..,
Ingin kuraih dan kugenggam erat cintamu....,
Ingin kureguk setiap tetes embunmu..
Ingin kurasa nikmatnya belaianmu..
Ingin ku...

Di perbatasan sengal nafasku, antara hidup dan matiku..
aku ingin tetap dalam dekapanmu...
Rengkuh jiwaku selalu...
Hingga belaian sang bayu melenakan lelapku....

Rabbku...
Jangan batasi aku untuk mejamah kemesraanMu..

... saat fajar masih bertahan diri, di tengah kunanti mentari..
Yogyakarta, 30 Mei 2011

Baca Selengkapnya...

Benarkah Kau Kawanku

Kawan.., kaulah nikotin yang merampas oksigenku dari kelebatan waktu...
hingga nafasku timbul tenggelam dalam lautan masa ke segala penjuru..
menyisakan racun yang bersekutu di dadaku..

Kawan.., kaulah arak yang merenggut tubuhku dari malam ke lain malam hingga berlalu... hingga dalam lenanya yang memabukkan...
merapuhkan tubuhku di segala dunia yang membisu...

Kawan.., kaulah ruang tempatku bercengkrama memuntahkan luapanku....,
hingga cacian murka dari sendawa kita yang menyempitkan gerakku..
membatasi jarakku..
memaki keyakinanku...

Dengan bangganya kusebut.. kau penjernih fikiranku...
Dengan angkuhnya kuteriakkan.. kau penawar dahagaku...
Dengan syahdunya kubisikkan.. kau pelampiasan birahiku...

Tapi, aku tak sanggup telanjang di hadapanmu...

Yogyakarta, 27 Mei 2011
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah