Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Serdadu Angin

Setelah berhasil mengalahkan kantuk yang sempat mengangkangiku..
serdadu angin balik menyerangku...
begitu terpimpin dan terorganisir..
mereka sudah berkuasa atas tubuhku.

Segera, kupanggil orang pintar untuk mengusir angin itu dari tubuhku.
diberinya aku semangkuk 'kolak angin'
tapi serdadu angin itu malah terpingkal-pingkal melihat tingkah kami.
aku pun tak habis pikir.. kuundang 'si duet maut' koin ajaib & ramuan cap punggung...
Seperti yang sudah kuduga,, perang besar pun terjadi.
begitu hebat memang..
sangat menggetarkan dada dan punggungku.

Dan... hahahahaha..
serdadu angin pun berkelebat pergi..
namun ia menyimpan dendam yg begitu panas dan membara..
punggungku dapat merasakannya.

Peperangan itu pun berakhir..
hanya menyisakan punggungku yang masih merah kehitam-hitaman..
sebagai tanda betapa dahsyatnya peperangan itu.
ah, koin...
Baca Selengkapnya...

Menjemput Kabut

Lamban kulangkahkan kaki menjemput kabut. Mataku larut akan pemandangan di sela embun yang merayap bersekutu  dengan hembusan pagi, ada rumput-rumput yang harus disiangi, ada cabai yang ranum menggoda harus dipetik, ada tanaman jagung  yang siap panen juga,  dan bulir-bulir embun di dedaunan tembakau semakin menyejukkan mata.  Sementara aroma daun bawang menambah sempurnanya pagiku saat itu. Senyumku pun bicara, petani memang luar biasa.

Langkahku terhenti sejenak, mataku tertuju pada seorang nenek yang tengah memetik cabai tak jauh dari tempatku berdiri.  Takzim, aku pun menyapanya, si nenek hanya mengangguk.  Aku bertanya-tanya, dari mana munculnya nenek itu? Padahal tadi aku tak melihatnya, tiba-tiba muncul dari kabut. Ah, pertanyaan enggak bermutu.

Kulangkahkan lagi kaki. Mata pun kembali menjelajah ke hamparan hijau yang masih berselimut kabut di hadapanku. Udara segar nan sejuk masih mengiringi langkahku. Entah apa yang berkelebat di kepala, terngiang pertanyaan seorang kawan saat sang senja menyambut kehadiran kami kemarin sore di desa itu, TANAH INI MILIK SIAPA CUY?

17/11/2013

Baca Selengkapnya...

Keheningan yang Menikam

Dengan mata yang sombong kuperhatikan setiap denyut irama di sisi kiri tembok tempatku duduk. Seperti melihat cerita kehidupan sesosok manusia yang terasing, ditoreh lewat rangkaian cerita juga lukisan yang semakin gelap. kata-kata terangkai dalam goresan, juga irama yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan wajah di atas alas yang pasrah. Sama saja, masih seperti tahun-tahun yang lalu, sepi memaksaku berimajinasi, dan semakin kuyakini.. lukisanku tak serapi aku memaki.

Di tengah keheningan yang menikam, saat kamar-kamar itu semakin sunyi mencekam akibat ditinggal pergi oleh penghuninya, aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Di celah antara tembok dan lantai kamarku, satu tangan manusia terjulur menembus kasur dengan telapak tangan menengadah ke arah mukaku. Sementara jemarinya menjepit rokok kretek yang hampir setengah batang terbakar. Di tengah rasa terkejut  kudengar suara berbisik dari balik tembok : "join..."

Ya.. Tuhan.., haruskah puasaku batal hanya karena rokok setengah batang? Tak adakah yang lebih menarik?


Yk. 23 Juli 2014 
Baca Selengkapnya...

Cerpen: Sumpah di Kampung Kami

Tiba-tiba dari segala penjuru kampung itu dikejutkan oleh satu keajaiban. Sumpah − sesuatu yang sakral yang sudah menjadi rutinitas di kampung itu, dan bahkan sudah dijadikan semacam ritual keharusan, mendadak hilang. Sumpah telah menghilang.

Kalau dulu penduduk bisa melihat Pemangku Kuasa memakai Sumpah − dilihat khalayak ramai, kini mereka tak lagi dapat menjumpainya. Kalau dulu seorang kekasih masih berani menggandeng Sumpah dengan pujaan hatinya di pelaminan, sekarang sudah tak ada lagi. Kalau dulu ada orang yang berkoar mengatasnamakan Tuhan − membawa Sumpah bersamanya, sekarang sudah tak ada lagi. Bahkan di masa yang lampau mereka kerap menyaksikan Sumpah berseliweran di jalanan, di warung atau di pasar, juga di banyak tempat lainnya, kini lenyap ditelan sunyi. Ya, Sumpah telah hilang di kampung itu, jangankan suara, baunya pun tiada. Ke mana perginya Sumpah?

Orang-orang di kampung itu telah kehilangan Sumpah. Berarti juga mereka telah kehilangan kejujuran. Sumpah adalah hidup mati mereka. Mereka perlukan Sumpah untuk menjamin kejujuran. Selama ini Sumpahlah yang meyakinkan mereka akan suatu hal, yang menghidupkan hidup dan kehidupan, yang memanusiakan manusia dan kemanusiaan di kampung. Juga, tanpa Sumpah, kejujuran sulit dipercaya. Sumpahlah yang meyakinkan kehidupan berjalan wajar, serta membangun kekeluargaan antara penduduk selama ini.

Sebelumnya, kampung itu memang dikenal sangat akrab dengan Sumpah. Bahkan mereka banyak memberikan nama untuk Sumpah. Sebut saja Sumpah Pocong, Sumpah Sampah, Sumpah Serapah, Sumpah Perkawinan, Sumpah jabatan.. dan lain-lain. Atau yang lebih melegenda, Sumpah Pemuda.. juga Sumpah Palapa. Ah, memang banyak Sumpah di kampung itu. Kadang Sumpah pun tumpah melimpah karena begitu banyaknya orang-orang yang ingin menggunakan jasanya. Tak jarang juga Sumpah pun timbul tenggelam tak tentu arah. Tapi kini Sumpah telah hilang begitu saja. Entah, apa sebab ia menghilang.

Karena Sumpah menghilang, sebagian warga kampung pun seperti kebingungan. Mereka diselimuti kegelisahan, mulai menyalahkan Pemangku Kuasa. Menurut warga kampung, Pemangku Kuasalah yang harus bertanggung jawab atas menghilangnya Sumpah. Karena Pemangku Kuasalah yang selalu mesra bersama Sumpah, bak sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Namun Pemangku Kuasa justru menjadikan momen hilangnya Sumpah sebagai proyek tambahan. Dibuatlah Majelis Penyelamat Sumpah.. dengan anggaran yang tentu tidak murah, majelis hasil karya Pemangku Kuasa itu dibuat sedemikian rupa sehingga tersusunlah struktur kepengurusannya, yang tentu dari keluarga sendiri atau setidaknya orang dekat. Mereka ditugaskan mancari ke mana hilangnya Sumpah.

Sudah seminggu sejak dibentuknya Majelis Penyelamat Sumpah, namun tidak ada hasil yang didapat. Padahal anggaran kampung yang dikeluarkan demi terbentuknya Majelis Penyelamat Sumpah tidaklah main-main. Dan seperti yang sudah-sudah, Pemangku Kuasa selalu meminta warga agar sabar dan menunggu, menurutnya pencarian masih akan terus berjalan. Jika dalam jangka satu bulan sejak dibentuknya Majelis Penyelamat Sumpah, dan Sumpah tetap tidak ditemukan maka personil dari Majelis Penyelamat Sumpah akan ditambah lagi, agar pencarian semakin massif. Tapi meskipun diam tentu warga sudah faham dengan akal bulus Pemangku Kuasa. Ya, bagi-bagi proyek keluarga lagi.

Azan Magrib berkumandang menyambut pulang para warga dari bertani, suaranya begitu mendayu diiringi senyum sumringah pak tani dan bu tani selepas seharian bekerja di sawah−memanen hasil karya mereka. Ada yang memanggul karung gabah. Ada yang memakai gerobak. Ada juga yang memanggul reranting kering. Sumringah mereka karena panen sudah menyambutnya.

Di sudut kampung, di sebuah warung kopi. Saat malam menjelang diterangi cahaya pias remang-remang, sembari melepas penat setelah seharian bekerja di sawah terdengar jelas celoteh tawa juga kelakar dari beberapa warga kampung di sana.

“Pak, sepertinya Pemangku Kuasa itu semakin semaunya saja ya, bikin tim ini.. itu.. tapi nggak jelas hasilnya” ujar seorang pemuda sembil menyenderkan badan tegapnya yang juga gelap itu ke dinding warung yang berbilik bambu. Terdengar suara berdecit saat ia menggeser senderannya.

“Benar kamu Wan, sejak Sumpah-Sumpah itu hilang ditelan angin sepertinya sudah tak ada lagi yang mampu mengontrol mereka” si bapak yang diajak bicara menimpali, sembari mulutnya tetap mengunyah gorengan ubi. “Padahal anggaran yang kita keluarkan nggak sedikit Wan. Dari sebelum mereka terpilih sampai bikin acara-pelantikan-pelantikan segala yang perlu tetek-bengek ini itu” lanjut si bapak tampak serius.

“Iya, seandainya Sumpah masih ada di kampung ini, mungkin meraka tidak akan berbuat semaunya. Terus kira-kira ke mana hilangnya Sumpah?” Tanya si pemuda sambil manggut-manggut. Diseruputnya kopi di hadapannya. Tak jauh dari mereka terlihat beberapa orang yang baru tiba di warung kopi itu memesan sesuatu ke pelayan warung.

“Wah, kalau itu aku juga nggak tahu Wan, mungkin sembunyi di ketiak Pemangku Kuasa.. hehehe” jawab si bapak tampak terkekeh. Si pemuda pun tak mau ketinggalan terkekeh. Tampak beberapa orang memperhatikan mereka.

“Woy, ada apa ini? Kok kalian ketawa nggak ngajak-ngajak” terdengar suara dari sudut ruangan.

“Eh, Pak Saleh..hehehe. Ini lo Pak, si Pak Ali masa’ ngomongin ketiak.. hehehe.” Ujar si pemuda sembari tersenyum. Dia pun menggeser posisi duduknya saat dilihatnya Pak Saleh menghampiri. Pak Saleh pun langsung ambil posisi di antara mereka.

“Wanto.. Wanto, kamu tu lo.. mbok jangan mikirin ketiak, pikirin dulu cari istri, hati-hati nanti jadi bujang lapuk kayak Mat Moneng… hahaha” Pak Saleh yang baru menyamankan posisi bokongnya itu pun tertawa disambut juga oleh Pak Ali dan Wanto. Seisi ruangan pun pecah karena tawa mereka. Sang pemilik warung hanya tersenyum-senyum melihat polah mereka.

“Nganu Pak, si Wanto nanyain kira-kira Sumpah sembunyi di mana? Selain di ketiak ada kemungkinan lain nggak?” Pak Ali pun coba mengembalikan pasal-muasal mereka bicara.

“Di bokong… hahahaha” jawab Pak Saleh. Mereka pun kembali tertawa. “Kalau menurutku, itu sulit untuk dijawab. Biarlah Pemangku Kuasa melakukan pekerjaannya” lanjut Pak Saleh dengan muka sumringah melepas tawa.

“Terus bagaimana dengan keadaan kampung ini yang semakin carut-marut sejak ditinggal Sumpah. Masa’ kita diam saja” Wanto menimpali.

“ Aku juga bingung sebenarnya, ke mana kira-kira dia pergi. Kok pergi nggak pakai permisi” Pak Ali menambahkan.

“Menurutku, memang perlu kita mencari tahu ke mana perginya Sumpah. Tapi yang nggak kalah pentingnya adalah− mencari tahu apa yang menjadi penyebab hilangnya Sumpah.” Pak Saleh bicara sembari melanjutkan menghisap kretek di tangannya.

“Wah, benar. Kok nggak kepikiran ya. Apa penyebabnya Sumpah menghilang, malah sibuk mikirin ke mana perginya Sumpah.” Gumam Wanto, kepalanya sedikit mengangguk-angguk, sedang jarinya terlihat asik memainkan janggut yang baru tumbuh sedikit.

“Coba sekarang kita cari tahu, kapan terakhir kali kita menjumpai Sumpah” ujar Pak Ali.

“Kalau saya terakhir melihat Sumpah itu bersama Pemangku Kuasa” timpal Wanto.

“Ha... waktu sapi-sapi warga mendadak hilang itu ya?” Pak Saleh manggut-manggut. Coba menebak jalan pikiran Wanto. Dibakarnya kretek kemudian dihisap dan dihembuskan perlahan.

“ Iya Pak. Dua bulan yang lalu. Waktu itu bukankah orang-orang sedang berada di sawah kecuali Pemangku Kuasa dan para abdinya!”

“Iya Wan, kalau nggak salah kita sudah bertanya ke Pemangku Kuasa. Tapi nggak ngaku” kata Pak Saleh, dia pun diam sejenak sembari menyambar kopi di hadapannya yang sudah mendingin. Diseruputnya hingga tuntas tersisa ampas. Mungkin dia berpikir kopi itu lebih baik segera dihabiskan dari pada didahului lalat. “terus Pemangku Kuasa bersumpah, bahwa dia tidak mencuri sapi-sapi warga” lanjut Pak Saleh. Disekanya ampas kopi yang menempel di bibir.

“Ummm., seingatku justru sebulan yang lalu. Ya, waktu hilangnya dana dari penjualan beras sumbangan warga. Beras yang diambil dari sukarela warga. Memang sih, warga tak merasa berat, toh mereka berpikir juga untuk kepentingan mereka. Tapi waktu beras-beras itu terkumpul banyak dan di jual ke kota, uang hasil penjualannya pun lenyap. “ Pak Ali bicara tak lupa dihisapnya kembali kretek di jarinya.

“Oh, sayang sekali hilang, padahal rencananya akan dibangun irigasi untuk persawahan di Kampung ini” kata Pak Saleh.

“Kabar-kabarnya Pemangku Kuasa kerampokan waktu di kota Pak” kata Wanto, sembari meminta sebatang rokok milik oPak ali yang terkulai di meja.

“Ah, itu akal-akalannya saja, aku sudah ndak percaya sama mereka” terlihat kekesalan di wajah Pak Ali. “Nah, saking kesalnya saya setelah kejadian itu, bersama beberapa warga kami mendatangi Pedukuhan Pemangku Kuasa , eh mereka malah bersumpah kalau mereka memang kerampokan, dan dana yang mereka pegang amblas tak tersisa,” Pak ali bicara dengan geramnya. “Dan waktu kupaksa mereka untuk jujur, eh saya malah dipelototin, terus Pemangku Kuasa bicara kalau dia siap digantung di pohon jengkol yang ada di sawah saya seandainya terbukti menyelewengkan dana warga.”

“Ooo.., ya.. sepertinya memang waktu itu terakhir kali Sumpah ada di Kampung ini, ya.. ya.. ya..” Pak saleh tampak manggut-manggut.

“Saya itu masih jengkel kalau bertemu dengan Pemangku Kuasa. Wong waktu itu saya bertanya baik-baik, malah dipelototin. Sampai-sampai pohon jengkol saya yang ndak bersalah pun dibawa-bawa... huh, dasar.. ” cerocos Pak Ali.

“Terus sekarang kita ngapain nih Pak..?” Wanto bertanya, tampak semangatnya begitu menggebu.

“Begini saja, kita tunggu sekitar dua minggu lagi, kalau Pemangku Kuasa tidak menghasilkan apa-apa dari yang dikerjakannya, baru kita bertindak” saran Pak Saleh.

“Iya, dua minggu saja. Jangan sampai dana yang sudah di keluarkan jadi terbuang sia-sia lagi” tambah Pak Ali.

“Kalau sudah dua minggu terus tindak lanjutnya kira-kira apa ?” Wanto kembali bertanya. Tapi suaranya kali ini terdengar pelan seperti menggumam, bahkan suaranya kalah dari suara sendok yang beradu dengan gelas saat pelayan warung mengaduk kopi. Pak Saleh dan Pak Ali hanya diam menaggapi pertanyaan Wanto. Entah mungkin mereka kurang mendengar pertanyaan wanto atau sedang memikirkan sesuatu, hanya gelas kopi yang tahu. Suasana mendadak hening. Mereka pun sibuk dengan lamunan masing-masing.

Satu pemandangan menarik tiba-tiba muncul. Seorang gadis berparas ayu dengan rambut sebahu tiba-tiba hadir di warung kopi. Sontak pandangan Wanto hanya tertuju pada gadis itu. Dilihatnya gadis itu memesan sesuatu ke pelayan warung. Wanto sempat menangkap kerlingan mata sang gadis ke arahnya. Dilihatnya gadis itu terlihat serasi dengan kaos oblong biru gelap yang dikenakannya, ada gambar wajah sesosok laki-laki gondrong dengan mengenakan baret di kepala. Wanto pun tersipu-sipu sendiri. Mendadak dia jadi salah tingkah. Digaruknya kepalanya yang tak gatal. Entah pikiran apa yang berkelebat di kepalanya begitu melihat wanita berparas ayu di warung itu.

“Hoy.. jangan ngelamun… Wan ” Pak ali memecah kebisuan. Dia bicara sembari tangannya mendorong pundak Wanto. Wanto yang terkejut hanya senyum-senyum.

“Cantik sekali, siapa sih itu” Wanto bertanya-tanya. Suaranya agak pelan sebatas hanya didengar oleh meraka bertiga. Dia pun senyum-senyum sendiri.

“Wooo… dasar bocah gemblung. Itu si Maeda.. anak saya” kata Pak Ali. Wanto sedikit terkejut namun dia hanya nyengir mendengar perkataan Pak Ali.

Malam pun semakin larut, warung itu mulai beranjak sepi. Dan suara jangkrik pun datang menghampiri mengisi sunyi.

***

Dua minggu sudah berlalu. Tapi tidak ada tanda-tanda hasil dari dibentuknya Majelis Penyelamat Sumpah. Warga pun semakin geram dengan polah Pemangku Kuasa. Namun kegeraman warga tak mampu mereka tunjukkan di depan hidung Pemangku Kuasa. Mereka sadar telah dikibuli oleh Pemangku Kuasa. Namun apalah daya, mereka seakan tak punya kuasa. Ada yang ingin melawan, tapi yang lain justru coba mencegahnya. Ada juga yang masa bodoh dengan tingkah-polah Pemangku Kuasa, bahkan tak sadar bahwa dia tengah dikibuli. Bahkan ada yang tahu namun tak mau tahu.

Saat mentari baru saja naik sepenggalan, pagi itu warga akhirnya dapat dikumpulkan. Entah bagaimana caranya, justru Maeda anak Pak Ali mampu mempengaruhi warga untuk berkumpul bersama dan berencana menuntut dibubarkannya Majelis Penyelamat Sumpah, karena warga tak melihat ada tanda-tanda Sumpah ditemukan.

Warga pun berkumpul menuntut dibubarkannya Majelis Penyelamat Sumpah. Namun ketika warga sudah berkumpul di depan Pedukuhan Pemangku Kuasa, rumah dinas itu terlihat sepi, tak ada aktivitas di sana. Wargapun bertanya ke petugas jaga di pedukuhan itu. Namun petugas jaga justru mengatakan Pemangku Kuasa dan para abdi sedang blusukan ke sawah-sawah. Blusukan!!

“Aneh, wong kita nggak ada yang ke sawah.. mereka malah blusukan. Ada-ada saja” gerutu seorang warga. Diikuti anggukan oleh beberapa warga yang lainnya.
“Jangan-jangan mereka malah plesiran ke kota.” Ujar warga yang lain.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, juga saudara-saudara semua, bagaimana kalau kita datangi saja ke sawah, siapa tahu dia memang sedang blusukan ke sawah” Wanto bicara sedikit lantang. Dia terlihat ada di tengah-tengah warga. Tak jauh darinya terlihat juga Pak Saleh yang terlihat mengenakan peci leceknya. Sedang Pak Ali berdiri di samping Maeda anaknya.

“Iya, betul kata mas Wanto, sebaiknya kita segera bergegas. Jangan sampai dia menghilang. Kita harus menuntut kejelasan jika memang mereka bekerja.” Maeda pun ikut bicara. Nada suaranya terdengar begitu menggebu-gebu.

Warga pun akhirnya menuju ke sawah. Melintasi jalan setapak, melewati beberapa kelokan, melalui beberapa sawah dan terlihat padi yang sudah menguning tanda siap dipanen. Beberapa warga ada yang sudah memanen, sebagian belum. Di tengah langkah mereka, terdengar cerita-cerita dari mulut mereka tentang kapan mereka akan memanen atau tentang tengkulak yang terus menggerogoti hasil panen warga. Juga tentang harga pupuk yang semakin melonjak tinggi.

Hari sudah menjelang siang, mereka sudah melintasi beberapa pematang sawah, namun tak juga menemukan Pemangku Kuasa, atau setidaknya abdinya. Namun mereka terus melangkah dengan harapan apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah kesia-siaan. Hembusan angin yang menerpa menjadi sedikit penghibur bagi mereka.

Di tengah kebingungan yang melanda warga kampung, saat terik mentari di atas kepala, terlihat dengan jelas sesosok orang tengah duduk berteduh di bawah rindangnya rumpunan bambu tak jauh dari sawah Pak Ali. Semakin dekat semakin jelas sosok orang itu.

“Hei.. itu orang yang kita cari, Pemangku Kuasa” teriak seorang warga dengan riangnya seibarat menemukan secuil air de tengah dahaga. Para warga pun segera mempercepat langkah. Orang yang mereka tuju pun seperti terkejut melihat kerumunan warga menghampirinya. Dianjakkannya tubuhnya dan berdiri dengan berusaha dibuat segagah mungkin, dengan maksud agar terlihat berwibawa.

“Eh, kok ramai-ramai nih, ada apa ya?” Pemangku kuasa membuka obrolan begitu dilihatnya warga sudah mendekat ke arahnya.

“Begini pak, sebenarnya kita hanya minta kejelasan dari bapak sebagai Pemangku Kuasa” Pak Saleh bicara mewakili warga “itu pak, masalah Sumpah, bukankah bapak sudah membentuk Majelis Penyelamat Sumpah, tapi kok kita tidak melihat hasilnya. Ini sudah satu bulan lebih lo pak.” Lanjut Pak Saleh.

“Oh, itu.. saya kira ada apa” Pemangku Kuasa coba menanggapi perkataan Pak Saleh.

“Ini masalah serius pak, kita nggak mau terus-terusan dibohongi, kalau bapak memang serius dengan pekerjaan bapak, tentu kita melihat hasilnya, atau setidaknya ada yang didapatkan mungkin petunjuk, meskipun kecil mestinya ada dong, kalau tidak mending bubarkan saja Majelis Penyelamat Sumpah itu” Maeda yang tak jauh berdiri dari Pak Saleh turut berujar.
“Iya.. betul itu.. “ teriak beberapa warga hampir bersamaan.

“Aduh.. aduh… siapa yang bohong sih, wong kenyataannya kita memang belum mendapatkan hasil apa-apa” balas Pemangku Kuasa.

“Huuu…” seperti kur, beberapa warga berteriak bersamaan.

“Baiklah, warga kampung yang saya cintai dengan segenap jiwa dan raga saya, kita memang sedang berduka cita atas hilangnya Sumpah, namun bukan berarti dengan hilangnya Sumpah kalian dengan seenaknya menuduh Pemangku Kuasa dengan tuduhan yang tidak mendasar. Pada dasarnya Sumpah sendirilah yang menghilangkan dirinya sendiri, kalian harus tahu itu.”

“Halah pak, kami ini memang bodoh, kampungan. Tapi kami ini tidak bermaksud meminta apa-apa dari bapak, bapak cukup menjalankan amanah dari warga dengan semestinya. Itu sudah cukup kok.” Seloroh Wanto yang tampak duduk di tengah-tengah warga. “Oya pak, ngomong-ngomong kok bapak sendirian, di mana para Abdi Pemangku Kuasa dan orang-orang Majelis Penyelamat Sumpah?” tanya Wanto.

“Ummm...e..eng, nganu.. mereka sedang mencari Sumpah, iya mencari Sumpah” jawab Pemangku Kuasa sedikit tergagap.

“Huh, dasar tukang tipu.. bukannya mereka sedang plesiran ke kota, aku kemarin melihat meraka saat menuju kota. “ timpal seorang warga.

“Oooo.. iya, saya lupa” balas Pemangku Kuasa dengan sedikit paksaan senyuman. Digaruknya kepalanya yang tak gatal.

“Huuuuuuu...” teriak warga bersamaan. Pemangku Kuasa pun semakin salah tingkah.

“Ya sudah begini saja, kalau Sumpah memang harus ditemukan sebaiknya Majelis Penyelamat Sumpah ditambah lagi orang-orangnya. Wanto, Endi, Joko, dan yang lainnya juga bisa saya masukkan dalam Tim. Bagaimana?” usul Pemangku Kuasa.

“Ah, nggak perlu. Buang-buang Tenaga dan biaya saja.” Pak Ali yang sedari tadi diam terdengar menyahut dari kejauhan.

“Hooooyyy.., bukankah itu Sumpah? Iya, itu Sumpah..” Teriak seorang warga sembari menunjuk ke arah pohon Jengkol di samping pematang sawah Pak Ali. Teriakannya mengejutkan para warga.

“Yaaa... itu Sumpah” teriak para warga. Mereka pun berkerubut menuju pohon jengkol yang ditunjuk seorang warga tadi. Setelah mendekat para warga pun dapat melihat dengan jelas sang Sumpah terkulai kuyu terikat rapat menggantung di pohon jengkol milik Pak Ali.

“Ayo yang muda, siapa yang mau melepaskan ikatan yang melilit Sumpah itu.” Ujar pak Ali.

Tanpa bicara dan segera berinisiatif, Wanto pun langsung memanjat pohon jengkol itu, memeng agak licin, namun dia tetap berusaha menggapai Sumpah dan dia pun berhasil menggapainya. Dengan perlahan dan terlihat cekatan Wanto pun melepaskan Sumpah dari ikatan yang melilit itu. Wanto terlihat tersenyum saat berhasil melepaskan Sumpah dari ikatan yang membelenggunya.

“Yoyoi... aku berhasil” teriak Wanto begitu gembiranya. saking gembiranya tanpa disadarinya kakinya terlepas dari pijakan. Dia pun terpeleset dan jatuh dari pohon jengkol itu.

Buk!! Wanto jatuh tepat di tumpukan jerami. Maeda dan beberapa warga pun terpekik sembari berlarian megerubuti wanto yang terjatuh.

Saat warga sibuk mengerubuti tubuh si Wanto, tidak ada yang menyadari seseorang di antara mereka telah menhilang. Ya, Pemangku Kuasa telah menghilang dari kerumunan mereka. sementara Pak Ali dan Pak Saleh dan beberapa orang segera memeriksa keadaan Wanto.

“Pak, aku ingin menikah. Sumpah.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Wanto sedikit terbata-bata. Pak Ali dan Pak Saleh tersenyum mendengar ucapan Wanto, sudut mata Wanto pun mencari-cari di mana Maeda, didapatinya wajah Maeda tengah tersenyum ke arahnya. Tak berapa lama Wanto pun tak sadarkan diri sembari memeluk Sumpah.

***

Sejak ditemukannya Sumpah, warga mulai mengatur kehidupannya kembali seperti sedia kala. Namun satu hal yang aneh, Pemangku Kuasa tidak pernah muncul di hadapan warga. Batang hidungya pun lenyap seiring ditemukannya Sumpah. Seminggu berselang, ada kabar yang begitu mengejutkan tentang Pemangku Kuasa. Ya, dia didapati oleh seorang warga tergantung di pohon jengkol dengan tubuh membusuk digerogoti Sumpah.

Yogyakarta, 20 Juli 2014

Oleh : Wins

Catatan:
Ide penulisan cerpen ini berangkat dari kegelisahan saya akan fenomena 'sumpah' yang terjadi di negeri ini. Awalnya saya melihat di media -- sumpah/ ucapan Amin Rais : yang akan berjalan kaki dari Jakarta ke Surabaya. Kemudian saya jadi teringat dengan kasus Anas Urbaningrum yang bersumpah siap digantung di Monas, atau beberapa pejabat negeri yg dengan tega mengkhianati nuraninya sendiri dengan korupsi. Saya jadi kasihan dengan 'sumpah' itu sendiri. Seakan-akan sumpah tidak ada artinya lagi. dan hanya dijadikan pelarian oleh orang-orang yang frustasi. Ya, sumpah yang sudah menjadi simbol kesakralan itu mendadak hilang.

Nah, terkait dengan PILPRES kali ini, kita lihat banyak orang yang bersumpah, contohnya 'Mat-Dani yang berjanji siap dikebiri, anak Bang Haji yang pengen tinggal di luar negeri, juga mbah Amin yang akan ke Jogja dari Jakarta berjalan kaki. atau relawati yang siap bugil keliling Bundaran HI. Nah.. pertanyaannya kemudian mereka berani nggak melakukan itu seberani mereka mengucap sumpah? Kalau itu (mengucap sumpah) mereka anggap hanya sekedar guyonan, maka alangkah tiada harga dirinya 'sumpah'.
Baca Selengkapnya...

Cerpen: Kekasih untuk Malam

Lelaki  itu menatap kosong ke angkasa menembus awan. Disapanya  alam  yang tampak akrab di sore nan cerah itu. Dedaunan melambai-lambai lembut. Sementara angin sepoi-sepoi berhembus melenakan mata. Burung-burung pun tak mau ketinggalan memeriahkan suasana. Seperti mengejar mentari, berduyun- duyun mereka terbang ke barat. Karenanya jualah  hari  mengabarkan mentari segera permisi.

Tapi keakraban di sore itu tak dapat menutupi kegelisahan hati lelaki itu. Dari raut mukanya terlihat jelas kegundahan yang merayap di hatinya. Tatapan matanya  penuh selidik. Seringai muka dari wajahnya menjelma saat sang senja menyapa,  Ia begitu iri dengan mega-mega yang berarak mengiringi kehadiran senja. Namun senja yang memang dinantinya hanya tersenyum penuh keramahan menyambut kehadiran lelaki itu. Tanpa seperti dipaksakan sang senja yang tampak begitu anggun di sore itu menyapa lelaki berambut ikal yang tetap saja termangu menatapnya.

“Ada apa kau menemuiku?” senja mengawali pertemuan itu dengan pertanyaan penuh senyuman.

Lelaki itu hanya tersenyum seakan dengan senyum cukuplah sebagai jawaban baginya.   Ditariknya nafas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan.Udara yang dihirupnya turut terengah-engah mengiringi degup di dada, sedang matanya ke langit menatap siluet senja yang melukiskan hari beranjak malam. Tatapannya  tajam menerobos jauh membelah udara menembus gumpalan awan putih di ufuk barat yang memerah. Pandangannya seibarat anak  panah yang terlepas dari busurnya, begitu cepat tapi tak pernah sampai pada titik tertentu.

“Ada apa, cerita saja…” kembali senja bertanya.

Dia hanya kembali menatap senja lalu diam. Dipaksanya kembali untuk tersenyum tapi begitu jelek rupanya senyum itu  kala bercermin dengan beningnya awan senja. Ia merasa merasa kikuk di hadapan senja.

“Cobalah kau lihat mentari itu, ia tak akan menjadi indah tanpa kehadiranku” ucap  senja sembari memandang  mentari . Lelaki itu pun menolehkan pandangannya ke arah mentari.

 “Ia, justru itu aku semakin iri denganmu, juga dengan mentari” timpal lelaki itu. Gumamnya meluncur dari bibirnya.

Waktu pun seperti berhenti mendengar suara lelaki itu. Senja tampak termangu begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu. Pikirannya menerawang jauh, mengingat memori yang telah lalu, dan ia sadar kalau lelaki itu pernah sangat mencintainya. Cepat-cepat dipalingkannya muka ke arah lelaki itu. Meraka pun sama-sama diam. Hanya suara agin yang terdengar asyik bercumbu dengan reranting pohon.
 
“Kalian begitu serasi” lanjut lelaki itu. Seperti memendam amarah ia bicara, terdengar berat suara yang keluar dari mulutnya. Senja hanya menoleh ke arahnya, ia tersenyum begitu mendengarnya.

“Kamu kenapa..? Tak perlulah kau iri padaku.. juga pada mentari,” senja tampak masih tersenyum dan menatap lelaki itu lekat-lekat “Kalau memang kau iri, cerita saja kenapa? Aku juga tak pernah menyangkal kita pernah saling mencintai.”

 “Ya, kita dulu pernah saling mencintai.” Lelaki itu berhenti sejenak dengan gumamnya. Matanya menerawang jauh menembus cakrawala. Ditelannya ludah yang menggumpal di ronga mulutnya. “Aku takkan pernah lupa, tapi aku tak mau mengulanginya” lanjutnya.

“Terus maumu apa? Bicaralah... aku tak cukup punya banyak waktu…”

“Aku begitu cemburu padamu, dan aku sadar kini tak ada lagi yang menghalangi cintamu dengan mentari.”

“Apakah kau masih mencintaiku?” tanya sang senja.

“Tidak, sudah sejak lama aku tak pernah lagi bisa mencintaimu” jawab lelaki itu. Ia menoleh sejenak ke arah mentari,  “Mungkin aku hanya iri. Dirimu adalah dirimu, senja. Kau ada karena Tuhan menciptakan mentari, dan aku dapat merasakan betapa indahnya cinta yang kalian bangun bersama. Bahkan orang-orang selalu menanti kehadiran kalian, menanti cerita apa yang kalian bawa.”

“Ia, lalu masalahmu apa? Katakan saja, mungkin aku bisa membantu”

“Aku jatuh cinta.”

Sang senja tampak terkejut mendengar ucapan lelaki itu. “Hahaha..., selamat!!!.,”  senja tertawa, meski hanya berusaha menutupi keterkejutannya, “Akhirnya  setelah sekian lama, kau bisa merasakan cinta. Siapa yang sudah menawan hatimu itu?”

“Malam, dialah yang begitu memikat hatiku”

“Benarkah?“

“Ya”

“Owh, jadi, selama ini kau bersembunyi dariku, kau tengah merajut kasih dengan malam!! Ya ya…ya, selamat!”

“Tidak!!, Mungkin  ini hanya cinta sepihak, aku masih belum bisa bicara padanya. Bahkan yang kudapati aku tak mampu menggerakan bibir  di hadapannya, meski hatiku terus meronta-ronta. Betapa keras getar yang kurasa ketika menatapnya, entah pesona apa aku tak tahu, yang jelas dia begitu mempesona di pandanganku”

“Segitunya?”

“Ya, aku tak bermaksud melebih-lebihkannya, apalagi sekedar membuatmu cemburu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku tentangnya...” lelaki itu mulai tersenyum. Senja hanya tertawa kecil mendengar kata-kata yang meluncur dari lelaki itu,“Bantulah aku untuk merayunya, aku tak mampu berucap barang sekata di hadapannya. Ia begitu anggun” lelaki itu memelas penuh harap.

 “Aku tak bisa” jawab senja.

“Kenapa tak bisa? Bukankah kau berjanji akan membantuku?”

“Aku benar-benar tak bisa kalau itu permasalahanmu, tapi bukan pula aku menaruh cemburu,”.
 
“Lalu apa, kalau kau memang tak lagi menaruh cemburu di hatimu?”

 “Aku tak bisa, entah mugkin inilah takdirku.. “.

“Takdir apa?” tampak sinis lelaki itu bertanya.

“Aku hadir hanya bisa sebatas di perbatasan. Bukankah kau tahu.. tidak setiap waktu kau bisa menemuiku…??”  Senja kembali terdiam, ia merasa tersudut. Tiba-tiba tatapannya menjadi redup, diliriknya mentari yang perlahan-lahan beringsut dari duduknya. “Kau ingat waktu itu, saat kita masih saling mencintai dulu, saat kau tengah asyik mencumbuku, si mentari pergi.. dan aku tak bisa meninggalkannya. Aku ingat ia masih sempat mengintip kemesraan kita kala itu.. dan ia pun berlalu. Waktu itu aku tak bisa berlama-lama denganmu… bukan aku tak menikmati, tapi aku harus peduli pada mentari. Tanpanya aku tak ada… meskipun aku tak kuasa ketika mendung kelabu menyelimutinya…”

Lelaki itu diam mendengar alasan yang dilontarkan senja. Sementara sang senja pun semakin redup seiring mentari yang semakin menghilang ditelan temaram.

“Maaf, aku tak bisa membantumu” ucap sang senja lirih sembari berlalu menyusul mentari yang sudah  terlebih dulu meninggalkannya.

Lelaki itu hanya termangu di perbatasan siang dan malam yang semakin sempit itu. Menengadah ia sembari matanya menatap tajam-tajam ke langit yang semakin suram.
***


Suara hujan begitu bergemuruh di luar sana. Semilir angin masuk melalui celah ventilasi menebarkan dingin hingga ke sudut-sudut ruangan. Di ruangan yang hanya diterangi lampu neon redup, lelaki itu tampak  bertelanjang dada seakan menantang hawa dingin dari hujan yang terbawa angin. Dibiarkannya saja  tusukan-tusukan angin itu menembus pori-pori. Sembari terus bermenung disulutnya sebatang kretek dan  dihisapnya perlahan.  Sesekali ia menoleh ke  jendela. Terlihat tetes-tetes hujan berkilauan  terkena cahaya lampu yang menerobos keluar melalu celah jendela yang sedikit terbuka. Kelam  pun bersambut hujan.

Perlahan ia berbaring, tampak serangga-serangga  kecil beterbangan mengitari lampu di atas kepalanya. Dilihatnya serangga-serangga  itu terus menari dan bercumbu tanpa malu-malu. Entah, kenapa  di sudut ruangan yang begitu mencekam itu  ia harus memendam rasa rindu. Pandangannya pun kembali ke jendela. Diintipnya kegelapan yang menyelimuti malam… seperti iri ia menggumam “ Wahai kegelapan, kenapa kau mencuri malamku..? Padahal sudah bertahun aku merindunya…??”.

Dalam sendiri hanya berteman hujan, lelaki itu berbisik dan terus berbisik. Sementara hujan senada orkestra yang mengiringi lirih suaranya. “Malam, Entah ada apa denganku saat ini, sehingga yang ada di benakku hanyalah dirimu. Rinai hujan, dan dinginnya angin yang berhembus semakin membuat perasaan ini hanyut ke mana-mana. Entah jika tiba-tiba ombak mendamparkan perasaan itu di sisimu...” terdengar begitu lirih suara itu.Dalam mangu lelaki itu kembali terpaku. Dilihatnya jendela yang terbuka dan tertutup dihempas-hempaskan angin. Sementara halilintar sesekali terdengar menggelegar.

“Lembaran memori usang telah hangus terbakar emosi. Dan lembaran baru ingin kutulis bersamamu. Dan percayalah masih ada lembaran itu dan akan menuliskan namamu juga wajahmu, dan ada kisah tentang kita” ucap lelaki itu sembari tangannya menepuk dada.

Meskipun begitu, malam mungkin masih diam, entah gerutu entah apa ia selalu begitu.  Diiringi ratapan hujan yang syahdu, masih saja akrab terdengar suara dari lelaki itu.

“Entah siapa yang melukismu saat ini, karena aku ingin sekali melihatmu  walau langit dipenuhi awan hitam dan jatuhan hujan, kucoba merengkuh imaji yang di dalamnya hanya ada kisah cinta yang setiap adegannya  adalah kau dan aku. Ada tawa, senyum ramahmu, ada celotehku tentang dirimu dan segalanya tentang kita” lelaki itu bicara sembari menatap ke jendela.

“Biarlah kulukis sebuah senyum di antara langit dan hujan, tapi entahlah, bagaimana... dengan apa melukismu aku tak tahu. Entah jika tiba-tiba kau bawakan aku kanvas untuk menampung air mataku...”

Lelaki itu terus merapal cerita tentang cintanya. Tak disadarinya waktu pun beranjak pagi. Sementara jendala yang hanya ada satu-satunya tampak terbuka setelah dihempas-hempaskan angin yang mengiringi hujan.

Angin pun tiba-tiba berhenti berhembus. Perlahan-lahan-lahan menyusut menyisakan sepoi kecil menerpa gendang telinga sang lelaki. Didengarnya suara bisikan dari angin "Cepatlah.., cepat katakan.. aku sedang menahan hujan agar malam mendengarmu".

Mendengar bisikan di telinganya, Lelaki itu bangkit dari baringnya. Kepalanya mendongak keluar melalui jendela. Dikumpulkannya nyali dan segala kekuatan yang masih menyisa di dirinya. Di tengah gulita dalam tatapannya, ia berteriak dengan suara yang begitu lantangnya.

“Malaaaaaaaaammm....., cukuplah kau jadi malamku saja.....” seperti memecah sunyi, suaranya menggema berkali-kali.

Malam pun tercekat.  Ia menoleh ke arah suara itu berasal, tapi dia hanya diam. Entah mungkin ia belum sadar dari keterkejutannya.

“Aku mecintaimu..., sungguh.. bahkan aku tak rela lelap mencuri hatiku” Lelaki itu masih berteriak tapi tak selantang tadi. Ia tahu sang malam menoleh ke arahnya.

“Ah.. sudahlah.., buat apa kau bicara seperti itu, aku tak pantas untuk kau cintai..” tiba-tiba  terdengar suara dari malam yang terasa begitu berat.

“Malam, tak tahukah kau kalau selama ini aku begitu ingin mendengar suaramu? Ya, aku mendengarmu kini...tapi... tapi… ah…”

 “Aku tetaplah aku, buat apa memujiku.. tak sadarkah kau, hanya sang gelap yang bisa merajut setia denganku, dialah yang selalu menghantarkan rindunya padaku. ketika aku merangkak bersama kegelapan sebagian besar dari kalian tak merasa cemburu..bahkan sudah terlelap tak lagi memujiku. Untuk apa”?

“Tapi malam, rasa cinta ini begitu besar.. dan begitu lamanya terpendam di hatiku. Aku ingin kau tahu itu..” kata lelaki itu penuh harap.

“Aku bukan tak tahu kau begitu memuji dan mengagumiku. Bahkan dalam tafakurmu aku tahu kau selalu menyebut-nyebut namaku. Tapi maaf, berhentilah mencintaiku. Karena ada sosok yang begitu bahkan  sangat aku cintai, dialah kegelapan, meski aku kerap berselingkuh dengan rembulan dan bintang. Kau tak perlu cemburu.. dan tak perlulah kau selalu berharap padaku. Karena aku sudah bertekad menjaga cintaku dengannya.” malam tampak berhenti sejenak bicara. Disadarinya hujan kini sudah benar-benar berhenti.

Dengan penuh kesinisan, malam pun melanjutkan bicaranya, “Terima kasih sudah mencintaiku. O..ya,  berhentilah berteriak seperti itu nanti pujaan hatiku cemburu. Tapi kalau sebatas gumam.. itu terserah dirimu saja... mungkin akan kujadikan kata-kata cinta untuknya. Terimakasih.., permisi.”  Tanpa menunggu tanggapan dari lelaki itu, malam pun pergi.

Lelaki itu hanya terpaku mendengar ejekan sang malam. Ia semakin merasa dirinya memang benar-benar pecundang. Ia pun kembali berbaring memeluk sepi. Dihelanya nafas berkali-kali. Sayup masih terngiang di telinganya perkataan sang malam.

Hari pun bersambut pagi. Tapi lelaki itu tak juga menjemput mimpi, ditahannya kantuk yang menyerang berkali-kali. Ulah nakal embun yang coba mengangkangi pagi, tak juga membawanya bercengkrama dengan mimpi atau bersenandung dengkur menghibur diri.  Dibiarkannya angin yang membawa dingin sisa hujan semalam menyambanginya. Lelaki itu hanya mendekap gerimis dalam pelukannya.

“Malam, jika memang kegelapan begitu mencintaimu.. renggutlah gulita di hatiku..”

 Alam seperti diam dan mengamini bisikan lirih lelaki itu. Angin tampak termangu, reranting berhenti berderak dan turut  membisu. Kunang-kunang yang tengah bercumbu di balik pekat pun ikut terpaku. Sementara dari balik ventilasi sang pagi sumringah tersenyum ramah.

Pangkalpinang, 02-02-2012
Baca Selengkapnya...

OSPEK: Catatan Ringan Mengenang Memori

OSPEK..?? ah..

Tiba-tiba fesbuk itu seperti memutar kembali kenangan masa lalu, masa OSPEK (2006).  hingga ku dapati diriku tersudut merasa sendiri. Yang ku tahu perasaan itu semakin menghantui…  entah rasa malu, nyesel, bosan meski ada sedikit rasa senang karena bisa menjumpai kawan-kawan satu angkatan..selamat bagi mereka yang sudah lulus, yang belum lulus smoga tetap semangat.

Kawan, entah di mana kini kalian berada yang jelas rasa rindu untuk berkumpul itu ada, ingin kembali menautkan kisah-kisah yang sempat terlupa.

K utulis begitu saja.. mengalir apa adanya.. di grup BSA 2006, dan ah sebuah catatan yang lucu, hanya bermaksud mengulang memori-memori yang hampir terlupa.  Ini catatan yang sempat ku tulis di dinding fesbuk, tapi ku hapus begitu saja... ah.. (untung sempet ku copy :D)., aku tak bermaksud benar-benar menghapusnya dari memori ini. sebuah catatan yang ku tulis dari Negeri Laskar Pelangi

Ini catatan itu, tak ada yng dikurangi atau ditambahi sesuai dengan yg tertulis di FB....:

diundang pak Cholid.. (makasih pak) masuk ke grup ini..,, jadi inget zaman ospek dulu..

ini yg paling saya inget..:

waktu itu kita kumpul di salah satu ruangan Fak. Adab.

tersebutlah salah seorang panitia ospek sebut saja Luthfi (mungkin nama sebenarnya, ehm) yang mempunyai ide untuk mengisi kekosongan karena pemateri belum datang (entah diskusi apa aku lupa).. dimintanya maba yg ingin unjuk kebolehan utk maju ke depan. namun hanya beberapa saja yg maju...(salut buat kalian yg maju)

'klo gak ada yg mau tampil lagi,, sekarang saya tunjuk ya..' teriak Luthfi terdengar agak kemayu. setelah tak ada lagi yg mau maju.

'huuuuu....' sambut maba seperti paduan suara tanpa dikomando.

aku pun yang duduk di belakang tak mau ketinggalan berteriak.

'ya udah..., saya tunjuk ya.., emm.. kayaknya ada tampang-tampang nyeleneh.. dan pengen terkenal...' kata luthfi sembari ditatapnya maba-maba itu satu persatu.

tatapannya terhenti tepat di mukaku. aku tak tahu rona wajahku saat itu.. yg jelas ada rasa-rasa gemeter. kupegengi lututku yang terasa bergemuruh luruh sambil dalam hati terus berdoa 'moga bukan aku.. moga bukan aku..moga bukan aku..'

'nah ini dia.. coba-coba kamu maju' ucapnya, sementara tangannya menunjuk ke arahku.

aku jadi salah tingkah dibuatnya. ku palingkan muka ke kiri, kanan juga.. belakang, berharap salah satu dari maba di dekatku yang dimaksud luthfi.

'kamu...., ia... kamu.. yang rambut gondrong...' teriak Luthfi. sementara tatapan matanya begitu tajam ke arahku setajam kilauan mata pedang Sayidina Ali. sekiranya ada timun di depannya, pastilah sudah terpotong delapan.

ah, apalah daya.. aku pun maju. dan aku baru sadar ternyata aku begitu nyeleneh saat itu. sementara batinku terus memaki-maki (tak perlulah kutulis makian apa yang terlontak di hatiku kala itu)

'tolong perkenalkan diri mas..' seloroh luthfi.. sembari diberikannya salah satu mic yg di tangannya.

'kenalan apa??' tanyaku pura-pura bingung sembari berusaha sedapat mungkin wajahku kubuat culun. oh, ternyata begitu jeleknya wajah ini ketika bercermin di hadapan maba-maba yang begitu gagah dan anggun itu.

'kenalan, kenalan biasa...., perkenalan...!!!' kata luthfi. 'sebutin nama, asal dan jurusan' lanjutnya.

aku cuma diam mendengar omongannya. sudut mataku pun mecuri-curi ke arah tempat dudukku tadi. ku lihat beberapa mahasiswa (bukan mahasiswi) yang tampak begitu ganjen seperti meraya-rayu dengan senyum-senyum sendiri. ah, ruangan ini terasa jadi pengap.

'ya, udah..., saya nanya kamu jawab.. ya..' lanjut lelaki di sampingku itu.

tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung melontarkan pertanyaan.

'nama.., siapa?'

'wiwin, wiwin solihin'

'asal?'

'palembang'

'ambil jurusan apa?'

'sastra arab'

ia berhenti sejenak.

'mas wiwin...., kamu punya keahlian.. yg bisa ditampilkan?'

'o..., banyak..' ujarku menimpali pertanyaannya.

'apa? coba sebutin...'

aku kembali diam. ku garuk-garuk kepalaku yang tak gatal.

'nyanyi... puisi...cerita.. pantun.. atau apa?

aku hanya menggelang.

'terus apa..? tanyanya lagi. terdengar kejengkelan dari nada suaranya'

aku diam. kembali ku garuk kepalaku yang baru terasa gatal.

sorot mataku pun berubah menjadi garang...

'udah mas, aku gak mau kayak gini' teriakku seperti terlontak amarah itu dari kepalaku.

'terus terang aku gak senang dengan kayak gini' lanjutku dengan nada yg semakin meninggi.

kubanting mic di tanganku, terdengar berdenging di telinga. kusentuh kerah bajunya dan hampir kucekik leher itu dengan tangan kiriku. kudorong tubuh kurusnya (padahal sama-sama kurus) nyaris menyentu papan tulis.  sementara tanganku yang lain sudah terkepal.

kulihat wajahnya begitu ketakutan, dan ronanya memerah.

panitia yang ada di luar ruangan pun segera masuk begitu mendengar keributan. salah seorangnya memegangiku, berusaha melepas cengkramanku pada luthfi. 'udah mas.. udah..' kata panitia itu.

mataku berkeliaran ke sudut-sudut ruangan. hening.

seperti kebingungan, luthfi menghampiriku.

'ada apa?' tanyanya masih kebingungan. dihelanya nafas berkali-kali.

'nggaaaak..., maksud saya.. itulah keahlianku' ujarku sembari ku sunggingkan senyum penuh keikhlasan. sontak ruangan menjadi ramai.

aku pun kembali ke tempat dudukku semula. sementara luthfi masih masih di depan. diraihnya mic yang terkulai tak berdaya sehabis ku banting tadi sembari ditepuk-tepuknya.

'tes..tes.., yah.... ' ucap luthfi. namun sang mic hanya diam.

'yah.., rusak..'

Pangkalpinang, 01-02-2012

catatan :

meski sering bertemu, aku tak pernah minta maaf pada luthfi.. sampai kini. so.. kalau ada dari kawan2 sekalian yg bertemu luthfi tolong sampaikan permintaan maafku padanya.  o.. ia, sampaikan juga pesanku : 'aku gak gondrong lagi'
Baca Selengkapnya...

Diary Qur'an

Tak tahu aku bagaimana memulainya. Hampir tiga jam aku hanya bisa  berbengong diri tak bisa memikirkan apa yang mesti ku tulis. Mataku sebenarnya sudah terkantuk-kantuk hingga hendak ku rebahkan diriku melayani keinginan mata. Tapi enggan rasanya jika harus kuturuti, juga akibat fikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otak silih berganti dan berubah-ubah tak tentu. bayangan-bayangan yang menjemukan bermunculan dalam benakku tiba-tiba muncul perut, ada kepala, ada  jalan raya.. kampung halaman sampai seisinya, ada pelajaran kuliah, e...ada tugas...
Entah bagaimana aku harus menuliskan langkah perjalananku dalam mengenal Al-Qur’an.  Daripada bengong mending ku tulis saja... apapun jadinya, tapi bukan ala-kadarnya.
Ada rasa sedikit malu  bila harus ku tuliskan pengalamanku bagaimana si Wiwin kecil mengenal Al-Qur’an. Berat rasanya bila harus ku ceritakan. Tapi ini penting! selain sebagai tugas mata kuliah Ulumul Qur’an, namun juga bisa ku jadikan sebagai caraku untuk mengingat masa lalu yang nantinya bisa di jadikan sebagai pijakan untuk ... yah, apa saja...!
Semilir angin masuk lewat ventilasi menyapu tubuhku, udara dingin menyelusup dalam pori-pori. Ku benarkan posisi selimut untuk menutupi kakiku dan memberikan kehangatan di situ. Di tengah tidurku yang ku rasa tak nyenyak, sayup-sayup ku dengar suara azan subuh dari masjid. Suara itu begitu berat terdengar sampai di penghujungnya.
Ku dengar suara gemericik air dari kamar mandi. Pasti ibu pikirku. Aku tetap tak memicingkan mata, aku masih berusaha melanjutkan mimpi. Namun tak juga aku tertidur. Aku pun beranjak dari tidurku dan keluar dari kamar. Kusaksikan ibuku ada di ruang tamu.
“Bu, mau pipis...” rengekku sambil tetap berdiri mematung di pinggir pintu kamarku.
Ibu tetap diam dan tampak khusyuk dalam sholatnya. Aku masih menunggu ibuku selesai dengan ibadahnya.  Dan perasaan takut yang ku rasakan bila harus ke kamar mandi sendiri. Yah... masih bocah. Maklumlah.
Tak berapa lama ibuku sudah menyelesaikan ibadahnya. Diantarnya aku ke kamar mandi.
“Udah....tidur lagi sana” kata ibu setelah aku menyelesaikan pipisku.
Aku pun beranjak kembali ke tempat tidurku. Sedangkan ibu tak langsung melepaskan mukena yang dikenakannya.
Dari kamarku Kudengar suara ibu melantunkan sesuatu (entah apa... yang kemudian hari ku ketahui itulah yang dinamakan alqur’an, kitab suci umat Islam). Lantunan itu begitu mendayu-dayu dan memang sungguh menggodaku. Namun aku tetap tak beranjak dari tidurku. Akupun kembali tertidur diiringi suara ibu yang mendayu-dayu lirih membaca Al -Qur’an.
Hampir setiap hari ku saksikan dan kudengar ibu melantunkan Al-Qur’an. Ya...  suara itu keluar dari mulut ibuku hampir setiap pagi selepas sholat subuh. memori itu selalu terlintas di benakku. Saat itu umurku baru sekitar tiga tahun lebih. Aku belum mengenal apa itu Al-Qur'an. Jangankan mengerti maksudnya, membacanya saja aku masih belum bisa.
Hingga aku masuk SD baru aku kenal dengan tulisan Al-Qur’an.  Orang pertama yang mengenalkan ku dengan Al-Qur’an adalah ibuku. ibu mengajariku untuk membacanya. Biasanya selepas mghrib ibu mengajariku membaca alqur’an dengan cara menghafalkan huruf hijaiyah. Alif.... ba... ta...dst.
Hari-hari kujalani dengan apa adanya. Tak ada hal yang istimewa bagiku, aku tumbuh besar pun layaknya anak kebanyakan. Saban sore ibu selalu mengajakku  belajar mengaji  namun aku sering mengalami kebosanan karena aku tak mengerti maksud dari apa yang ku baca, apa artinya. Dan lebih memilih nonton TV (TV tetangga tentunya..).
Sore itu seperti biasa selepas maghrib aku kembali mengaji. Dan ibu satu satunya guru sedangkan aku satu-satunya murid. “Ini adalah pedoman hidup kita” kata ibu sembari tangannya memegang alquran yang sudah lapuk itu. Tetap saja aku tak mengerti maksudnya. Dan akupun tak berniat bertanya lebih lanjut apalagi  untuk menyanggahnya. Rasa 'ingin tahu'  itu terus ku pendam dan hanya bertanya-tanya dalam hati. Jangankan  mengaji dan membaca pun aku belum lancar.
Umurku terus bertambah hingga aku naik ke kelas tiga SD. Membaca aku sudah mulai lancar tapi mengaji aku masih belepotan. Hingga ada pengumuman akan dibuka Taman Bacaan Al- Qur’an (TBA...sejenis TPA) Sija Carana (inilah caranya). Aku pun bermaksud daftar di TBA tersebut. Ku utarakan maksudku tersebut pada ibu. Dengan senang hati ibu pun mendaftarkan aku.
Di TBA tersebut aku mulai belajar mengaji dimulai dari nol, maklum rata-rata muridnya belum bisa baca Al-Qur’an jadi pemerataan. Ada sekitar dua puluh santri, dan aku bangga menjadi salah satu santri angkatan pertama di TBA tersebut. Kami pun dibagikan buku IQRO’ I. Kemudian para santri dibagi 5 kelompok dengan guru damping satu. Dengan bekal pelajaran yang ku dapatkan dari ibu tentu aku tak banyak mengalami kesusahan.
Banyak pengalaman menarik yang ku alami ketika berada di TBA tersebut. Ada satu cerita yang berkaitan dengan seorang guru. anggap saja namanya pak Arifin. Seperti biasa selepas mengaji sebelum pulang ada ceramah atau cerita dari seorang guru. Kebetulan hari itu giliran pak Arifin (entah hari apa, tanggal berapa aku lupa).
“Ada yang tahu apa arti surat Al-Fatihah nggak?” tanya pak Arifin pada para santri. Namun santri-santri hanya diam.
Kemudian pak Arifin melanjutkan ceramahnya. Diambilnya satu Al-Qur’an tanpa terjemah dan mulai menerjemahkannya per ayat surat Al-Fatihah tersebut. Akupun terkagum-kagum dengannya, padahal dia tidak memakai Al-Qur’an terjemah.
Namun sontak kekagumanku buyar... dan terlintas bayanganku tentang tingkah-polah pak Arifin dalam kesehariannya.
“Bukankah pak arifin seorang penjudi?” Tanyaku namun hanya dalam hati. Ya, banyak sekali macam perjudian yang ada di desaku, dari anak-anak kecil sam pai kakek-kakek juga ada. Bahkan ada seorang haji yang memang suka judi. Judi seakan sudah menjadi budaya di desaku.
 “Kalau mau saya bisa kok menerjemahkan semua isi Al-Qur’an ini” kata pak Arifin sambil kemudian menhidupkan rokok. “Sombong” terbersit di otakku mendengar perkataan itu. Tiba-tiba terngiang perkataan ibuku: Al-Qul’an adalah pedoman hidup.
“Pak, apa maksudnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup?” tanyaku ditengah  pembicaraan Pak Arifin.
Tampak dia terdiam beberapa saat sambil menoleh ke arahku, dihisapnya rokok dalam-dalam, sedang matanya tajam menatapku. Ku tarik napas dalam-dalam sambil berharap pak Arifin tak mendampratku karena memotong pembicaraannya. Ah, semuga ucapan ibuku dapat ku jadikan pegangan dalam perjalanan hidupku kelak amin, doaku dalam hati. Huhhhh.
Yogyakarta, 10 april 2010
Catatan: ini adalah tugas 
Mata Kuliah                : Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu        : Drs. H.M Syakir Ali
Disusun Oleh              : Wiwin Solikhin


Baca Selengkapnya...

RITUAL

Gelombang hening berkeliaran di singgasanaku kini....
Sementara lalat lalat beterbangan kian kemari sembari terus bernyanyi...
Entah apa yang dinyanyikan oleh lalat-lalat kecil yang terbang mengitari lampu redup di atas kepalaku.... yang tampak menikmati bau pekat di dalam ruangan menyedihkan ini bersama-sama....
“Wew.. ada barang baru...”otakku coba menebak

Kucoba sebaik mungkin untuk meningkatkan kenyamanan yang membuai di antara gemuruh luruh lututku....

Sepoi angin menerobos melalui ventilasi menyebarkan rasa kantuk berkali-kali....
Api rokok terpejam dan menyala mengikuti irama denyut jantung. Samarnya suara tikus yang mencicit jauh di sana, menambah sempurnanya suasana tenang yang mengiringi parade ritual sakit perut yang kualami.

Dalam situasi sekarang, aku adalah tipe orang yang hanya bisa menunggu, walau bagaimanapun juga aku berusaha memikirkan suara apa yang akan muncul dan dapat memecahkan keheningan yang mengganggu ini.

Ah... “plung”..
kau dengarkah suara merdu itu?

Sunyi....

Dinihari yang menyepi...
April 2010
Baca Selengkapnya...

ngeheng

kusaksikan di kamar kos ku. ..... seorang kawan yang bermimpi jadi penyair. Di hadapan komputer yang sudah sangat butut diiringi suara fals dari sang Iwan ia mengetik... tampaknya menulis puisi.....
kawan yang satu tampak asik es-em-es-an........sembari asik menghisap Bintang Buana. Selesai sms ia tampak bengong. Diseruputnya kopi di hadapannya. Kembali ia bengomg. Entah apa yang di fikirkannya.
Dua kawan yang lain tampak asik tidur . Capek tampaknya.. habis mbenerin komputer semalem.
Aku sendiri bengong.. mau ngapain. Ah.... mending nulis fikirku. Kuambil buku tulis. Yah kok abis.......... mana halaman yang kosong.... kuambil makalah yang gak jadi ku kumpulkan kemarin. Kutulis di belakangnya. Eh. Yang jadi ....ini.... ya ini........
Suara Iwan masih mengalun dari komputer....tiba-tiba suaranya suaranya terhenti...anjrit ‘ngeheng’........... belum ‘disep’ lagi....... teriak sang penyair....

Yk. Sabtu 15 Mei 2010 12:30
Baca Selengkapnya...

Akhir Sebuah Cerita

Entah bagaimana aku harus mengakhirinya. Setelah sekian lama aku menuliskan rangkaian cerita di atas lembaran buram hidupku dengan tinta yang sesekali harus kutimpa dengan tambalan-tambalan yang pastinya berbekas.Terlalu banyak coretan-coretan yang tak bisa kuhindari untuk selalu memunculkan memori-memori menyedihkan. Akupun tak terlalu berharap untuk mendapatkan tinta emas yang nantinya kan kutulis segala keindahan-keindahan di lembar akhir cerita. Sudah terlalu banyak catatan catatan orang yang kubaca dan pasti berakhir dengan keindahan ataupun kebahagiaan. Derita di awalnya dan bahagia di akhirnya. Kau pasti mengharapkan yang demikian. Tapi tidak dengan aku, tidak ada ruginya jika aku menambah satu lagi cerita penderitaan di bumi ini.


“Ma, di mana bapak?” rengekmu. Rengek bocah tiga tahun. lembut kau bicara padaku dengan senyummu yang kurasa sebagai sebuah cibiran padaku. Ya ... senyuman itu juga yang telah menghantarku sampai di tempat ini.

Aku tak juga menjawab pertanyaanmu. Mungkin kau mengharap belas kasihku. Tidak! Meski senyummu itu masih ada di bibirmu, aku tak akan melayani keinginanmu. Kubelai rambutmu, dengan sedikit paksaan senyuman yang seakan berusaha menyenangkanmu. Tapi, jauh di lubuk hatiku aku masih memendam bara yang lambat laun pasti akan menjadi kobaran api yang turut pula membakar hatimu.

Mungkinkah senyuman itu dapat mengakhiri cerita.
Ah....... akhir sebuah cerita tak selamanya indah.

“Tidur nak, sudah larut” pintaku dengan sedikit senyuman.
Seperti biasa kau tampak menuruti pintaku, dan segera kau pejamkan mata mu. Aku yakin kaupun tak segera tertidur, hanya sandiwara mu saja dan berharap aku mengira dirimu sudah terlelap dalam buaian mimpi. Dan seperti biasa juga aku akan segera meninggalkan dirimu. Dengan berat tetap aku meninggalkanmu. Aku yakin kau pasti mendengar langkahku, ekor mata mu pun akan mengikuti langkahku . masih dengan penuh sandiwara aku pun berpura-pura-menganggap dirimu sudah terlelap, karena itu juga yang kau harapkan. Aku tahu kau akan bangkit dari baringmu dan menatap langkahku di kejauhan dengan penuh dendam. Aku yakin kau ingin mengejarku. Tapi kau tetap diam. Ah.. sandiwaraku pasti yang lebih meyakinkan.


Yogyakarta, Feb 2010
Baca Selengkapnya...

LYLA : JABLAY PASTI BERLALU

“Bagaimana kau bisa yakin kalau dia itu belahan jiwamu?” tanya Awi.

“Nggak mungkin. Dari matanya aku tahu, dia inginkan aku. Kemarin di warung ini dia berdiri di sampingku. Tangannya pura-pura memijit kepala, tapi ekor matanya selalu mengintipku, mencari-cari mataku dan sorotan matanya itu ingin merenggut hatiku..” aku mencoba meyakinkan Awi. Kuambil rokok yang terselip di telingaku dan membakarnya.

“Dari mana kau bisa tahu kalau dia itu ingin merenggut hatimu?”


“Ah kau ini, dari matanyalah...” Kuhisap rokokku dalam-dalam.

Awi tertawa lebar-lebar. Giginya yang kuning kerat nikotin anti gosok bermunculan dari mulutnya.. kekehnya bukan saja menertawakan kejengkelanku, tapi lebih dari itu, tawa seorang jomblo melihat kawannya hampir kehilangan jatidiri ‘kejombloan’nya.

Aku dan Awi memang tak seberuntung kawan-kawan yang lain, yang sudah punya tambatan hati dan beberapa diantaranya sudah menikah. Aku sepenuhnya tidak merasa tampan dan pantas untuk perempuan itu. Malam itu dia datang entah dari mana aku tidak tahu. Setelah aku menyanyikan lagunya Chrisye ‘ Badai Pasti Berlalu’ yang didaur ulang oleh Ari Lasso. Dari dekat dia memandangku dengan sedikit terenyum. Ohh... jantung seakan berhenti berdetak melihat senyumnya. Rupawan (mestinya rupawati..) sekali wanita ini. Kutelan air ludahku beberapakali. Wanita itu seperti menghadirkan momen baru dalam hidupku.

Sudah cukup lama aku ‘jablay’. Sejak aku menginjak kota ini. Pikiranku menerawang jauh. Empat tahun sudah berlalu dan empat tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman yang indah. Tak terasa waktu semakin jauh meninggalkan seribu kenangan, baik yang untuk dikenang maupun tidak, atau juga tak terkenang. Namun yang pasti waktu terus berjalan tanpa kita menyadarinya dan berlalu begitu saja. Waktu pun menyimpan misteri di dalamnya. Aku hanya menjalani hidup ini apa adanya. Susah senang hanyalah dinamika semata dan itu indah silih berganti. Ada proses di dalamnya. Aku adalah manusia yang manggali hidup, mewarnai hidup dan kehidupan orang-orang yang mencintaiku, menyayangiku, dan juga membenciku. Aku hanya menggali hidup dan makna kehidupan itu. Beberapa babak kehidupan telah kulalui.

Tapi apalah arti hidup, tanpa cinta? Apa jadinya jika manusia tidak mengenal cinta ? Temaram pikiran menyeruak rasa, ketenangan jiwa mulai pudar, lenyap. Sejarah manusia tak berhingga kini. Dunia yang katanya diperuntukkan oleh dan sebab cinta menjadi penuh dan tenggelam akibat cinta. Ya, hidup tanpa cinta bagai malam tak berbintang, kata orang. Entah apa dunia ini tercipta dari tanah atau cinta. Aku hanya merasakan kegersangan dan paceklik berkepanjangan. Jomblowan juga manusia. Kini saatnya membuka babak baru. Aku harus mengakhiri masa pacekik itu. Aku harus segera mengganti statusku dari seorang jomblo menjadi..........

“Hai...”. Awi mengejutkan lamunanku. “Bagaimana caramu mengikat hatinya?”


“Entahlah... mungkin pakai jampi-jampi........”. Aku nyengir sambil tanganku mengambil Ha-Pe di kantong celanaku.

Awi tertawa lebih keras dari tadi. Pemilik warung memandang sebentar. Kemudian melanjutkan pekerjaannya. Empat orang yang sedang asik berbincang di sebelah sudut yang lain tetap melanjutkan pekerjaanya. Aku dengar kata-kata putus dari mereka “jam delapan “ “ sip” “perempatan” “spanduk”.....

“Kamu tahu nggak alasan dia jatuh cinta sama aku?”

“Mana aku tahu...., kamu yang punya firasat”

“Itulah Firasat, tidak membawa alasan, begitu juga halnya dengan cinta, cinta itu pun tak bisa ditebak.”

“Kamu kayak ABG yang lagi puber aja. Cinta itu tidak datang dengan ini” dia menuding kepalanya sendiri, “ini” dengan tangan terkepal sembari menepuk dadanya sendiri, “dan juga ini” dia menepuk saku celananya yang menyimpan dompet, “jadi bukan sekedar firasat”.

Ah, sok tahu pikirku. Pusing rasanya bicara dengan orang yang tidak memahami kondisi apa yamg meng-kondisikan diriku saat ini. Tapi setidaknya dia tidak terlalu meremehkan perasaanku.tapi bukankah dia sendiri masih jomblo..?. Pasti tak pernah dapat belaian. Aku nyengir sendiri.

“Hidup pun demikian, tapi kau jangan menurut saja demikian. Firasat terkadang datang, tapi engkau jangan pernah takut bila harus mengusirnya. Demikian juga dengan kewajiban. Ah... siapasih yang benar-benar suka dengan kewajiban? Semestinya tak perlu ada kewajiban dalam hidup ini. Yang perlu ada hanyalah kebutuhan.. ya.... kebutuhan.........” cerocos Awi tampak serius.

Kusodorkan rokok di jariku. “Join” kataku. Dia mengambil rokok di jariku, dihisapnya rokok itu dalam-dalam.

“Berarti kita jomblo kayak gini karena nggak butuh perempuan maksudmu!”

“Jomblonya kita ini bukan karena pilihan, dan bukan karena nggak butuh, tapi memang belum ada aja cewek yang beruntung mendapatkan kita” kata Awi. Dia tertawa lepas, aku pun ikut tertawa.

Terdengar azan maghrib dari Musholla tak jauh dari warung kopi tempat kami nongkrong. Kusarankan dia agar membersihkan Pikirannya yang sedang ‘tidak sehat’ di musholla itu.” Kau tidak lebih alim dariku” timpalnya.

Beberapa pemuda melintas di jalan depan warung. Menuju musholla tampaknya. Salah seorang menoleh sejenak ke arah kami sembari mengangguk seakan ingin mengajak kami ke musholla itu. Kami tak bereaksi. Pemuda itu melanjutkan langkahnya.

***

Malam sudah agak larut. Aku hanya ditemani sepi. Tak ada suara jangkrik, cicak, tukang jual nasi goreng nasi keliling, ataupun suara-suara lainnya. Hanya lolongan anjing sesekali terdengar sayup-sayup di kejauhan. Aku tak bisa tidur, hanya baring-baring di dipan. Kutatap langit-langit kamarku. Muncul bayangan-bayangan dari situ. Bayangan-bayangan itu terus berubah-ubah dan terus berubah. Dari kecil kemudian membesar. Dari seekor cicak tiba-tiba menjadi seekor buaya dan terus berubah menjadi bayangan lain. Muncul bayangan masjid, kemudian berubah jadi sajadah..dan tiba-tiba dari balik sajadah itu muncul sesosok perempuan. Aku ingat bukankah dia perempuan yang kutemui di warung itu....!!? Ah, aku belum berkenalan dengannya.

Perempuan itu sudah berdiri di hadapanku, dia membelai-belai rambut ku yang memang agak gondrong dengan lembut. Tiba-tiba ia mencengkram pundakku dengan keras, sangat keras sampai tubuhkku menjadi kaku. Tubuhku serasa menjadi batu dilapisi kain yang sedikit basah akibat keringat yang keluar. Entah kenapa itu bisa terjadi. Sorot matanya menembus jantung untuk berhenti berdetak. Perempuan itu tidak tersenyum apa lagi tertawa melihat aku dalam posisi salah tingkah seperti itu. Semakin tajam matanya menatapku, justru aku semakin tak takut untuk menatapnya pula.

Dia menatapku tanpa hati memotong aliran darah ke jantung. “Aku menginginkan jantungmu...” dengan nada bicara yang tinggi dia bicara padaku, tangannya yang satu tiba-tiba sudah mencengkram hati itu. Dan meremas-remas sampai lembut dan menjadi potongan-potongan kecil. Ada darah yang menetes dari kepalam tangannya. Aku berhenti bernapas dan memukul pergelangan tangannya.. pegangannya di pundakku terlepas. Dia mundur beberapa langkah.

“apa maksudmu ingin merenggut hati ku?”. Aku mulai bisa mengendalikan keadaan. Perempuan itu terpaku, diam tak menjawab pertanyaanku. Dia masih menatapku tapi dengan sorot mata yang tak setajam tadi.

“Siapa namamu?”

“lyla” jawabnya sambil melangkah dan duduk di sampingku. Dia mengulurkan tangannya dan kusambut. Dia mulai bisa tersenyum. Namun tiba-tiba tangannya sudah kembali mencengkram pundakku, lebih kuat dari tadi. Aku tak berniat melepaskan cengkramannya di pundakku. Kubiarkan saja karena aku tak merasa takut. Justru suasan keakraban yang kurasakan. Ah mungkin aku terpesona dengan senyuman itu.

“Namaku Raffi. Kenapa kamu datang ke sini?”

“Aku butuh teman, aku tak ingin selalu sendirian, sendiri tanpa belaian, kesepian tanpa teman”

Entah perasaan apa tiba-tiba aku seperti merasakan perasaan yang sama seperti halnya dirinya. Mungkin aku butuh belaian juga saat ini, tapi siapakah perempuan ini sebenarnya aku belum tahu.

“Jujur, aku aku merasa kita mempunya banyak kesamaan, meskipun kita baru kenal. Tapi siapakah sebenarnya nona ini?, mungkinkah keakraban akan terjalin antara kita? Padahal kita baru kenal!!”

Dia menghela napas sesaat. “ya, kita memang belum saling mengenal, tapi aku merasa mas Raffi lah yan g selalu muncul dalam bayang-bayangku”. Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataannya.

“Jadi itu alasanmu ingin merenggut hatiku?”

“Bukan, bukan itu saja , masih banyak alasan-alasan yang lain. Dan bukankah mas Raffi juga butuh teman dalam hidup ini?. Aku yakin.... dan itu tampak dari kegelisahanmu. Aku membutuhkan mas Raffi bukan hanya sekedar teman tapi lebih dari itu”.

Aku bingung dengan jawabannya. Aku menduga-duga jangan-jangan dia adalah bidadari yag muncul atas kegelisahanku. Atau dia adalah orang gila yang berpenampilan menarik yang mencoba mengajakku untuk begila ria. Kutepis pikiranku, semoga bukan orang gila. Ah... aku memikirkan diri ku sendiri, bukankah aku juga membutuhkan seorang teman? Tak jauh berbeda dengannya! Ya.. cocok. Aku manggut-manggut.

Ia menoleh kearahku dan kembali tersenyum. Senyumnya sangat menawan tanpa senyum pun kurasa dia masih tampak cantik. Dia menatapku sayu. Ada kesejukkan dan kerinduan penuh harapan dalam tatapan matanya. Tak tampak kegelisahan dalam raut wajahhnya, malah justru tampak seperti kasihan denganku serasa mengharu iba.

Aku masih diam tak bermaksud menanggapi perkataannya. Tak ada suara yang keluar dari mulutku . dia pun bicara, hanya membisu. kamarku kembali sunyi.

Bangun pagi aku langsung menyentuh pundakku, terasa sakit. Kuraba dadaku, mencoba mengingat-ingat bayangan semalam. Lyla!!?

***

“Perempuan itu bernama Lyla” kataku pada Awi di warung kopi.

“lyla...! dari mana kau kau tahu ?” timpal Awi. Dia menatapku penuh selidik.

“Semalam dia datang ke kost ku. Aku bermaksud ‘nembak’ dia, tapi nggak jadi”.

“Kenapa?”

“Nggak tahu, di pergi begitu saja” jawabku. Aku tak bermaksud menceritakan bagaimana dia mencengkramku. Awi menyeruput kopi di hadapannya. Wajahnya menyimpan kesan mendalam.

“Kalau di bernama lyla, dan memang sengaja menemuimu aku yakin dialah belahan jiwamu. Kalau tidak kau maka dia yang akan merenggut hatimu. Entah kapan waktunya”

“Sekarang kamu yakin dia akan merenggut hatiku”

“Ya, karena belahan jiwa akan tampak dari sorot matanya. Dan yang mengenali sorotan matanya hanya belahan jiwanya sendiri” Timpal awi tampak serius.
 

 “Bagaimana kalu bukan?”

“Nggak mungkin” Awi menggelengkan kepalanya. Di berfikir sejenak. “Tapi entahlah” lanjutnya.

Aku jadi ingin lebih tahu lagi siapa Lyla itu sebenarnya. Dari wajahnya yang kulihat semalam dia tak menunjukkan kegelisahan hatinya. Hanya sorot matanya saja yang tampak ingin merenggut hatiku. Atau seperti kata awi, akulah yang mengenali sorot mata belahan jiwaku. Perempuan bernama Lyla itu seperti malaikat yang mengetahui kegelisahanku, mengetahui bisikan hatiku. Dia menjelma menjadi bayangan dan meninggalkan jejak bahwa dirinya adalah kenyataan.

“Dia bermaksud mengenalkan dirinya pada malam hari agar tak diketahui orang-orang” kataku melanjutkan cerita.

“Apakah kau tahu alasan dia berbuat seperti itu?”

“Tidak tahu”Kubakar sebatang kretek lalu kihisap dalam dalam.

Tak jauh dari tempat dudukku dua orang yang baru datang memesan sesuatu. “Dibungkus mbak...., Dua..”

Awi kembali menatapku. Sepertinya dia membaca kegelisahanku. Dia tersenyum melihatku bernafsu menghisap rokok. Nafas serasa sesak berebut udara dengan dadun-daun bunga yang menghiasi tembok ruangan. Dua orang yang tadi memesan sesuatu membayar beliannya, seorang diantaranya tersenyum padaku dan kubalas senyuman itu dengan sedikit anggukan. Mereka pun segera meninggalkan warung.

Orang-orang dalam ruangan semula hanya diam tiba-tiba seperti ada yang menggerakkan mereka untuk tertawa, dan meracau tak jelas apa yang mereka bicarakan, bunyi-unyi hampa yang keluar dari mulut yang sekedar keluar saja kemudian yang lain menimbun bunyi itu dengan bunyi lain. Tampak penjual memberikan secangkir kopi buat salah seorang dari mereka.

Tubuhku serasa kapas yang melayang-layang entah akan ‘nyangkut’ di mana. Tak tahu tempat atau siapa. Dia mana akan kujumpai dia. Aku menghitung waktu yang berubah menjadi setumpuk kerinduan. Detik dan menit membuka ruang dengan penuh hiasan. Dan perempuan itu menghiasai ke dalam dadaku dan memenuhi semuanya dengan hiasan senyuman.

Dia sudah berdiri di depan pintu, memakai celana jeans biru dengan kaos yang bewarna putih. Tampak serasi sekali dengan dirinya. Tatapannya dilepaskan pada semua orang di seluruh ruangan. Ya, aku mengenali tatapan itu. Aku bermaksud menggeser dudukku merapat ke Awi, dan memberi tahunya; perempuan itulah yang bernam Lyla. Tapi perempuan itu sudah duduk disamping awi dan tampak berbicara akrab. Aku memperhatikan gerak-geriknya, juga senyumannya. Barangkali dia akan memperhatikanku.

“Kenalkan, ini Santi” kata Awi bicara padaku. Perempuan yang disebut Santi itu pun mengulurkan tangannya dan kusentuh lembut telapak tangannya. Kami pun bersalaman. Pandangan kami beradu, ada bunga-bunga yang bermunculan di kornea matanya.

“Raffi” kataku memperkenalkan diri. Dia hanya tersenyum dengan sedikit anggukan.

“Dia anak kost yang baru pindahan..” kata Awi memberi tahuku. Santi tersenyum seperti mengiakan perkataan Awi.

Aku memandangnya lama. Wajahnya, senyumnya, gerai rambutnya, tidak jauh beda dengan perempuan dalam bayangan yang menemuiku semalam. Aku yakin dialah Lyla.

Semua orang tentu tidak tahu kalau dialah belahan jiwaku, lyla. Termasuk awi. Aku tak habis fikir bagaimana perempuan itu bisa menyembunyikan bunga-bunga di matanya di hadapan orang lain.
Serasa kegembiraan menyeruak di dadaku. Ada kesejukan di hatiku. Senang rasanya bisa berjumpa dengannya. Ingin rasanya menumpahkan kerinduanku padanya. Namun tiba-tiba entah setan apa yang hinggap di kepalaku sehingga aku menjadi kaku. Keberanianku justru hilang di hadapannya. Aku hanya sesekali menatapnya. Aku tak berani berbuat lebih jauh. Bahkan untuk sekedar menanyakan ......ah..

Kegembiraanku sontak lenyap, menjelma menjadi kebencian kepada semua orang di warung itu terutama pada Awi. Bagaimana mungkin dia tak mengnali wanita belahan jiwaku itu. Bagaimana mungkin Awi tak melihat bunga-bunga yang bermunculan di matanya..! bagaimana mungkin dia tak mengenali senyuman itu hanya untukku! Bukankah Awi itu ‘guruku!?.

Orang-orang di warung itu termasuk Awi kembali meracau tak karuan, Bahkan tawa mereka semakin lebar saja. Sesekali mereka menoleh ke arahku. Mungkinkah mereka membicarakankuu dan menertawakanku. Ah, persetan meraka ... kurasa mereka sudah gila semua. Aku merasakan ruangan yang semakin sengak saja.

Selama pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam otak, aku bergegas keluar setelah membayar minuman dan rokok. Aku membiarkan tatapan Awi dan perempuan yang mengaku santi itu.

Di jalan raya depan warung, seorang kakek –kakek yang memang rada bongkok menganggukkan kepala. Takzim, walau mungkin setengah di paksa. Tak lupa aku tersenyum meski juga setengah kupaksa. Dan senyumku itu adalah pengganti kata yang biasanya “permisi pak..”.

“Yup! Hati-hati anak muda, sering-seringlah tersenyum, agar tak lekas tua” aku berharap pikiran dia berkata seperti itu. Namun pada saat yang sama aku juga berhak menduga sorot matanya ingin berkata”minggatlah kau, anak muda. Jangan kembali lagi ke warung ini supaya kau tak merepotkanku dengan keharusan memberi anggukan selamat datang kembali ke warung ini”. Ah.....


Kulanjutkan langkahku menuju kost. Di tengah jalan pikiranku kembali ke Santi (Lyla) dan sesekali menoleh dan berharap dia mengikutiku sampai di kost-ku untuk kembali ‘membelaiku’ seperti malam itu. Aku memperlambat langkahku kembali aku menoleh ke belakang. Ah..itu dia, benar dia mengikutiku. Dia masih mengikutiku sampai depan pintu gang kost-ku. Aku menoleh ke arahnya. Eh..dia berbelok arah dan menyeberang jalan memasuki Wisma Melati. O... ternyata dia kost di situ. Aku tesenyum sendiri, kutarik napas dalam-dalam.

Untuk si dia yang merampas matahariku di saat aku sedang menikmati siang,’tuk si dia yang nekat merenggut rembulanku di saat aku sedang menikmati malam.
Yogyakarta, ‘09
Baca Selengkapnya...

Copet Itu.......

Kudapati tubuhku terbaring lemah di pembaringan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Putih... ruangan itu putih semua, benda-benda yang ada di situ pun tampak terang, dominan warna putih di ruangan itu. Aku bingung sendiri, dimana aku? Kucoba bangkitkan tubuhku, terasa sakit di seluruh tubuhku, kuraba wajahku, ada benjolan di dahi dan bibir, ada balutan perban di pelipis sebelah kiriku. Aku hanya meringis menahan sakit. Kuperhatikan lagi seluruh keadaan seluruh tubuhku, lebam di sana - sini. Kembali kuedarkan pandanganku, kuraba semua kantong celanaku. Hilang...!! dompetku, HP ku, tasku!!? Apa yang terjadi...?

***

Sekali lagi kuperiksa dompetku begitu sampai di Stasiun Senen. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat teman-temanku selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, Jakarta adalah kota besar yang memiliki banyak macam tingkah polah manusia, dari yang baik sampai yang jahat, dari yang tinggal di apartemen sampai yang tinggal di kolong jembatan, dari orang yang bisa mengaku waras sampai orang yang mengaku gila.ya, kebaikan sangat tipis jaraknya dengan kejahatan. Andi salah satu temanku yang pernah ke Jakarta pernah kecopetan di dalam bus.

”Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet” kata Andi beberapa waktu lalu, meskipun kemudian hari di ketahuinya si pencopet tidak lain adalah orang yang satu kampung dengannya.

Kulanjutkan langkahku.Akhirnya kuinjakkan juga kakiku di ibukota negara Indonesia ini. Aku berjalan di Pasar Senen. Kuanggukkan kepalaku pada seorang pedagang asongan yang tampaknya sedang ngaso.

“ Monggo mas..” kataku. Pedagang itu hanya menoleh kemudian melanjutkan pekerjaannya. “Ah.., inikan Jakarta! Nggak pake’ “monggo” mestinya” aku bicara dalam hati. Aku tersenyum sendiri. Kulanjutkan langkahku. Sebelum akhirnya kulihat bus arah Ciputat.

Di dalam bus itu aku tak mau lengah, meskipun cape’ yang kurasa saat ini. Tak ingin aku kecopetan seperti yang dialami Andi. Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.

“Adik mau kemana?” Tanya ibu itu.

“Ciputat, bu. UIN” sahutku.

Ibu itu tersenyum. Mungkin ibu itu menertawakan logatku yang Jawa banget
Kuperhatikan ibu itu. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.
Lagi-lagi pesan Andi terngiang di telingaku.

“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan Andi menjelang keberangkatanku.

“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Apalagi kamu cewek, takut kalau kamu kena hipnotis nanti,” lanjut Andi lagi.

Aku maklum dengan kecemasan Andi yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi ke Jakarta. Kalau pergi paling hanya di sekitaran Jogja. Maklum, aku hanya tahu Jogja meskipun sekarang kota itu sudah banyak mengalami perubahan, namun bagiku tetap berhati nyaman. Tapi kali ini aku terpaksa ke Jakarta, Aku dapat kesempatan mengikuti kuis di salah satu stasiun televisi swasta dan harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing. “Iya, tidak usah khawatir,” sahutku pada Andi singkat.

***

Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.

“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.

“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang”. Kutolak halus tawaran Ibu itu. Aku ingat pesan Andi agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.

“Astaghfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.

Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi.

Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.

“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.

Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.

Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.

Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.

Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.

Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia. Tapi bukankah banyak penjahat sekarang berpakaian rapi?

“Mau ke ciputat, Mbak?” tanyanya sopan.

“Iya, Mas,” sahutku ringan.

“Mas mau ke ciputat juga?” Aku balik bertanya.
Laki-laki itu mengangguk.

“Saya mau menjenguk saudara saya di Ciputat,” katanya.

Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.
Bus berhenti.

Kuraba saku celanaku, hapeku masih ada. Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.

“Kenapa, Mbak?”.

“Oh…eh… anu..., Tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya laki-laki itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang selalu memeriksa tas.

“Anu-mu emangnya kenapa?” Laki-laki itu bertanya sambi tersenyum ke arahku. Aku jadi serba salah. Kupingku agak panas mendengar pertanyaannya. Mungkin wajahku saat itu bersemu merah, karena malu.

“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.

“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya,” lanjut laki-laki itu lagi.

Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet, ungkapku dalam hati.

***

Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di ciputat. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 09:00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.

Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di UIN. Aku tak ingin siska terlalu lama menunggu kedatanganku di UIN Jakarta. Siskalah satu-satunya temanku waktu SMA yang melanjutkan kuliah dijakarta. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.

“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.

“Terima kasih, Dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.

Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran Andi tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.

Bus sudah memasuki Pondok Indah. Bus kembali berhenti. Beberapa penumpang naik. Tak lama bus itu jalan lagi.Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.

Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal lebak bulus. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Ibu ibu hamil itu pun handak turun pula tampaknya. Aku segera mengisi bangku kosong yang ditinggalkan ibu itu. Namun ibu itu tak juga turun meskipun sudah di depan pintu. Ia tampak nya kebingungan, kuperhatikan gerak geriknya, tiba-tiba tanpa kuduga sebelumnya ibu itu menudingku.

“Copet... “ Teriaknya mengejutkanku.
Penumpang yang lain sontak melihat kearahku, merekapun beraksi
Aku tak bisa mengelak ketika sebuah pukulan melayang di tengkukku.

“Periksa tasnya..”, Teriak ibu itu

“nggak nyangka, cantik-cantik maling...”Teriak yang lain sembari memberikan pukulan dan tendangan kearah tubuhku.

“Lihat kantongnya” Teriak sang sopir dari depan.

“Aku bukan copet... bukan...” Aku membela diri sambil menghindari pukulan yang bertubi-tubi dari penumpang yang lain. Namun cengkraman seorang pemuda di tanganku semakin membuatku tak berdaya. Tas di tangan ku pun hilang entah kemana.

“Buk” Sebuah tendangan keras mendarat tepat di ulu hati. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan. Jambakan, pukulan tendangan tak bisa kuhindari, tak ada yang mau menolongku. Hanya kebencian dari wajah mereka begitu melihatku. Penglihatanku menjadi kunang-kunang. Satu pukulan lagi mendarat di bibirku, darahpun keluar. Aku tersungkur, penglihatanku berkunang-kunang dan kemudian tak ingat apa-apa lagi.

Yogyakarta, '09
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah