Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Cemas

Aku merasa ketakutan
Aku sedang kalut dalam ketakutan
Jika dalam perjalanan ia masih mengikutiku...
aku tak akan memegang tangannya

Andaipun berani, bisa saja ketakutan berjalan seiringan..
Tapi ia harus bersiap-siap, langkahku bisa saja jadi semakin terburu
Bahkan aku akan terus berlari dan berlari..
semakin cepat meninggalkannya..
hingga bayangnya pun tak terlihat

Tapi, angin kerap berisik melenakan derap langkahku
Dalam bisik, aku takut tak mampu meninggalkannya..
Baca Selengkapnya...

Serdadu Angin

Setelah berhasil mengalahkan kantuk yang sempat mengangkangiku..
serdadu angin balik menyerangku...
begitu terpimpin dan terorganisir..
mereka sudah berkuasa atas tubuhku.

Segera, kupanggil orang pintar untuk mengusir angin itu dari tubuhku.
diberinya aku semangkuk 'kolak angin'
tapi serdadu angin itu malah terpingkal-pingkal melihat tingkah kami.
aku pun tak habis pikir.. kuundang 'si duet maut' koin ajaib & ramuan cap punggung...
Seperti yang sudah kuduga,, perang besar pun terjadi.
begitu hebat memang..
sangat menggetarkan dada dan punggungku.

Dan... hahahahaha..
serdadu angin pun berkelebat pergi..
namun ia menyimpan dendam yg begitu panas dan membara..
punggungku dapat merasakannya.

Peperangan itu pun berakhir..
hanya menyisakan punggungku yang masih merah kehitam-hitaman..
sebagai tanda betapa dahsyatnya peperangan itu.
ah, koin...
Baca Selengkapnya...

Keheningan yang Menikam

Dengan mata yang sombong kuperhatikan setiap denyut irama di sisi kiri tembok tempatku duduk. Seperti melihat cerita kehidupan sesosok manusia yang terasing, ditoreh lewat rangkaian cerita juga lukisan yang semakin gelap. kata-kata terangkai dalam goresan, juga irama yang tersusun dengan berantakan dan saling bertautan membentuk lukisan wajah di atas alas yang pasrah. Sama saja, masih seperti tahun-tahun yang lalu, sepi memaksaku berimajinasi, dan semakin kuyakini.. lukisanku tak serapi aku memaki.

Di tengah keheningan yang menikam, saat kamar-kamar itu semakin sunyi mencekam akibat ditinggal pergi oleh penghuninya, aku dibangunkan oleh rasa terkejut. Di celah antara tembok dan lantai kamarku, satu tangan manusia terjulur menembus kasur dengan telapak tangan menengadah ke arah mukaku. Sementara jemarinya menjepit rokok kretek yang hampir setengah batang terbakar. Di tengah rasa terkejut  kudengar suara berbisik dari balik tembok : "join..."

Ya.. Tuhan.., haruskah puasaku batal hanya karena rokok setengah batang? Tak adakah yang lebih menarik?


Yk. 23 Juli 2014 
Baca Selengkapnya...

Menatap Gamang

alat produksi pun melayang, mungkin dicuri...
menatap hari bak pecundang...
perut pun tak kenal kompromi...
tatapan mata semakin gamang..
memerah bukan amarah..
aku kehilangan..

lalu,
serangkai cerita menepi tiada berkesudahan..
langkah gemulai jari.. hanya melangkah tak berturut..
aku disudutkan oleh keharusan...
semakin tersudut hingga asa itu hilang...
lengkap sudah,
ah.. serasa tak mampu.. serasa tak bisa..

kuambil catatan lusuh di kantong kiri..
kubuka dan.. ada gerak nadi yang terukir tak rapi..
kusapih hingga ia merepih, dan kalbu pun menjamah lirih..
membelai jiwaku yang semakin ringkih..

Yk, 08 Juli 2014
Baca Selengkapnya...

Untuk Seorang Kawan

Kawan, kemarin ku melintas di jalan yang biasa kau lalui…
pada hari-hari yang dihembuskan kering,
teriknya yang menyengat,
saat serakmu begitu mendahaga pilu.

Tanpa sengaja segala kenang tentangmu bermain di pelupuk mata
ya, senyummu terkembang mangabarkan hari depan yang gilang-gemilang..
kini ragamu tak lagi di sini tapi yakinku,
derap langkahmu masih menggebu dalam jejak-jejak kami..
kini kau hanya berteman sepi..
tapi teriakmu masih lantang memecah sombongnya hari.. congkaknya negeri..
tersemat dalam jiwa-jiwa kami..

Satu pesan yang tersisa..
mulailah.. mari buka mata dan telinga kita
kukuhkan tekad
kepalkan tangan satukan jiwa
rapatkan barisan
demi satu tujuan untuk cemerlangnya hari depan..

10-03-2012
*Untuk Yoko,
dibaca di Taman Budaya Yogyakarta,
acara: DIA YANG TAK KUNJUNG PADAM
Baca Selengkapnya...

lagu: Sang Pembangun

berjalan di terik surya.. seorang lelaki melangkah duka.. bayang derita nestapa.. di-PHK si tuan kaya.. Reff haruskah ini lukamu.. sang pembangun dirobohkan.. haruskah ini dukamu.. sang pekerja tak berdaya.. haruskah ini nasibmu.. sang penafkah yang tak kerja.. haruskah.. oh.. haruskah.. haruskah.. haruskah ini menjadi.. pengantar lelap si tuan kaya.. Karya: Wins Yk, 24 Juni 2013
Baca Selengkapnya...

Menjumpaimu*

kawan, aku ingin menjumpaimu...
hanya sepenggal kisah lalu.. 
di ranah itu, kita berjumpa,
senda dalam cerita.. berdialktika mengolah asa..
di jalan itu,
suara kerontang menggelora.. teriak serak beradu dahaga.. ...
di ruang itu,
kita beradu, berseteru menggebu..
yang kuingat, kita satu.. entahlah..

kawan,
aku ingin menjumpaimu..
mengangkangi jiwa kita..
dengan senda itu, tanpa nafsu jabatan...
dengan gelora itu, tanpa syahwat politik..
dengan gebu itu, tanpa birahi kekuasaan.. -

Yogyakarta, 23 Juni 2013
*Dibaca pada saat Deklarasi Forum Alumni FMN Yogyakarta (23/6/2013)
Baca Selengkapnya...

Rabb, Aku Jatuh Cinta

Benarkah cinta itu seindah kata-kata menyairkannya...
Semanis bibir berucap melantunkannya...
Setegar karang menghadang ombak..
Atau..ya, sekedar rasa yang menjelma tentangku padanya...
Pada seorang wanita yang begitu mempesona..
Entah pesona apa yang kurasa melebihi zahirnya..

Aku tak bisa membohongi jika itu memang ada..
Aku tak bisa memaknai meski kusadari ia bermakna..
Karenanya jualah aku tak bisa mengungkap makna apa..
Karena cinta melebihi dari kata-kata cinta itu sendiri..
Rabb, jangan sesatkan aku untuk selalu bertafakur tentangnya..
Meski aku sadar sulit untuk menghindarinya..

Ajari saja aku untuk memahami likunya..
Aku hanya ingin membagi dengannya..
Tapi, denganMu, biarlah kunikmati sendiri..

Cinta jika harus berbagi..
Berilah sekedar  saja di hatinya.. cukup untuk memahamiku..
Meski dalam sadar pun aku tak memahaminya..

Pangkalpinang, 05-02-2012
Baca Selengkapnya...

Sunyi

Sang sunyi ziarah di perbatasan jaga dan mimpiku..
menemani dalam sendiri merepih durja..
biarlah saat ini kujamu hadirnya..
Di remang yang ini.. dengan senyapnya ia berbisik :
      ..aku tak mungkin setia di sisimu..
      apalagi dengan iramaku yg sepi..
      karena aku tak pernah abadi..
      akulah sunyi..
 
24 Januari 2012
Baca Selengkapnya...

Rasa Itu

Dan kuungkapkan rasa itu dalam bait-bait keraguaan..
walau akhirnya kau tahu..
kepolosanku, ketiadaanku,  kefanaanku, kerapuhanku,
juga rasa takut yang menaungiku..
dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaanku…
bahkan rasa cemburu pada gelap yang merajut setia denganmu…
tapi, kelegaan menyelusup dalam dadaku…
ah, kelegaan itu membuatku larut dalam bingkai penasaran yang kian menggebu..

Biarlah, kumaki sendiri ketololanku…
bukan obsesi atau mimpi…
karena aku masih terjaga…
bukan komedi atau caci..
karena aku masih manusia..
hingga serak merana pilu
biarlah embun melegakan dahagaku..

Entah , mungkinkah rasa ini begitu sederhana..
tapi, mengapa wajah dan namamu kerap bahkan selalu ada
atau memang ia melebihi kata-kata..
bantulah aku untuk memahaminya…,
aku tak kuasa mengungkapnya meski sekedar kata-kata..


Sudikah kiranya, walau rasa tak berbalas…
izinkanku melukis nama juga wajahmu dalam relungku…
sadar, dan aku tahu ini begitu terburu..
maaf, jika aku terlalu mengusikmu..
entahlah.. aku tak tahu rahasianya..
hanya terimakasih sudah menginspirasiku…
aku tak tahu jika hanya sebatas itu…
tapi rapalanku semakin memburu tentangmu…
ah, bahkan aku tak tahu di mana batasannya…tepiannya…
mengalir begitu saja… aku tak begitu cemburu pada waktu..

Ah, walau tak bertepi aku tahu tak harus memiliki…
meski belum kufahami..
ia melebihi dari artinya sendiri..
begitu anggun dari kata anggun itu sendiri…
terlalu angkuh untuk kuungkap di hadapmu…
biarlahku kucari tahu… rasa itu…

28-01-2012
Baca Selengkapnya...

Aku Terpesona

...untuk seorang penari...
terimakasih sudah menghiburku...maaf aku tak kenal namamu..



Kuakui aku terpesona..
saat tatapan kita bertemu,
ya, aku ingat waktu itu…
Ah, ke sekian kalinya kudatangi dirimu,
lagi dan lagi kerlingan matamu terus merayu-rayu..
Dalam remangnya yang menikam aliran darahku,
sesekali sudut mataku mencuri-curi waktu..

Di tengah hingarnya alunan nada yang mengusik,
aku berlari dalam langkah yang tak tentu..
Ingin kunikmati gemulai anggunmu…,
tapi aku tak mampu meski sekedar berucap barang sekata di hadapmu…

Aku tak berdaya,
saat mereka bergelayut mesra di pinggangmu..
dan entah sengaja atau tidak kau pun menatapku…

Masih di remang yang itu…,
sesekali kau menghampiriku,
kita pun bersulang dan kau aliri lagi darahku dengan aroma tubuhmu…,
aku semakin tak berdaya oleh pesonamu...,
mungkinkah ini hanya serasa, atau..
ah,  bahkan dalam diam pun kau sudah membuatku hanyut dalam kepayang yang melenakan,
tanpa harus kureguk.. arak itu sudah mengalir dalam birahiku…

Inginku bercengkrama dan membelaimu…,
tapi apalah daya aku hanyalah pecundang…
dan kau tak perlu tahu siapa aku…
entah apa entah mengapa, aku tak bisa membohongi…
mungkinkah ini semata-mata birahi??
Ya, yang kurasa hanya birahi...

Pangkalpinang, 2012
Baca Selengkapnya...

Kaulah Malam Itu..

Tanpa kesengajaan yang terasa dipaksakan...,
entah Tuhan siapa yang tiba-tiba mengusik  heningku..
yang kurasa mengalir begitu saja...
menari dengan indahnya jemari ini..
di setiap detik yang terketik...untuk syairku malam itu...
nama juga wajahmu kerap bahkan selalu hadir di pelupukku...

Aku tak tahu pesona apa yang ada di dirimu...
hingga ragaku pun tak juga terlalap seiring  pagi yang  tersengal menghembuskan embunnya...
di tengah sunyi yang kerap berbisik sepi...
yang kurasa aku hanyalahi mentari senja  yag kehilangan mega jingganya...
aku tak berdaya...

Tapi, seiring keangkuhan yang seperti meraba dalam gulita...
tak juga aku tahu.. ada apa ini..??
Mengapa dengan diriku??
Atau memang benar kaulah yang t’lah merenggut  lelapku..
yang selama ini selalu kudekap dalam dalam syair-syair konyolku..

Ah, aku yakin kaulah ‘malam’ itu...
kaulah nama yang mecoba bersemayam di relungku..
maaf, jika teriakku hanya menakutimu...
karena yang kurasa aku hanyalah pecundang di tatapmu...
tak pantaslah jika aku mengharap pesonamu...
ataukah sang malam kembali membisu...
dan larut  kian menjemput....
sunyi...

27-01-2012
Baca Selengkapnya...

Sepenggal Cinta untuk Malam

...untuk malam yang dengan teganya merenggut matahariku

Bumi pun bergelayutan dalam sunyi..
tapi masih kunikmati heningnya dalam jaga yang menyepi..

Hingga dengan penuh sadar aku mengungkap kata cinta...,
tak muluk dan tak ‘wah’ apa yang sedang kurasa,
ia tiba-tiba menjelma dalam keterjagaanku yang kujaga dari semilir angin yang melanakan lelapku,
tak semulia cintanya Muhammad pada umatnya,
tak sebesar cintanya Rabiah pada Sang Khalik,
tak seteguh cintanya Aidit pada ideologinya,
atau tak serakus cintanya  Soeharto pada Hartanya..
bahkan tak seindah lagu Acha dengan makna cintanya..,
apalagi bersendawa ala  Erich Fromm..:
‘tanpa cinta rasa kemanusiaan hari ini bagai tiada’

Bukan, bukan itu... 
sederhana saja..
ini cinta antara diriku dan dirimu...
ini cinta antara aku dan kau..

Tapi bukan Cinta sekedar nasalasi dari cita
Ia bukan isyarat dari gestur atau suara,
hingga harus kucari fonem dari ‘cin’dan ‘ta’
Sederhana saja,


kutanya benarkah aku jatuh cinta, atau..
ah, bahkan dalam kesendirian pun terkadang aku meragukannya...
entah, jika benar aku masih bertanya..
mungkinkah benar kaulah sang malam itu...
yang tiba-tiba menjelma mengganggu semayamku,
merapatkan kembali repihan kalbuku

Sadarku  saat kubuka lembaran memori yang t’lah usang,
saat aku merasakan hal serupa...
~~ kusematkan alunan kata dalam diamnya yang  kusebut puisi...
hingga lahir berpinak puisi itu,
dan asa yang menggebu memunculkan cemburu juga rindu...
tapi aku tak mampu mengungkapkan rasaku... 
yang akhirnya hanya menyisakan cerita saja...
jadi lelucon pengganggu hari-hariku.

Tapi denganmu...
mungkinkah akan berulang seperti sediakala?
Mungkinkah hidupku yang terasa hampa.
dapat mengembalikan segala yang pernah terlupa?

Dengan lancangnya kuungkap jua..
aku benar-benar tak sanggup merayumu..
tak kuasa menahan gemuruh luruh di kalbu..
menggelora dalam getar di dada
aku hanya bisa berbisik di riuhnya ombak...
sekian lama, atau harus berapa lama lagi aku tak tahu...
bahkan nyali yang coba kuikat agar tak terlepas dari genggamanku...
tanpa kau melihatnya, terberai... begitu saja...

entah, bila kau memang malamku,
aku tak mampu membayangkan hadirnya sang pagi
tak sadar bila dini hari kian menepi...
Tapi masih saja rapalanku tentang cinta serupa lantunan do’a..
karenanya jualah cinta tak mengenal siang dan malam, tidur atau jaga..

Kau adalah temanku,
dan aku tahu kau juga teman kawanku...
dengan sadar kau juga tahu tingkah polahku.. 
ceritaku..
keterbelakanganku akan kata-kata rindu

Tapi, mungkinkah kau tahu,
dalam sandiwaraku aku memendam pilu...
ungkapan rindu yang terasa tabu...
aku tak mampu mengungkap cinta di hadapanmu,
dalam canda pun aku tak mampu.
biarlah cinta saja yang memaknai cinta...
aku berharap ragamu mampu menuntun jiwamu untuk memahamiku...
akan kefanaanku..
biarlah kusempurnakan pejamku.



wins
-Pangkalpinang, 27-01-2012
Baca Selengkapnya...

Sepenggal Cinta Sederhana

Bumi pun bergelayutan dalam sunyi..
tapi masih ku nikmati heningnya dalam jaga yang menyepi..
masih kucumbui cinta yang tak bertepi..
malam pun merangkak hingga ke peraduannya yang sepi..
masih juga aku berceloteh tentang cinta hingga dini hari

Mungkinkah hidupku yang terasa hampa..
dapat mengembalikan segala yang pernah terlupa?
Tapi masih saja rapalanku tentang cinta serupa lantunan do’a..
karenanya jualah cinta tak mengenal siang dan malam, tidur atau jaga..


Saat kau masih terpesona dalam jaga dan mimpimu..
sempurnakanlah pejammu itu..
akan kau dapati tanganku terulur di balik selimut malammu..
sekalipun itu di mimpi burukmu...
aku akan hadir di situ menepis keraguanmu..
karena kaulah cinta itu..
dan cinta pun mampu merapikan segalanya dari dosa juga sepi yang membisu

Bila malam menyempurnakan kesucianmu...
segalanya terasa paripurna..
maka, anjakkanlah keanggunanmu..
dan kau akan menjumpaiku dengan seonggok kisah basi..
sepenggal cinta sederhana sepanjang malam dan pagi harimu

Yogyakarta, 1 November 2011
Baca Selengkapnya...

Maaf, Kau Harus Pergi

Kawan...
pongah, kau menantang menerjang...
bak pejuang yang terus berteriak lantang...
seakan serak memilu takkan penah bertandang...
kau lumat habis kisah yang kau ukir, hingga asa itu menghilang...

aku tahu kejenuhan kerap menghampiri...
kegalauan kadang kala terselip dalam sepi...
pada akhirnya, kau nikmati lagu kegelisahan hati...

kau kini sendiri...
terkulai lemas tak bernyanyi...
bahkan sang penyanyi pun tak sudi menghampiri...

maaf, bukan aku tak peduli...
yang kurasa aku telah kehilanganmu, sahabat yang sangat kukagumi...
sekali lagi maaf, aku tak pernah berharap kau kembali lagi...
tak mungkin bagiku berteman dengan orang suci...
atau berceloteh ria dengan manusia yang sangat berbakat jadi nabi...

Yogyakarta, 26 Oktober 2011
Baca Selengkapnya...

Auramu Makin Pudar

Dulu…bersamamu kunikmati pesonamu
Melintasi hempasan angin yang beriring menerpa ragu
namun kini..yang kurasa semua menjadi tiada, terhapus di benakku

Ribuan makna yang mengendap dalam segala waktu
Hinggap dalam nyanyian rindu yang menggebu
Tapi semua bagai angin lalu..
Tak lagi bisa kuraba, kurasa,  semua yang kujamah terasa kosong..

Ragu aku mengharapmu…, hingga asa yang tertumpah menemui tetes penghabisannya…..
Entah…tiba-tiba aku enggan mengumbar rindu..
Tiba-tiba aku ingin berhenti mencintaimu…
Mungkinkah karena sikapmu yang makin lama tak lagi membiusku
Perlahan menghilang di balik dusta

Auramu semakin memudar karena sikapmu sendiri....
Meski kurasa tatap matamu yang semakin sendu kerap menghampiri
Tapi tetap tak mampu menguatkan keyakinanku sendiri
Dalam diammu yang bisu, semakin membuatku sepi
Ah, Aku lebih baik pergi.....

Maaf, aku bukan pemuja rahasiamu..
Apalagi berniat memata-mataimu..
Namun.., ah itu masa lalu...
Yang kurasa rindu itu...Terhempas begitu saja..

Yogyakarta, 21 Juli 2011
Baca Selengkapnya...

Puisi Ramadhan

RamadhanMU

Rabbku…,
Aku bersyukur Kau masih mengizinkanku hadir di RamadhanMu…
kini aku berhasrat ada di dekapannya  yang tak kusampaikan di waktu lalu..
Walau sejenak, ingin  kunikmati setiap tetes embunMu  di tengah dahagaku..
Dan kubalut tubuhku dengan harmoni cintaMu..
Hingga yakin  kutemukan Ramadhanku..

Tapi, aku masih bertanya-tanya…
Mungkinkah Ramadhanku bisa   mengartikan cintaku..?
Saat di lain waktu aku tak dapat meluangkan rasa cintaku…
Saat di lain tampat aku hanya berceloteh ria dengan nyanyianku..
Memaki, mencaci.., hingga terlontak keangkuhan dalam jiwaku…
Dan  nyanyian-nyanyian yang menjemukan masih bersemayam di relungku…
Seakan mengumbar  rindu tapi yang kurasa tabu…

Ramadhan yang  kueja lewat penaku..
Menghadirkan diriku dalam kosong hampa tanpa ruang..
Hingga syair-syair berkeliaran timbul tenggelam melalui celah gemulai langkah jemariku,
Merona, tak sadar aku telah kasmaran dalam cintaMu

Rabbku,
Aku tak ingin mengumbar ragu di sini…
Ingin kujamah keanggunan RamadhanMu..
Entah, mungkin kehadiranku dalam RamadhanMu  tak sekedar kisah..
Sesaat saja Kau pasti menjemputku hingga ronaku itu meredup..
Lelap..

Yogyakarta, 10 Juli 2011
Baca Selengkapnya...

Hidangkan Aku Kopi

saat gitarku tak mampu lagi mengiringi sayatan gemulainya nyanyianmu....
di masa  detik yang terketik untuk syairku terdengar picisan oleh senandungmu....
selagi  tubuhku tergeletak dalam layu dan sosok gersang ...sedang mataku terkulai dalam lagu dan kata usang....
hingga mulutku bungkam tak mampu lagi bersuara....
hidangkan aku kopi, sebagai penambah sempurnanya gatal tenggorokan yang serak mendahaga pilu...
benyanyilah semaumu..,
tapi jangan lupa..  hidangkanlah kopi itu... sementara aku beli rokok dulu

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Baca Selengkapnya...

Perbatasan

Di sana aku menjumpamu...
Di sana juga aku pernah melepasmu..,
Saat jiwa-jiwa yang bisu berbisik di telinga kiriku,
tak urung aku pun meninggalkanmu

Di perbatasan antara jaga dan mimpi...
Suara mendayumu mengajakku berlari-lari dalam bayangan masa lalu..
Masa aku masih memujimu..., saat murkamu serasa lecutan cambuk di otakku..
Hingga ke masa aku memakimu..., saat candamu masih tak menyadarkan kefanaanku..
Ya, antara puji dan maki..

Di waktu yang masih jauh dari petang ini, aku ingin selalu bersamamu..
Ingin kucumbu setiap jengkal keanggunanmu..,
Ingin kuraih dan kugenggam erat cintamu....,
Ingin kureguk setiap tetes embunmu..
Ingin kurasa nikmatnya belaianmu..
Ingin ku...

Di perbatasan sengal nafasku, antara hidup dan matiku..
aku ingin tetap dalam dekapanmu...
Rengkuh jiwaku selalu...
Hingga belaian sang bayu melenakan lelapku....

Rabbku...
Jangan batasi aku untuk mejamah kemesraanMu..

... saat fajar masih bertahan diri, di tengah kunanti mentari..
Yogyakarta, 30 Mei 2011

Baca Selengkapnya...

Benarkah Kau Kawanku

Kawan.., kaulah nikotin yang merampas oksigenku dari kelebatan waktu...
hingga nafasku timbul tenggelam dalam lautan masa ke segala penjuru..
menyisakan racun yang bersekutu di dadaku..

Kawan.., kaulah arak yang merenggut tubuhku dari malam ke lain malam hingga berlalu... hingga dalam lenanya yang memabukkan...
merapuhkan tubuhku di segala dunia yang membisu...

Kawan.., kaulah ruang tempatku bercengkrama memuntahkan luapanku....,
hingga cacian murka dari sendawa kita yang menyempitkan gerakku..
membatasi jarakku..
memaki keyakinanku...

Dengan bangganya kusebut.. kau penjernih fikiranku...
Dengan angkuhnya kuteriakkan.. kau penawar dahagaku...
Dengan syahdunya kubisikkan.. kau pelampiasan birahiku...

Tapi, aku tak sanggup telanjang di hadapanmu...

Yogyakarta, 27 Mei 2011
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah