Tampilkan postingan dengan label ngoceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngoceh. Tampilkan semua postingan

Di Persimpangan Jalan

'ini gimana bro, lurus atau belok kiri?' tanya temanku yang kebetulan seperjalanan.
'emangnya kenapa'? aku balik tanya.
'kalau ke kiri jalan terus, kalau lurus lampu merah' ujarnya menjelaskan.
sementara tak jauh dari kami terlihat seorang bocah tengah berteriak-teriak beradu dengan bisingnya kendaraan, entah apa yang disenandungkannya. aku pun tak segera menimpali ucapan temanku tadi.
'jadi, gimana, kiri, kanan, lurus.. atau ada tawaran lain, mungkin jalan alternatif gitu?' lanjut temanku tadi.
'ah, yang kusadari bukankah saat ini kita sedang berjalan kaki,' ujarku.
Baca Selengkapnya...

Cemas

Aku merasa ketakutan
Aku sedang kalut dalam ketakutan
Jika dalam perjalanan ia masih mengikutiku...
aku tak akan memegang tangannya

Andaipun berani, bisa saja ketakutan berjalan seiringan..
Tapi ia harus bersiap-siap, langkahku bisa saja jadi semakin terburu
Bahkan aku akan terus berlari dan berlari..
semakin cepat meninggalkannya..
hingga bayangnya pun tak terlihat

Tapi, angin kerap berisik melenakan derap langkahku
Dalam bisik, aku takut tak mampu meninggalkannya..
Baca Selengkapnya...

Serdadu Angin

Setelah berhasil mengalahkan kantuk yang sempat mengangkangiku..
serdadu angin balik menyerangku...
begitu terpimpin dan terorganisir..
mereka sudah berkuasa atas tubuhku.

Segera, kupanggil orang pintar untuk mengusir angin itu dari tubuhku.
diberinya aku semangkuk 'kolak angin'
tapi serdadu angin itu malah terpingkal-pingkal melihat tingkah kami.
aku pun tak habis pikir.. kuundang 'si duet maut' koin ajaib & ramuan cap punggung...
Seperti yang sudah kuduga,, perang besar pun terjadi.
begitu hebat memang..
sangat menggetarkan dada dan punggungku.

Dan... hahahahaha..
serdadu angin pun berkelebat pergi..
namun ia menyimpan dendam yg begitu panas dan membara..
punggungku dapat merasakannya.

Peperangan itu pun berakhir..
hanya menyisakan punggungku yang masih merah kehitam-hitaman..
sebagai tanda betapa dahsyatnya peperangan itu.
ah, koin...
Baca Selengkapnya...

Lagu: Memecah Sunyi (Lontarkan Maki)

(1)
temaram menghantam langit menghitam
kesaksian dibungkam
wajah kusam memaki kelam
menyobek heningnya malam

Bridge:
kulangkahkan kaki
kulontarkan maki
kunyanyikan lagi
tentang sombongnya hari
tentang angkuhnya negeri

Reff:
masihkah ada cinta di nurani
masihkah ada bahagia di negeri ini
masihkah ada cinta di nurani
masihkah ada bahagia di negeri ini

(2)
di bawah angkuh kuasa tiran
terjejal beribu maki
kenyataan dikaburkan
cerita angkuhnya negeri

Bridge:
kulangkahkan kaki
kulontarkan maki
kunyanyikan lagi
tentang sombongnya hari
tentang angkuhnya negeri

Reff:
masihkah ada cinta di nurani
masihkah ada bahagia di negeri ini
masihkah ada cinta di nurani
masihkah ada bahagia di negeri ini
yakinlah ada cinta di nurani
yakinlah ada bahagia di negeri ini

Bridge:
kulangkahkan kaki, kulontarkan maki
teriakkan lagi, memecah sunyi...

Yogyakarta, 29-07-2014
Catatan:
Saya haturkan terimakasih buat cici Like berkat dirimu lagu ini tercipta..
Baca Selengkapnya...

Keheningan yang Menikam

Dengan mata yang sombong kuperhatikan setiap denyut irama di sisi kiri tembok tempatku duduk. Seperti melihat cerita kehidupan sesosok manusia yang terasing, ditoreh lewat rangkaian cerita juga lukisan yang semakin gelap. kata-kata terangkai dalam goresan, juga irama yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan wajah di atas alas yang pasrah. Sama saja, masih seperti tahun-tahun yang lalu, sepi memaksaku berimajinasi, dan semakin kuyakini.. lukisanku tak serapi aku memaki.

Di tengah keheningan yang menikam, saat kamar-kamar itu semakin sunyi mencekam akibat ditinggal pergi oleh penghuninya, aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Di celah antara tembok dan lantai kamarku, satu tangan manusia terjulur menembus kasur dengan telapak tangan menengadah ke arah mukaku. Sementara jemarinya menjepit rokok kretek yang hampir setengah batang terbakar. Di tengah rasa terkejut  kudengar suara berbisik dari balik tembok : "join..."

Ya.. Tuhan.., haruskah puasaku batal hanya karena rokok setengah batang? Tak adakah yang lebih menarik?


Yk. 23 Juli 2014 
Baca Selengkapnya...

Nilai Kolektivitas

Jika dilihat dari sudut pandang eksistensialisme dan individualisme dengan cara ekstrim atau bahkan serampangan, membangun sebuah kolektivitas tidak jauh bedanya dengan memenjarakan subjektivitas kita. Bahkan akan membuat otoritas diri kita layaknya seekor anjing yang tidak mampu menggonggong pada tuannya yang bernama “kolektivitas”. Kita hanya akan dipaksa untuk manut atas keputusan bersama, atau pun kita hanya akan dijadikan budak bagi sebuah nilai kebersamaan.

Tapi tidak ada salahnya dan sah-sah saja bila itu dilakukan dengan proporsional. Lagi pula pandangan tentang individu dan kebersamaan seperti yang di atas atau pun penggabungan antara keduanya (individu dan kebersamaan) tentu harus memiliki syarat-syarat tertentu dimana sang individu sudah mencapai tingkatan tertentu (bukan sosok sufi tentunya..), barulah suatu penggabungan bisa dilakukan. Yang saya maksud dengan tingkatan tertentu bukanlah seperti halnya kasta,tahta atau pun seperti makrifat dan sebagainya. Tetapi tentu saja tentang kemampuan diri dan sikap bijak serta kerelaan sang individu agar merasa yakin bahwa  nilai personal tidak jauh lebih baik dibanding nilai kolektivitas.

Kita sering mendengar kata “kolektivitas” dalam sehari-hari yang secara sederhana dapat dipahami atau dikatakan; kebersamaan dalam artian; lebih dari sekedar  person. Seperti halnya ketika kita membuat sebuah keputusan atau sebuah pekerjaan, kita sering merasa sudah mengerjakan sebuah pekerjaan dengan cara kolektif. Tentu tidak hanya sekedar itu saja, karena secara tidak sadar bila kita mampu mengerjakan sesuatu dengan kolektif, banyak sekali keuntungan yang bisa kita dapatkan. Tidak hanya sekedar mendapatkan pekerjaan yang mampu dan kita merasa mudah untuk melakukannya, atau pun yang lainnya, tetapi keuntungan yang tidak kita rasakan secara langsung pun pasti ada.

Memang agak sedikit narsis saya menjelaskan akan nilai sebuah kolektivitas, yang mungkin belum tentu saya sendiri bisa melakukan yang sebenarnya akan arti kolektivitas tersebut. Tapi setidaknya kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil-kecil terlebih dahulu  dengan melakukan pekerjaan yang hasilnya bisa kita rasakan langsung atau pun secara bertahap kita bisa menikmatinya. hasil yang akan kita capai pun harus jelas. Baik politik maupun organisasi. Intinya adalah kecil hasil basis penting.

Pekerjaan akan lebih mudah dengan adanya kolektif. Dengan pembagian kerja kolektif setidaknya kita akan terhindar dari budaya buntutisme dan lain sebagainya.. Banyak sekali keuntungan yang bisa kita hasilkan melalui kolektivitas. Hal yang sudah ter-cover seperti diatas tentu saja benar walaupun mungkin ada sedikit kekurangan tetapi hasil yang kita dapatkan akan jauh lebih banyak.

Terus bagaimana soal kerjasama yang dianggap sebagai perampok bagi subjektivitas!. Mungkin ini sedikit ada benarnya tapi salahnya akan lebih banyak, karena yang saya maksudkan dari kerjasama adalah kerjasama guna menuju sebuah kedamaian yang demokratis. Oleh karena itu dan berangkat dari itu semua kita pun perlu khawatir akan kehadiran individu-individu yang lemah, baik di dalam sebuah organisasi massa pemuda mahasiswa seperti halnya FMN atau pun organisasi-organisasi yang lainnya, bahkan bisa jadi  di negeri ini yang konon katanya “demokratis”.  Karena individu-individu yang lemah nantinya bisa jadi hanya akan menjadi penjilat-penjilat bokong kaum imperialis, dan berlanjutnya sebuah tradisi yang melahirkan penindas-penindas baru.  Atau setidaknya menjadi duri dalam daging atau api dalam sekam dalam tubuh sebuah organisasi.. Karena mereka yang lemah adalah mereka yang tidak percaya pada sebuah kolektivitas dan hatinya diegoiskan oleh pikirannya sendiri untuk selalu berkata “aku tak butuh siapapun”.

Kita sering terjebak dalam sebuah praktek  yang seakan kita ingin menjadi hero atau pun ingin dianggap hero,  dalam pembacaan suatu permasalahan pun kita masih sering terjebak dalam pikiran yang instan dan terkesan pragmatis. Kita selalu tergesa-gesa dalam menentukan pekerjaan dan tidak mau mendengarkan apa yang disampaikan teman yang berada di samping kita. Di sini gunanya seorang kolektif mampu mengarahkan kita dengan melihat kondisi objektif yang ada. Dan kita mungkin harus memiliki kepekaan sosial, dimana kolektivitas harus  memiliki kesamaan dalam melihat permasalahan serta kenyataan yang ada, dan pandangan yang sama dalam menentukan pekerjaan agar kita sadar bahwa kita akan benar-benar mampu untuk melakukannya.

Dalam hal pembagian pekerjaan pun kita kita harus mengerti dengan situasi dan kondisi kolektif kita. Agar pekerjaan yang diamanatkan tidak menjadi beban. Kesamaan dalam menentukan metode setidaknya bisa menghindarkan  diri  dari praktek liberal. Pembagian pekerjaan yang rapi dan tanggung jawab atas pekerjaan secara kolektif akan membuat kita sadar apa artinya kolektif tersebut.

Atas dasar kolektivitas kita akan mampu untuk mengeksekusi sebuah pekerjaan yang tentunya harus tetap ilmiah, dalam artian tidak hanya sekedar berbasis pada kenyataan atau kondisi objektif, tetapi juga menjelaskan cara merubah kenyataan yang lebih baik dan juga memberikan solusi untuk mengatasinya. Kita pun dituntut untuk selalu Jujur dan prinsifil dalam hal melihat suatu permasalahan,serta berkesinambungan. Tetap tegakkan prinsif dan langgam kerja.

Mungkin kita boleh untuk mengatakan bahwa kita tak butuh siapapun. Itupun bila demi mengangkat tinggi-tinggi bendera eksistensi dan takut kehilangan “aku” sebagai individu yang termarjinalkan. Tetapi kita harus faham bahwa eksistensi tidaklah selalu individualis dan kita tidak selalu bercermin pada diri sendiri, tetapi kita bisa bercermin pada orang lain..begitu pula sebaliknya. Pada intinya adalah setiap individu sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain.

JAYALAH PERJUANGAN MASSA

Yogyakarta, 02 Juni 2008

Ditulis oleh: Wins
Baca Selengkapnya...

Rabb, Aku Jatuh Cinta

Benarkah cinta itu seindah kata-kata menyairkannya...
Semanis bibir berucap melantunkannya...
Setegar karang menghadang ombak..
Atau..ya, sekedar rasa yang menjelma tentangku padanya...
Pada seorang wanita yang begitu mempesona..
Entah pesona apa yang kurasa melebihi zahirnya..

Aku tak bisa membohongi jika itu memang ada..
Aku tak bisa memaknai meski kusadari ia bermakna..
Karenanya jualah aku tak bisa mengungkap makna apa..
Karena cinta melebihi dari kata-kata cinta itu sendiri..
Rabb, jangan sesatkan aku untuk selalu bertafakur tentangnya..
Meski aku sadar sulit untuk menghindarinya..

Ajari saja aku untuk memahami likunya..
Aku hanya ingin membagi dengannya..
Tapi, denganMu, biarlah kunikmati sendiri..

Cinta jika harus berbagi..
Berilah sekedar  saja di hatinya.. cukup untuk memahamiku..
Meski dalam sadar pun aku tak memahaminya..

Pangkalpinang, 05-02-2012
Baca Selengkapnya...

OSPEK: Catatan Ringan Mengenang Memori

OSPEK..?? ah..

Tiba-tiba fesbuk itu seperti memutar kembali kenangan masa lalu, masa OSPEK (2006).  hingga ku dapati diriku tersudut merasa sendiri. Yang ku tahu perasaan itu semakin menghantui…  entah rasa malu, nyesel, bosan meski ada sedikit rasa senang karena bisa menjumpai kawan-kawan satu angkatan..selamat bagi mereka yang sudah lulus, yang belum lulus smoga tetap semangat.

Kawan, entah di mana kini kalian berada yang jelas rasa rindu untuk berkumpul itu ada, ingin kembali menautkan kisah-kisah yang sempat terlupa.

K utulis begitu saja.. mengalir apa adanya.. di grup BSA 2006, dan ah sebuah catatan yang lucu, hanya bermaksud mengulang memori-memori yang hampir terlupa.  Ini catatan yang sempat ku tulis di dinding fesbuk, tapi ku hapus begitu saja... ah.. (untung sempet ku copy :D)., aku tak bermaksud benar-benar menghapusnya dari memori ini. sebuah catatan yang ku tulis dari Negeri Laskar Pelangi

Ini catatan itu, tak ada yng dikurangi atau ditambahi sesuai dengan yg tertulis di FB....:

diundang pak Cholid.. (makasih pak) masuk ke grup ini..,, jadi inget zaman ospek dulu..

ini yg paling saya inget..:

waktu itu kita kumpul di salah satu ruangan Fak. Adab.

tersebutlah salah seorang panitia ospek sebut saja Luthfi (mungkin nama sebenarnya, ehm) yang mempunyai ide untuk mengisi kekosongan karena pemateri belum datang (entah diskusi apa aku lupa).. dimintanya maba yg ingin unjuk kebolehan utk maju ke depan. namun hanya beberapa saja yg maju...(salut buat kalian yg maju)

'klo gak ada yg mau tampil lagi,, sekarang saya tunjuk ya..' teriak Luthfi terdengar agak kemayu. setelah tak ada lagi yg mau maju.

'huuuuu....' sambut maba seperti paduan suara tanpa dikomando.

aku pun yang duduk di belakang tak mau ketinggalan berteriak.

'ya udah..., saya tunjuk ya.., emm.. kayaknya ada tampang-tampang nyeleneh.. dan pengen terkenal...' kata luthfi sembari ditatapnya maba-maba itu satu persatu.

tatapannya terhenti tepat di mukaku. aku tak tahu rona wajahku saat itu.. yg jelas ada rasa-rasa gemeter. kupegengi lututku yang terasa bergemuruh luruh sambil dalam hati terus berdoa 'moga bukan aku.. moga bukan aku..moga bukan aku..'

'nah ini dia.. coba-coba kamu maju' ucapnya, sementara tangannya menunjuk ke arahku.

aku jadi salah tingkah dibuatnya. ku palingkan muka ke kiri, kanan juga.. belakang, berharap salah satu dari maba di dekatku yang dimaksud luthfi.

'kamu...., ia... kamu.. yang rambut gondrong...' teriak Luthfi. sementara tatapan matanya begitu tajam ke arahku setajam kilauan mata pedang Sayidina Ali. sekiranya ada timun di depannya, pastilah sudah terpotong delapan.

ah, apalah daya.. aku pun maju. dan aku baru sadar ternyata aku begitu nyeleneh saat itu. sementara batinku terus memaki-maki (tak perlulah kutulis makian apa yang terlontak di hatiku kala itu)

'tolong perkenalkan diri mas..' seloroh luthfi.. sembari diberikannya salah satu mic yg di tangannya.

'kenalan apa??' tanyaku pura-pura bingung sembari berusaha sedapat mungkin wajahku kubuat culun. oh, ternyata begitu jeleknya wajah ini ketika bercermin di hadapan maba-maba yang begitu gagah dan anggun itu.

'kenalan, kenalan biasa...., perkenalan...!!!' kata luthfi. 'sebutin nama, asal dan jurusan' lanjutnya.

aku cuma diam mendengar omongannya. sudut mataku pun mecuri-curi ke arah tempat dudukku tadi. ku lihat beberapa mahasiswa (bukan mahasiswi) yang tampak begitu ganjen seperti meraya-rayu dengan senyum-senyum sendiri. ah, ruangan ini terasa jadi pengap.

'ya, udah..., saya nanya kamu jawab.. ya..' lanjut lelaki di sampingku itu.

tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung melontarkan pertanyaan.

'nama.., siapa?'

'wiwin, wiwin solihin'

'asal?'

'palembang'

'ambil jurusan apa?'

'sastra arab'

ia berhenti sejenak.

'mas wiwin...., kamu punya keahlian.. yg bisa ditampilkan?'

'o..., banyak..' ujarku menimpali pertanyaannya.

'apa? coba sebutin...'

aku kembali diam. ku garuk-garuk kepalaku yang tak gatal.

'nyanyi... puisi...cerita.. pantun.. atau apa?

aku hanya menggelang.

'terus apa..? tanyanya lagi. terdengar kejengkelan dari nada suaranya'

aku diam. kembali ku garuk kepalaku yang baru terasa gatal.

sorot mataku pun berubah menjadi garang...

'udah mas, aku gak mau kayak gini' teriakku seperti terlontak amarah itu dari kepalaku.

'terus terang aku gak senang dengan kayak gini' lanjutku dengan nada yg semakin meninggi.

kubanting mic di tanganku, terdengar berdenging di telinga. kusentuh kerah bajunya dan hampir kucekik leher itu dengan tangan kiriku. kudorong tubuh kurusnya (padahal sama-sama kurus) nyaris menyentu papan tulis.  sementara tanganku yang lain sudah terkepal.

kulihat wajahnya begitu ketakutan, dan ronanya memerah.

panitia yang ada di luar ruangan pun segera masuk begitu mendengar keributan. salah seorangnya memegangiku, berusaha melepas cengkramanku pada luthfi. 'udah mas.. udah..' kata panitia itu.

mataku berkeliaran ke sudut-sudut ruangan. hening.

seperti kebingungan, luthfi menghampiriku.

'ada apa?' tanyanya masih kebingungan. dihelanya nafas berkali-kali.

'nggaaaak..., maksud saya.. itulah keahlianku' ujarku sembari ku sunggingkan senyum penuh keikhlasan. sontak ruangan menjadi ramai.

aku pun kembali ke tempat dudukku semula. sementara luthfi masih masih di depan. diraihnya mic yang terkulai tak berdaya sehabis ku banting tadi sembari ditepuk-tepuknya.

'tes..tes.., yah.... ' ucap luthfi. namun sang mic hanya diam.

'yah.., rusak..'

Pangkalpinang, 01-02-2012

catatan :

meski sering bertemu, aku tak pernah minta maaf pada luthfi.. sampai kini. so.. kalau ada dari kawan2 sekalian yg bertemu luthfi tolong sampaikan permintaan maafku padanya.  o.. ia, sampaikan juga pesanku : 'aku gak gondrong lagi'
Baca Selengkapnya...

Sunyi

Sang sunyi ziarah di perbatasan jaga dan mimpiku..
menemani dalam sendiri merepih durja..
biarlah saat ini kujamu hadirnya..
Di remang yang ini.. dengan senyapnya ia berbisik :
      ..aku tak mungkin setia di sisimu..
      apalagi dengan iramaku yg sepi..
      karena aku tak pernah abadi..
      akulah sunyi..
 
24 Januari 2012
Baca Selengkapnya...

Kaulah Malam Itu..

Tanpa kesengajaan yang terasa dipaksakan...,
entah Tuhan siapa yang tiba-tiba mengusik  heningku..
yang kurasa mengalir begitu saja...
menari dengan indahnya jemari ini..
di setiap detik yang terketik...untuk syairku malam itu...
nama juga wajahmu kerap bahkan selalu hadir di pelupukku...

Aku tak tahu pesona apa yang ada di dirimu...
hingga ragaku pun tak juga terlalap seiring  pagi yang  tersengal menghembuskan embunnya...
di tengah sunyi yang kerap berbisik sepi...
yang kurasa aku hanyalahi mentari senja  yag kehilangan mega jingganya...
aku tak berdaya...

Tapi, seiring keangkuhan yang seperti meraba dalam gulita...
tak juga aku tahu.. ada apa ini..??
Mengapa dengan diriku??
Atau memang benar kaulah yang t’lah merenggut  lelapku..
yang selama ini selalu kudekap dalam dalam syair-syair konyolku..

Ah, aku yakin kaulah ‘malam’ itu...
kaulah nama yang mecoba bersemayam di relungku..
maaf, jika teriakku hanya menakutimu...
karena yang kurasa aku hanyalah pecundang di tatapmu...
tak pantaslah jika aku mengharap pesonamu...
ataukah sang malam kembali membisu...
dan larut  kian menjemput....
sunyi...

27-01-2012
Baca Selengkapnya...

RITUAL

Gelombang hening berkeliaran di singgasanaku kini....
Sementara lalat lalat beterbangan kian kemari sembari terus bernyanyi...
Entah apa yang dinyanyikan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku.... yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama....
“Wew.. ada barang baru...”otakku coba menebak

Kucoba sebaik mungkin untuk meningkatkan kenyamanan yang membuai di antara gemuruh luruh lututku....

Sepoi angin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali....
Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana, menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami.

Dalam situasi sekarang, aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu, walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan suara apa yang akan muncul dan dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini.

Ah... “plung”..
kau dengarkah suara merdu itu?

Sunyi....

Dinihari yang menyepi...
April 2010
Baca Selengkapnya...

ngeheng

kusaksikan di kamar kos ku. ..... seorang kawan yang bermimpi jadi penyair. Di hadapan komputer yang sudah sangat butut diiringi suara fals dari sang Iwan ia mengetik... tampaknya menulis puisi.....
kawan yang satu tampak asik es-em-es-an........sembari asik menghisap Bintang Buana. Selesai sms ia tampak bengong. Diseruputnya kopi di hadapannya. Kembali ia bengomg. Entah apa yang di fikirkannya.
Dua kawan yang lain tampak asik tidur . Capek tampaknya.. habis mbenerin komputer semalem.
Aku sendiri bengong.. mau ngapain. Ah.... mending nulis fikirku. Kuambil buku tulis. Yah kok abis.......... mana halaman yang kosong.... kuambil makalah yang gak jadi ku kumpulkan kemarin. Kutulis di belakangnya. Eh. Yang jadi ....ini.... ya ini........
Suara Iwan masih mengalun dari komputer....tiba-tiba suaranya suaranya terhenti...anjrit ‘ngeheng’........... belum ‘disep’ lagi....... teriak sang penyair....

Yk. Sabtu 15 Mei 2010 12:30
Baca Selengkapnya...

Nguap

Hampir tiga jam aku hanya bisa berbengong diri tak bisa memikirkan apa yang mesti kutulis. Mataku sebenarnya sudah terkantuk-kantuk hingga hendak kurebahkan diriku melayani keinginan mata. Tapi enggan rasanya jika harus kuturuti, juga akibat fikiran-fikiran yang berkecamuk dalam otak silih berganti dan berubah-ubah tak tentu. Indah dan suram pun tak dapat ku pisahkan. Ketika keinginanku memburu ingin cepat selesaikan segala apa yang kuingin. Perasaan terus memburu, terburu-buru mungkin itulah kesanku.

Entah apalagi yang mesti kutulis, aku jadi bingung sendiri. Hanya sepi seperti kata Ikke Nurjannah. Ah... dari pada bingung cari-cari tema apa yang mesti kutulis mendingan kulanjutkan saja rencana cerpenku yang kemarin. Namun lagi -lagi aku bingung, apa yang mesti kutulis. Kusulut setengah batang kretek sisa habis makan tadi. Siapa tahu aku dapat ide atau juga inspirasi. Nah... makbul juga akhirnya, he... he...he.....

Di kamar sebelah kusaksikan kawan juga sedang nulis. Malam minggu yang membosankan, tapi dari pada bengong mending nulis. Nulis apa kek, cerpen, opini, atau luapan-luapan yang penting nulis, kan lebih bermanfaat. Suara motor di jalan membuat bising di tengah malam, aku hanya bisa misuh-misuh. Tak harus kutulis apa yang keluar dari mulutku, kurasa kau pun tahu atau jangan-jangan kau akan mengatakan hal yang sama yaitu satu kata, atau tepatnya kata itu adalah nama seekor ....... (aku yakin kau akan mengaggukkan kepalamu, dan cobalah tersenyum sedikit aja kalau tebakanku betul...?) pasti tahu ( itu nama lauk makan favoritku, termasuk juga tempe).

Nah..., aku jadi bingung lagi apa yang mesti kutulis. Aku menguap beberapa kali, kurasa mataku sudah cukup berat....mending bo-bo’ ah, siapa tahu (eh..., tempe lagi) mimpi dapat ‘kedelainya’ Aur***ih. Lumayan nambah gizi, bisa dibuat tahu bacem. “Haaae....p”

Jogjakarta, Maret '09
Baca Selengkapnya...

Narsis Itu Penting

“NARSIS ITU PENTING”. Kata seorang kawan yang juga seorang penulis di suatu sore. Entah apa yang difikirkannya saat itu. Tapi dengan mimik yang setengah bercanda ia justru melanjutkan ocehannya. ”Kita hidup di jaman sekarang ini sangat dibutuhkan yang namanya NARSIS” lanjutnya sembari dibenarkannya sisiran rambutnya yang justru membuatnya semakin mirip dengan kak Seto.

“Maksudnya apaan bro?” aku mencoba menangapi omongannya tadi. Aku yang tengah asik mainin komputer serasa terusik dengan ungkapannya.

“Kalau nggak ‘dinarsiskan’ .. mana orang tahu apa kemampuan kita..” ujarnya tampak serius.

“Nyindir lu.........?” serasa ingin kuucapkan tapi nggak jadi. Aku hanya diam mendengar ungkapannya.

“Bentuk narsis itu macam-macam. Kau lihatlah blogku, blog itu bisa dijadikan sebagai ruang narsis paling narsis, penting itu” lanjut kawanku tadi. Disulutnya sebatang kretek. Dengan santainya ia duduk menyender di tembok kamar. Terpampang jelas di tembok kamar samping tempatnya duduk sebuah rangkaian tulisan tak rapi ‘JANGAN KAU SEMPITKAN DUNIA INI DENGAN MENGURUNG KESUKSESAN DALAM KANDANG’ buah kreatifitas seorang kawan.
Aku masih diam dan hanya bisa membenarkan dalam hati apa perkataannya. Aku hanya merasakan sindiran-sindiran yang kurasakan sebagai pemantik buatku.

“Daripada cerpen juga puisimu  itu nganggur mending dipasang di blog” lanjutnya tampak semakin serius.

“Nyantai bro......, entar aku bikin blog” kataku jadi ikut serius.

“Broot.............ps........ ” kawanku tadi kentut. Nyengir ia langsung kabur, dasar kak Seto.
Dari suaranya kayaknya nggak perawan lagi. kataku dalam hati. Ah..... canda dalam keseriusan.

Wins-25 Juni 2010
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah