Tampilkan postingan dengan label puisi jalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi jalanan. Tampilkan semua postingan

Senandung Dengkur

Di tengah lelapnya malam...
Seirama lolongan anjing yang meredup redam...
Diantara rintihan keangkuhan yang menikam...
Menyayat senandungmu dalam dengkur yang kian mencekam..

Di alasmu yang bau dan berdebu...
Kau masih bisa bersenandung dengan iramamu...
Sementara nyanyianmu serasa rintihan dalam tawa kelakar yang menderu..
Bisingnya yang berlalu kian mengganggu lagumu...

Nyamuk-nyamuk sial kini mengakrab denganmu...
Nyanyian mereka yang bermain di telingamu seibarat nada penghiburmu...
Tubuhmu seakan santapan lezat mereka yang semakin tumbuh subur di genangan comberan dan gunungan sampah yang membau...

Senada tangisan yang mengalun di antara angin yang perlahan menyusut.....

Segala irama bagai meredup dan mengendap dalam gelap....
kau masih bersenandung...
Alam raya terkesima dan seketika bungkam...

Kudengar senandungmu kawan...


Dini hari di sudut kota
Yogyakarta, 8 Mei 2010
Baca Selengkapnya...

Senandung Sederhana

temaram lampu jalanan beradu dengan cahaya rembulan. Menyinar mereka ke segala penjuru. Di perempatan jalan bocah tak beralas kaki itu bersenandung. Entah rintihan entah jeritan serak dari kerongkongan. Mengharu iba tatapan matanya.
kendaraan berhenti ia pun bernyanyi beradu dengan suara kendaraan.....
rautnya tak bersenyum.....menengadah tangannya berharap ia kepingan recehan dari pengendara. ......seorang pengendara memberikan selembar uang ribuan.... ia tersenyum..... seribukah harga senyuman itu....... esok tersenyumkah.........
duduk bocah itu di bawah lampu penerang jalan di samping pos polisi........
ah... Jalanan mulai sepi.. sudah larut malam..

Yk. 8 Mei 2010
Baca Selengkapnya...

Senandung Dengkur

Di tengah lelapnya malam...
Seirama lolongan anjing yang meredup redam...
Di antara rintihan keangkuhan yang menikam...
Menyayat senandungmu dalam dengkur yang kian mencekam..

Di alasmu yang bau dan berdebu...
Kau masih bisa bersenandung dengan iramamu...
Sementara nyanyianmu serasa rintihan dalam tawa kelakar yang menderu..
Bisingnya yang berlalu kian mengganggu lagumu...

Nyamuk-nyamuk sial kini mengakrab denganmu...
Nyanyian mereka yang bermain di telingamu seibarat nada penghiburmu...
Tubuhmu seakan santapan lezat mereka yang semakin tumbuh subur di genangan comberan dan gunungan sampah yang membau...

Senada tangisan yang mengalun di antara angin yang perlahan menyusut.....

Segala irama bagai meredup dan mengendap dalam gelap....
kau masih bersenandung...
Alam raya terkesima dan seketika bungkam...

Kudengar senandungmu kawan...


Dini hari di sudut kota
Yogyakarta, 8 Mei 2010
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah