hmm.. dirgahayu


Hari ini, di hari ulang tahunku.. Akhirnya kurayakan bersama 3 orang teman.. Hmm kami berdiskusi tentang masa lalu, bukan romantisme.. Tapi memang benar-benar masa lalu, yang pada kenyataannya tak bisa dipungkiri baik buruknya adalah hal yang sudah terjadi..

Ah, perayaan yang memang tak direncanakan.. Dan sialnya, aku tak pernah merayakan ultahku dengan orang yang benar-benar kucintai.. Sungguh.. Tapi setidaknya aku pernah merayakan ultah orang yang kucintai.. Ya, berdua saja dengannya.. Tak mungkin kulupa saat itu.

Aku tak benar-benar tahu.. Apakah aku bisa melupakan masa lalu. Ah, waktu terasa semakin berat tanpa adanya dia di sisiku, tapi bisa saja waktulah yang akan memberi jawab.

Dan perayaan pun diakhiri dengan rujakan..
Di emperan masjid,  di sela hembusan angin dan dingin malam yang silih singgah menghampiri..

Ah, biarlah kunikmati hari-hari..

6 September 2017
Baca Selengkapnya...

Aku Harus Pergi




Sejak aku kembali ke sini..
Hanya rasa sakit yang menyambangi..
Ya, entahlah.. Hingga kini rasa sakit itu tak juga berkurang..

Ya Rabb.. Kenapa anugerah cinta yang kau berikan.. Hanya memberi rasa sakit.. Yang tak kunjung hilang..

Ah, luka yang kudapati.. Hanya semakin membuat hati ini kian merana...
Kenapa kau tak bisa bicara.. Ya, jujur apa adanya.. Bahkan setelah tak lagi bersama pun kau masih mengingkari..
Hmm.. Ya, basa basi..

Waktu yang kulalui terasa begitu berat...
Bahkan kau pun seperti tak sudi lagi menemui.. Aku tau, kau ada waktu untuk bertemu.. Tapi.. Ah, mungkin rindumu sudah benar-benar basi..
Sungguh, Sakit.. Yang Bertubi-tubi..

Mungkin yang terakhir kali..
Aku ingin bertemu denganmu.. Menatap wajahmu...
Mungkin akan menjadi penawar rindu dan dan luka di hatiku..
Tapi, kau mungkin berat hati..
Kau menghindari..

Ah, sudahlah..
Kita mungkin tak perlu bertemu lagi.. Biarkan kucari sendiri penawar rasa sakitku ini..
Biarkan aku pergi.. Agar tak membebani..
Sudah seharusnya aku pergi..
Mungkin laut akan benar-benar bisa setidaknya mengurangi rasa sakitku..
..
Ah, aku tak begitu berharap kau kembali padaku.. Toh kau sudah ada pengganti..
Dan waktu sudah menjawab segala dugaku..
Ketidakjujuranmulah yang benar-benar membuatku terluka..

Aku hanya berharap buatmu..
Dia benar-benar yang terakhir kali.. Setialah dengan pilihanmu.. Tak perlu kau berlari lagi..  jujurlah pada nurani sendiri... bersiaplah dengan segala apa yang mungkin terjadi.. Jangan menghindar lagi..

Ya, kau harus bahagia dan setia dengannya..harus..

Dan sudah seharusnya aku tak meratapi diri..
Karenanya...
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..
Aku harus pergi..

Aku harus pergi sebelum kau benar-benar permisi..

Yogyakarta, 19 Agustus 2017
Baca Selengkapnya...

Lagu : Tikus Berpesta

kemiskinan dipelihara
diskriminasi rakyat jelata
sesuap nasi demi perutnya
semakin hari makin sengsara

   korupsi merajalela
   kongkalingkong di mana-mana
   korupsi makin menggila
   tikus-tikus berpesta-pora

   korupsi merajalela
   nyanyian sumbang di pintu istana
   dana siluman bergentayangan
   mengangkangi moral penguasa

yang kaya semakin rakus
yang miskin bertambah kurus
ketimpangan semakin nyata
sejahtera hanya cerita

   korupsi merajalela
   rakyat kecil dirampas haknya
   korupsi makin menggila
   sang jelata hilang nafkahnya

   korupsi di mana-mana
   para binatang berpesta-pora
   jangan tutup mata telinga
   rakyat murka kau kan binasa

Baca Selengkapnya...

Lagu : REZIM BONEKA

Tanah dirampas
upah dipangkas
pendidikan dan kerja
tinggallah cita-cita

jutaan rakyat
hidup sengsara
hidup sejahtera
tak kunjung nyata

ini ulah siapa
ulah rezim boneka
ini kerja siapa
kerja rezim boneka

rezim boneka
adalah sumber derita
rezim boneka
hanya ciptakan sengsara

rezim boneka
musuh kita semua
rezim boneka
kita lawan bersama

sok nasionalis
antek imperialis
di waktu krisis
semakin fasis

manis berjanji
tak ada bukti
terus membodohi
tiada henti

ini ulah siapa
ulah rezim boneka
ini kerja siapa
kerja rezim boneka

rezim boneka
adalah sumber derita
rezim boneka
hanya ciptakan sengsara

rezim boneka
musuh kita semua
rezim boneka
kita lawan bersama
Baca Selengkapnya...

Membual Basi

Mengapa kita masih saja
Berceloteh membual basi
Tentang demokrasi
Tentang eloknya negeri

Dengan bangga bercerita
Negeri ini kaya-raya
Tanah ini tanah surge
Rakyat hidup sejahtera

Ho.. ho.. hoo…
Ho.. ho.. hoo…

Kudengar jerit di sana
Jerit luka sang jelata
Di sela gemulai tawa
Meriah pesta penguasa
Masihkah membual saja
Melihat segala penindasan
marilah kita bangkit melawan
lontarkan suara perlawanan

Cipt: Wins
Baca Selengkapnya...

Perut Buncit

Hei, perut buncit
Menghisap darah rakyat
Berdalih mengentaskan kemiskinan
Rakyat celaka karena ulahnya


Hei, orang pintar
Di sana-sini kau berkoar
Tapi ternyata kelakuanmu makar
Kebijakanmu tak pernah benar
Rakyat pun semakin lapar

Reff:
Hooo.. matamu hijau berkilau-kilau
Bila melihat dana segar terhampar
Hooo.. matamu buta semakin gulita
Bila melihat derita sang jelata

Cipt:  Dipay, Wins, Ajee, Wans
Baca Selengkapnya...

Jurang Ketimpangan

Jerit derita terdengar di sini
Di negeri tercinta ini
Hamparan duka terlihat di sini
Di tanah bumi pertiwi

Pengusaha semakin merajalela
merampas tanah rakyat jelata
Penguasa tergelak dibuai kemewahan
Rakyat merangkak di jurang ketimpangan


Ini terjadi di di sini
Di negeri yang lestari
Ini terjadi di negeri ini
Yang katanya demokrasi

Kekayaannya habis dimonopoli
Kemiskinan semakin menjadi-jadi
Haruskah ini terus terjadi
Terjajah di negeri sendiri

kawan ayo satukan diri
Penindasan harus diakhiri

Bersatu, bangkit dan melawan
Hapuskan segala penindasan
Berjuang adalah keharusan
Perubahan itu keniscayaan

Cipt: Wins
Baca Selengkapnya...

Di Persimpangan Jalan

'ini gimana bro, lurus atau belok kiri?' tanya temanku yang kebetulan seperjalanan.
'emangnya kenapa'? aku balik tanya.
'kalau ke kiri jalan terus, kalau lurus lampu merah' ujarnya menjelaskan.
sementara tak jauh dari kami terlihat seorang bocah tengah berteriak-teriak beradu dengan bisingnya kendaraan, entah apa yang disenandungkannya. aku pun tak segera menimpali ucapan temanku tadi.
'jadi, gimana, kiri, kanan, lurus.. atau ada tawaran lain, mungkin jalan alternatif gitu?' lanjut temanku tadi.
'ah, yang kusadari bukankah saat ini kita sedang berjalan kaki,' ujarku.
Baca Selengkapnya...
 

Copyright © sastra bocah lali omah